RABU 9 NOVEMBER 2016

JAYAPURA---Pertumbuhan ekonomi Papua triwulan IV-2016 naik sebesar 7,4 hingga 7,9 persen. Hal ini diproyeksikan Bank Indonesia sesuai hasil dari kajian ekonomi dan keuangan regional provinsi Papua.

Kepala BI Perwakilan Provinsi Papua Joko Supratikto.
“Selama mengalami kontraksi yang dalam selama semester I-2016 akibat adanya kendala produksi pada salah satu perusahaan tambang dominan di Papua, kinerja pertambangan pada paruh kedua 2016 diperkirakan akan mengalami peningkatan,” kata Kepala BI Perwakilan Provinsi Papua, Joko Supratikto, Rabu (9/11/2016).

Untuk triwulan IV-2016, lanjut Joko, pengaruh siklus musiman Natal dan tahun baruserta realisasi berbagai proyek diperkirakan menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi pemerintahan. Sementara dari sisi lapangan usaha, kategori pertambangan akan kembali menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Papua di paruh kedua 2016.

“Asesmen memperkirakan setidaknya terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi kinerja pertambangan, yaitu produksi yang kembali normal dan proses perpanjangan izin ekspor konsentrat komoditas tambang,” tuturnya.

Ditambahkannya, dari sisi penggunaan komponen konsumsi pada triwulan IV-2016 diperkirakan mengalami kenaikan yang terutama didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga. Hasil survei konsumen tersebut BI turut memperkuat tendensi tersebut, dimana indeks ekspektasi konsumen dan perkiraan pengeluaran dalam jangka pendek berada di level yang relatif tinggi.

Sementara dari sisi konsumsi pemerintah, pemotongan anggaran APBN sebesar Rp50 triliun diperkirakan tak berikan pengaruh signifikan dalam penyerapan belanja pemerintah karena efisiensi anggaran dialokasikan pada pelaksanaan pekerjaan yang bersifat nonstrategis belanja perjalanan dinas dan paket meeting, langganan daya dan jasa honorarium tim/kegiatan, biaya rapat, iklan dan operasional perkantoran lainnya.

“Jadi sesuai dengan polanya, realisasi pembangunan proyek diperkirakan tetap mengalami peningkatan pada triwulan IV-2016,” ditegaskan kembali oleh Joko.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong peningkatan pertumbuhan konsumsi secara keseluruhan di triwulan IV-2016 yang diperkirakan berada dikisaran 7,5 hingga 8,5 persen atau untuk keseluruhan mencapai 6,5 hingga 7,5 persen.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Indrayaid Tata

Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: