SELASA 22 NOVEMBER 2016

JAKARTA----Cita-cita pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) oleh seluruh bapak pendiri bangsa dan syuhada adalah bukan didirikan sebagai Negara Liberal, Islam, Komunis, Sekuler atau beragam jenis negara lainnya. Negara ini didirikan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berazaskan Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat serta Tanhanna Dharmma Mangrva sebagai semangat nasionalisme dan patriotisme berbangsa bernegara.

                    Gus Nuril (Kiri) dan Gus Sholeh (Kanan) dalam Acara Ngaji Kebangsaan di Jakarta.


Indonesia adalah wilayah besar ciptaan Tuhan dengan keragaman atau kemajemukan dari sisi adat, agama, budaya, suku dan etnis. Sebuah anugerah dan takdir bahwa bangsa dan negara ini terlahir dalam kemajemukan. Akan tetapi seiring berjalannya waktu apa yang ditanamkan sekaligus dibangun oleh bapak pendiri bangsa serta para syuhada negeri ini mulai menuju pada kehancurannya.

"Penyebab semua itu adalah bagaimana para punggawa reformasi dan demokrasi mengubah Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945) dari 37 pasal menjadi 137 pasal yang akhirnya mengundang para VOC gaya baru untuk masuk menikmati semua kekayaan alam di Indonesia," ujar DR. H. Gus Nuril Arifin Husein, MBA atau akrab disapa Gus Nuril dalam Ngaji Kebangsaan Indonesia Damai NKRI dan Pancasila Harga Mati di Hotel Treva Menteng Jakarta, Senin, 21/11/2016.

Dengan diubahnya UUD 1945 yang asli menjadi UUD 1945 Amandemen 2002, tanpa sadar membawa bangsa ini untuk perlahan menggantikan Pancasila yang adalah dasar negara dengan menjadi sebuah pilar. Pancasila yang adalah dasar negara yang dibuat oleh bapak pendiri bangsa serta para syuhada sekarang perlahan digeser menjadi sekadar pilar penyangga. Langkah-langkah menepikan Pancasila dimulai dengan menghapus mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) diikuti juga menghentikan Penataran P4 bagi para PNS dan pejabat.

"Sejak usia dini, para generasi muda sudah tidak diajarkan lagi apa itu Pancasila. Sehingga jangan disalahkan jika mereka tumbuh menjadi produk-produk imitasi. Mengapa demikian, karena akhlak Pancasila mereka sudah perlahan dikikis, kalau perlu dihabiskan tanpa sisa," lanjut Gus Nuril.

Perahu bangsa Indonesia akhirnya berjalan tanpa arah. Ibarat layang-layang juga seperti putus tali kama. Perubahan UUD 1945 itu membawa keuntungan bagi pihak-pihak tertentu, dan Pancasila sebagai dasar sekaligus sumber hukum di negara ini dilumpuhkan agar mereka yang memiliki kepentingan di negara ini bisa dengan leluasa meniduri Ibu Pertiwi demi tercapainya tujuan mereka.

Intinya adalah, dengan melumpuhkan Pancasila yang adalah sumber dari hukum tata kelola negara ini sekaligus tata kelola akhlak masyarakat Indonesia akan semakin mempermudah mereka yang ingin memanfaatkan Indonesia demi kepentingan mereka sendiri.

Adapun Amandemen UUD 1945 berpengaruh pada jalannya roda ekonomi menjadi tidak menentu. Dengan tidak menentunya jalan roda ekonomi mengakibatkan kesenjangan di masyarakat. Saat kesenjangan mulai menjurang dan saat mulai diobrak-abriknya Pancasila tersebut maka muncul segelintir masyarakat yang menawarkan ideologi-ideologi terapan lain. Ini tidak salah, karena ini terjadi akibat ulah mereka yang ingin memperkaya diri dan golongan dengan memanfaatkan momentum reformasi.

                                           Gus Sholeh bersama Pendeta Budi membacakan Pancasila diikuti seluruh hadirin.

Melihat keadaan negara yang sudah diambang kehancuran dan perpecahan inilah, maka Patriot Garuda Nusantara (PGN) di bawah pimpinan Gus Nuril akan mengambil langkah-langkah penyelamatan bangsa dan negara ini dari keterpurukan yang lebih dalam lagi. Caranya adalah dengan mengembalikan kemurnian Undang Undang Dasar 1945 sebagai sumber hukum tata kelola negara, membangkitkan kembali pelajaran-pelajaran terkait Pancasila sejak anak usia dini dan menempatkan kembali Pancasila ke tempat aslinya yakni sebagai Dasar Negara dan bukannya sekedar bagian pilar penyangga.

"Kalau kayu dijadikan pondasi dan batu kali dijadikan penyangga, ya ambruk rumahnya," pungkas Gus Nuril.

Dengan demikian, maka Gus Nuril dengan Patriot Garuda Nusantara (PGN) bersama Gus Sholeh Mz dengan Forum Komunikasi Ulama & Masyarakat (FORKUM) mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali pada kemurnian cita-cita luhur para pendiri bangsa serta syuhada negeri ini. Cita-cita itu ialah  mendirikan Negara Pancasila bukan mendirikan negara dengan ideologi lainnya.

Gus Sholeh juga turut mengajak para ulama lintas agama agar kembali kepada porsinya sebagai pemberi binaan mental spiritual kepada manusia Indonesia untuk menjadi manusia Pancasila sejati atau manusia Indonesia seutuhnya. Sedangkan Pemerintah juga harus mengambil ketegasan berdiri sebagai pihak yang menjaga nilai-nilai hukum atau nilai teritorial sesuai fungsi serta tugasnya masing-masing.

"Intinya seluruh ulama lintas agama harus bersatu menjadi payung yang meneduhkan umat dan jemaatnya masing-masing," tandas Gus Sholeh.

Kolaborasi dua tokoh Islam yang begitu mendalami nilai-nilai luhur Pancasila ini bagai air yang menyadarkan setiap manusia Indonesia bahwa sudah saatnya kembali pada Pancasila dan kemurnian UUD 1945. Tidak perlu lagi ada wacana-wacana menepikan Pancasila. Tidak ada lagi wacana-wacana revolusi menjejali bangsa Indonesia yang sudah porak poranda oleh kemiskinan saat ini dengan ideologi-ideologi baru. Karena dalam Pancasila itu berlaku bahwa pertikaian tidak akan menguntungkan bagi siapapun. Begitu pula perdamaian itu tidak akan merugikan siapapun jika dilakukan.


Jurnalis : Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw


Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: