JUMAT 18 NOVEMBER 2016
 

PAPUA---Gereja Katolik berdiri di Tanah Papua pada 15 November 1966 silam dengan ditandai dengan resminya Mgr. Rudolf Staverman, OFM menjadi Uskup Keuskupan Sukarnopura  (kini-Keuskupan Jayapura). 
Sebelum itu para misionaris dari Belanda telah menyebarkanluaskan injil dari Maluku hingga Irian Barat (Irian Jaya, kini Papua) sejak tahun 1937 hingga tahun 1966 melalui perjanjian ‘ius commussionis’ dari tahta suci Vatikan. 


Indrayadi T Hatta.

Awalnya, daerah selatan Papua diserahkan kepada Konggregasi Misi Hati Kudus Yesus (MSC), daerah kepala burung Papua diserahkan kepada Konggregasi St. Agustinus (OSA) dan daerah utara Hollandia hingga pegunungan Papua diserahkan kepada Konggregasi Misi Fransiskan (OFM). 


Sejak keuskupan Jayapura resmi berdiri, misionaris  Mgr. Rudolf Staverman, OFM dipercaya sebagai Uskup untuk pertama kali tahun 1966, membangun berbagai bengkel misi, pertukangan, layanan pesawat, pertanian, peternakan, kesehatan dan pendidikan atas bantuan misi Eropa.

Uskup Keuskupan Jayapura yang ke dua seorang misionaris  Mgr. Herman Munninghoff, OFM yang diangkat pada 1972 menggantikan Uskup Staverman melanjutkan karya sebelunnya yaitu perjalanan ziarah gereja yang madiri dalam hal tenaga pastoral, hingga sosial-ekonomi. 
Uskup Herman mulai membangkitkan semangat gereja Katolik saat itu dengan prinsip gereja bukanlah gedung melainkan ‘gereja adalah persekutuan’ atau saat itu dikenal dengan euvoria ‘kita adalah persekutuan' dan alasan kesehatan, Uskup Herman harus beristirahat di Belanda dengan gelar Uskup adalah seumur maka beliau dipanggil dengan Uskup ‘Emeritus’ Herman, OFM.

Tahta Suci Vatikan melihat gereja lokal Keuskupan Jayapura yang bertumbuh, maka menunjuk orang Indonesia menjadi Uskup ke tiga yaitu Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM sejak 1997 melanjutkan karya Uskup Herman. Uskup Leo L. Ladjar, OFM bersama umat Katolik Keuskupan Jayapura membangkitkan semangat kemandirian dengan merencanakan, bekerja, hingga evaluasi secara bersama-sama, tidak hanya dilakukan oleh kaum religus saja, tetapi seluruh umat terlibat.

Orang Muda Katolik (OMK) dan Komunitas Basis (Kombas) dipercaya mampu menjalankan berbagai misi gereja Katolik Keuskupan Jayapura saat ini yaitu  membangun persekutuan tanpa meninggalkan corak khas Papua, menginjili di semua aspek, dialog antar agama demi kebaikan bersama, hingga menyelenggarakan keuangan yang sehat.Tentunya semangat kemandirian ini terus direfleksikan setiap saat agar umat Katolik di Keuskupan Jayapura bisa mandiri.

Para misionaris dari Eropa telah mengajarkan misi Kristus di Tanah Papua, semangat inilah yang terus didorong oleh Gereja Katolik Keuskupan Jayapura agar umatnya. menjadi missionaris bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan tanah air. 
Apabila kita tarik satu benang merah dari masa lalu ke masa depan, maka umat Katolik menggelar berbagai kegiatan menandai berdirinya 50 Tahun Keuskupan Jayapura.

Keuskupan Jayapura sendiri terdiri dari 27 Paroki yang tersebar di Kota Jayapura, Sentani, Keerom, Pegunungan Tengah dan Pegunungan Bintang.

Jurnalis : Indrayadi T Hatta/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Indrayadi T. Hatta
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: