SELASA, 29 NOVEMBER 2016
BALI---Penjualan properti di Pulau Bali pada tahun depan diperkirakan membai‎k seiring keluarnya sejumlah kebijakan pusat seperti kelonggaran loan to value (LTV) dan penurunan suku bunga acuan (BI Rate).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali, Iman Causa Karana memperkirakan mulai awal tahun, penjualan properti jenis rumah tapak sekunder atau rumah bekas akan semakin meningkat.

"Dari survei yang kami lakukan, rumah sekunder lebih laku. Kenapa rumah sekunder menarik, karena ada peningkatan harga. Kalau primer mungkin harganya sudah tinggi," jelasnya dalam diskusi media bersama perbankan dan pengembang di Ayucious, Selasa (29/11/2016).

Sebuah forum yang memberikan perspektif jika kebijakan diperlonggar maka bisnis properti di Bali akan menggeliat. 
Menurutnya, yang harus diantisipasi dengan prediksi peningkatan tersebut adalah ketersediaan atau supply untuk masyarakat yang tahun depan akan mulai membeli properti. Dia menyakini kelonggaran uang muka kredit dan penurunan suku bunga kredit ditambah tingginya backlog perumahan di Bali akan menggairahkan sektor properti.

Pendapat senada disampaikan Regional CEO Bank Mandiri Kanwil XI Bali dan Nusa Tenggara, Maswar Purnama, yang menekankan gejala peningkatan sektor properti sudah terlihat menjelang akhir tahun ini. Di Bank Mandiri, kata dia, penyaluran kredit ke sektor properti menunjukkan kenaikan pada akhir September 2016 yang dapat dijadikan sebagai salah satu indikator cerahnya sektor ini.

Selain itu, kata Maswar, ‎berdasarkan data dan tren yang mereka kumpulkan, 2017 merupakan periode persiapan bagi pemerintah menyiapkan pemilu 2019. Nah, berkaca dengan kondisi 2012 atau dua tahun sebelum Pilpres 2014, ternyata ekonomi tumbuh sangat kencang sehingga tahun depan pun akan mengalami hal sama, khususnya di Bali.

‎"Memang kalau kami diperbankan selalu melihat tren dan kecenderungan seperti apa, karena data historis sangat penting. Misal data historis tahun depan pemerintah siap untuk Pemilu juga. Tren 2012 itu, ekonomi sangat kencang karena persiapan Pemilu, kami pun beranggapan mungkin 2017 kecenderungan akan sama dimana ekonomi akan tumbuh lebih baik daripada ekonomi 2015 dan 2016," ungkapnya.

Bank Mandiri secara nasional menargetkan pertumbuhan kredit ke seluruh sektor pada tahun depan akan berada di kisaran 15 persen. Adapun khusus di Bali, sektor seperti Horeka, karena sangat berkaitan dengan properti bisa tumbuh lebih sedikit di atas 15 persen. Bahkan untuk properti Bali, penyaluran kredit bisa mencapai 17 persen-18 persen.

"Makanya kami ingin kejar supaya bisa naik agresif dan memang sudah kelihatan sih, beberapa developer datang dan mereka punya harapan sama dan kecenderungan sama dibandingkan tahun-tahun lalu," jelasnya.

Ditambahkan ‎oleh Kabid PBB, BPHTB dan PL Dispenda Denpasar I Wayan Tagel Sidarta, tanda-tanda membaiknya sektor properti terlihat juga di ibu kota Bali. Meskipun perolehan pajak BPHTB di Kota Denpasar pada triwulan III/2016 baru mencapai Rp70,36 miliar atau 67,02 persen dari target, tetapi realisasi pada Oktober mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya, yakni Rp18 miliar.

Tagel mengharapkan sisa dua bulan ini, realisasi bulanan akan lebih tinggi sehingga memberikan pemasukan bagi kota Denpasar. Menurutnya, peningkatan pajak dari sektor properti akan dapat membantu pembiayaan pembangunan di Kota Denpasar.

Jurnalis: Bobby Andalan / Editor: Satmoko / Foto: Bobby Andalan
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: