SABTU, 12 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA---Untuk pertama kalinya,  Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta menggelar jambore difabel bidang seni dan budaya, Sabtu (12/11/2016). Lebih dari 20 komunitas dan lembaga penggiat difabel turut serta dalam jambore difabel yang diharapkan semakin memicu semangat para difabel dalam berkarya dan mandiri.


Jambore Difabel Istimewa digelar di Gedung Museum Sonobudoyo Kota Yogyakarta, menampilkan beragam hasil karya para difabel yang ada di DI Yogyakarta, meliputi seni lukis, patung, batik dan beragam kesenian tradisional seperti Tari Angguk, Wayang Orang Bambong dan banyak lagi.

Gelar jambore tingkat provinsi itu diadakan sebagai upaya memberikan apresiasi dan ruang ekspresi bagi kaum difabel yang kreatif dan mandiri. Lebih dari 120 karya meliputi lukisan, patung dan batik dipamerkan dalam jambore yang akan berlangsung dua hari tersebut.


Kepala Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta, Umar Priyono mengatakan, aspek kesetaraan menjadi sangat penting, terlebih bagi para difabel dengan segala keterbatasannya, yang diharapkan akan semakin bersemangat mengembangkan kemampuannya ketika hasil karya mereka dilihat dan dihargai.

"Jambore difabel ini sebenarnya merupakan puncak kegiatan-kegiatan serupa yang diadakan sebelumnya yang tidak bisa mengakomodasi semuanya. Maka, diadakan jambore ini agar semua potensi difabel bisa terwadahi", jelasnya.


Tak hanya memamerkan produk seni seperti patung, topeng, lukisan dan batik, sejumlah kesenian daerah yang ada di empat kabupaten di DI Yogyakarta juga dipentaskan. Kendati dimainkan oleh para difabel, berbagai kesenian seperti tarian khas dari Kabupaten Kulonprogo, yaitu Tari Angguk, dan Kesenian Wayang Orang Bambong dari Gunungkidul, mampu menarik perhatian para pengunjung.

Tari Angguk dari Kulonprogo dibawakan oleh siswi Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Kulonprogo, yang terdiri dari siswi tuna rungu dan tuna graita. Kendati tuna rungu, mereka bisa menari mengikuti ketukan irama dengan lincah.


Salah satu penari Angguk penyandang tuna graita, Chatarina Erni Astuti (17), mengaku sudah sejak Sekolah Dasar menyukai Angguk karena musiknya yang gembira dan gerakannya yang dirasa menyenangkan. Siswi difabel yang kini duduk di bangku kelas 1 Sekolah Menengah Atas dan bercita-cita menjadi penari itu berharap, kegiatan serupa lebih sering diadakan. 

Senada dengan harapan itu, Ketua Penyelenggara Jambore, Guntur Prabawanto mengatakan, jambore sebagai wadah berekspresi dan unjuk potensi para difabel yang baru sekali ini diadakan akan terus dikembangkan lagi. Menurutnya, potensi seni dan budaya para difabel di Yogyakarta sangat besar, sehingga perlu diberikan ruang dan penghargaan.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: