KAMIS 3 NOVEMBER 2016

BERITA FOTO LAMPUNG---Air terjun dan aliran air deras menjadi anugerah bagi masyarakat perbukitan di Kecamatan Bandar Negeri Suoh, Bandaragung Kabupaten Lampung Barat. Masyarakat menyebut  air terjun perbukitan dan pegunungan tersebut sebagai batu bara putih. 

Bendungan kecil digunakan untuk mencegat air


Ribuan warga bergantung pada sumber energi listrik terbarukan dengan memanfaatkan energi dari air terjun dan aliran air yang dibuat sedemikian rupa untuk menggerakkan turbin. Bendungan bendungan kecil yang digunakan untuk mencegat air dan mengalirkannya ke mesin turbin menjadi pemandangan di setiap sungai yang sebagian mengalir di bukit bukit curam, terjal dan tebing tebing.

Sungai sungai kecil sepanjang 5 kilometer bisa menjadi tempat bagi ratusan pembangkit listrik mini tenaga air yang digerakkan dengan mesin turbin. Batu bara putih yang memberi sumber energi bagi sebagian masyarakat yang belum menikmati sumber energi listrik dari PLN tersebut akibat akses yang sulit dan berada di pedalaman.

Sungai sungai besar dengan aliran air deras saat musim penghujan dihubungkan hanya dengan jembatan jembatan gantung sebagai akses masyarakat. Keterbatasan energi membuat energi listrik dari sumber pembangkit turbin sebagian dimanfaatkan hanya pada malam hari untuk penerangan dan menyalakan alat elektronik. Sebagian disimpan dalam bentuk energi lain yang disimpan dalam accu.

Batu bara putih yang mulai dikenal masyarakat Suoh digunakan selama berpuluh puluh tahun dengan sistem kolektif dalam hal penyiapan instalasi, perawatan dan bahkan dalam membayar iuran untuk biaya operasional. Potensi yang dimanfaatkan masyarakat dalam penggunaan energi listrik terbarukan tersebut sejalan dengan kondisi alam yang masih menyediakan pasokan air dengan debit yang cukup kuat.

Keseimbangan akan pasokan air tersebut masih terjaga dengan banyaknya hutan yang masih alami dan larangan penebangan pohon yang bisa menjadi penangkap air saat musim hujan dan masih tersedia saat musim kemarau.

Kearifan yang berpadu dengan kontur perbukitan, rumah rumah berkonstruksi kayu, rumah panggung dengan sistem penerangan cukup sederhana dari alam. Menjaga keharmonisan dengan alam merupakan keharusan untuk memperoleh energi terbarukan yang menjadi sumber bagi hajat hidup masyarakat yang menggantungkan diri dari sektor perkebunan pala,kopi, cengkih dan sebagian bertani padi.

Pasokan air yang dari hulu ke hilir tak pernah terbuang percuma, digunakan sebagai sumber air minum, sumber air pembangkit turbin dan mengalir melalui saluran irigasi untuk pengairan lahan pertanian. Kedekatan dengan alam dan pemanfaatan batu bara putih yang kembali ke alam untuk keberlangsungan hidup masyarakat di pedalaman Lampung Barat tersebut.

Sumber energi terbarukan yang dimanfataatkan dominan pada malam hari pun masih dengan daya yang terbatas akibat sumber penggerak yang masih sederhana. Siang hari kesibukan masyarakat di ladang, sawah dan lahan lahan pertanian membuat penggunaan energi listrik masih terbatas.

Perkampungan yang ada di lereng lereng bukit, lembah dan sebagian di sepanjang aliran sungai akan tampak menyala terang saat malam hari meski hanya bersumber dari anugerah batu bara putih yang dianugerahkan bagi masyarakat lampung Barat terutama di Suoh.



Tenaga air yang digerakkan dengan mesin turbin.



Petugas memonitor.

Penerangan sederhana di sebuah rumah warga.


Pasokan air yang dari hulu ke hilir tiada henti.


Rumah panggung warga.


Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: