SELASA 22 NOVEMBER 2016

Oleh Thowaf Zuharon*

JAKARTA---Betapa konyol Penyair termasyhur William Shakespeare ketika berucap, “Apalah Arti Sebuah Nama”. Dalam khasanah Jawa, konsep Shakespeare tersebut runtuh dengan pepatah berbunyi, “Asma Kinarya Japa” (nama adalah harapan dan doa). Dalam khasanah beberapa agama juga demikian mementingkan Nama. Pada berbagai kenyataan perjalanan hidup manusia, nama memberi pengaruh dan dampak yang sangat besar terhadap diri seseorang. Bahkan, seringkali, nama mewujud pada suratan nasib seorang manusia.

Konsep tentang pentingnya nama bagi anak, tentu menjadi alasan kuat bagi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menamai putra sulungnya sebagai Agus Harimurti Yudhoyono. Nama Agus bermakna bagus, elok, dan mulia. Sedangkan Harimurti bermakna sinar yang menerangi keluarga. Selain itu, Harimurti adalah nama lain dari tokoh wayang Raden Narayana (nama kecil Sri Kresna) ketika diangkat menjadi Raja Dwarawati. Gelar lengkap Sri Kresna ketika bertahta di Kerajaan Dwarawati adalah Prabu Harimurti Padmanaba.

Nama Agus Harimurti adalah doa dan pengharapan yang dilantunkan oleh SBY bersama Ani Yudhoyono atas putra sulungnya. Pada kenyataannya, Agus Harimurti tumbuh dan memiliki perjalanan seperti Sri Kresna. Punya kemampuan kuat sebagai ksatria dalam TNI dan menguasai berbagai ilmu akademik maupun kebijaksanaan hidup. Harimurti pun meraih segudang prestasi nasional maupun internasional.

Kemiripan Kisah Perjalanan Kepemimpinan Kresna dan Harimurti Yudhoyono.

Pada kenyataan sekarang, pengharapan ayah-ibunya atas Agus semakin mewujud, sesuai nama yang disematkan. Momentum dan kesempatan Agus Harimurti untuk memimpin masyarakat sangat terbuka melalui Pilkada DKI Jakarta yang sedang berlangsung sekarang. Jalan ceritanya agak mirip dengan kesempatan Sri Kresna ketika akan memimpin kerajaan Dwarawati.

Dalam Mahabharata, Harimurti adalah seorang pemimpin yang memiliki karakter unik dan karisma tersendiri. Sebagai putra kesayangan ayahnya yang bernama Basudewa, Kresna adalah titisan Wisnu. Melalui tangan Harimurti yang sakti, ayah dan ibunya bisa lepas dari kekejaman yang dilakukan cukup lama oleh Raja Kangsa. Di tangan Hari Murti, Raja Kangsa mati.

Sebagai sosok pemimpin yang mumpuni, sosok Harimurti adalah seorang yang pandai menjalankan siasat politik negara, peperangan, dan lain-lain. Dengan karakternya yang arif, cerdas, bijaksana, Kresna banyak dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk persoalan masyarakat sekeliling dan negara sekitar.

Bila terjadi perselisihan antara Pandhawa dan Kurawa, Kresna alias Harimurti selalu berusaha mendamaikannya. Bila terjadi perselisihan antara keluarga Mandura, Kresna mmbela dan berpihak kepada yang benar.  Bila berselisih dengan negara lain dan pemimpin yang zalim, Harimurti selalu membela rakyat dan negaranya.

Saat menginjak usia dewasa, Harimurti adalah remaja yang gemar laku prihatin, berkemauan keras, dan pemberani. Harimurti sangat suka menolong saudara-saudara yang dalam kesusahan dan membutuhkan pertolongan.

Harimurti Pembela Rakyat Tertindas dan Memberontak Penguasa Zalim. 

Ketika kakak kandungnya, Raja Baladewa lebih membuat kebijakan-kebijakan yang menindas rakyat kerajaan Mandura, Harimurti lebih memilih keluar dari istana dan hidup di tepian hutan sisi barat Kerajaan Mandura.

Saat kakaknya menjadi raja, Harimurti malah menjadi perampok bagi para bangsawan dan pengusaha kaya raya yang lewat di daerah persembunyiannya. Kemudian, harta yang diperolehnya dari para Bangsawan itu dibagi-bagikan kepada rakyat miskin dan terpencil, jauh dari jangkauan kebijakan istana Mandura. Mirip seperti kisah Robin Hood. Mirip kisah Raden Sahid (Sunan Kalijaga masa muda) yang menjadi Begal sebelum ketemu Sunan Bonang.

Harimurti terpaksa menjadi Robin Hood karena kebijakan Baladewa lebih berpihak kepada para bangsawan dan pemilik modal yang semakin menindas rakyat miskin. Keputusan Harimurti menjadi perampok adalah wujud protesnya atas kebijakan-kebijakan yang diambil kakaknya. Cukup lama Harimurti menjalani hidup demikian. Sampai suatu ketika, aksinya digagalkan oleh seorang senapati agung bangsa Hastinapura, dan dia diberi wejangan. Senapati itu bernama Resi Bisma Dewa Bharata.

Sebagai calon Gubernur, Agus Harimurti Yudhoyono memiliki berbagai semangat membela kaum lemah dan melawan kesewenangan. Antara lain tercermin dalam Program bantuan langsung kepada golongan miskin dan kurang mampu. Program tersebut meliputi bantuan untuk meningkatkan daya beli rakyat, serta bantuan untuk balita dan lansia.

Senjata Sakti Cakra Tanpa Tandingan, Milik Harimurti

Sebagai titisan wisnu, Harimurti memiliki berbagai senjata sakti. Dua senjata yang paling ternama adalah senjata cakra dan azimat Kembang Wijoyo Kusumo.

Senjata Cakra yang sangat sakti milik Harimurti mampu menghancurkan bumi seisinya. Sewaktu pecah Bharatayuda, Cakra digunakan untuk menghalangi sinar matahari. Prabu Kresna berbuat begitu agar semua orang mengira, hari telah senja. Waktu itu, sehari sebelumnya Arjuna bersumpah, “Jika besok, sebelum matahari terbenam aku tidak dapat membunuh Jayadrata, lebih baik aku mati.”

Setelah mendengar sumpahnya itu, Kurawa segera menyembunyikan Jayadrata, dengan harapan, jika Jayadrata berhasil selamat hari itu, tentu Arjuna akan bunuh diri. Karena senjata Cakra menghalangi matahari, suasana di bumi saat itu tampak seperti senja hari. Jayadrata yang merasa dirinya aman karena mengira batas waktu telah lewat, segera keluar dari dari persembunyiannya. Ia ingin menonton bagaimana Arjuna bunuh diri melaksanakan sumpahnya. Namun, ketika Arjuna melihatnya, ksatria Pandawa itu langsung membunuh Jayadrata dengan anak panahnya. Sesudah Jayadrata mati, barulah Prabu Kresna menarik kembali Cakra, dan dunia kembali terang benderang.

Kembang Wijoyo Kusumo Sebagai Lambang Kemenangan dan Kesehatan

Sedangkan pusaka Kembang Wijoyo Kusumo milik Harimurti mampu menghidupkan orang mati, yang belum sampai pada takdirnya. Konon, Kembang Wijoyokusumo adalah jimat atau senjata ampuh istimewa milik sri bathara kresna, putra Prabu Basudewa yang berasal dari kerajaan madura. disebutkan pula, Bathara Kresna itu adalah sosok raja yang bijaksana dari negara Dwarawati. Kembang Wijayakusuma yang istimewa ini, konon hanya dipakai untuk membantu pandawa pada saat kondisi genting dan terdesak.

Kembang Wijoyo Kusumo berasal dari dua suku kata. Wijaya berarti menang, dan kusuma berarti kembang. Jadi bunga ini memiliki makna 'bunga kemenangan' sebagaimana cerita kejayaan yang dialami para pelakunya. Siapa pun yang memegang Kembang Wijoyo Kusumo, maka, kemenangan akan cenderung ada di pihaknya.

Dalam dunia flora di Indonesia, Kembang Wijoyo Kusumo hanya terdapat di Pulau Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Sebagai bunga yang tergolong istimewa, kembang ini memiliki kisah yang berhubungan dengan para pembesar, termasuk keraton Yogyakarta dan juga Surakarta. Setiap ada penobatan raja Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta, akan selalu ada utusan 40 orang ke Nusakambangan untuk memetik Kembang Wijoyo Kusumo. Ritual ini masih dilakukan sampai sekarang.

Secara ilmiah, kembang Wijoyo Kusumo hanya mekar setahun sekali pada musim hujan, di waktu malam hari, setelah itu layu dan kuncup kembali di pagi hari. Saat mekar, bunga ini mengeluarkan bau yang sangat harum. Kembang ini diyakini berkhasiat sebagai anti radang, penghenti pendarahan, obat batuk, obat asma, nyeri lambung, peluruh dahak, dan sebagainya. Bunga ini rasanya manis, sifatnya netral, namun batangnya berasa asin.

Semangat dari Kembang Wijoyo Kusumo yang mampu memberikan kesehatan, ternyata tercermin pada program yang dikampanyekan Agus Yudhoyono dengan program peningkatan kesehatan, peningkatan besaran Kartu Jakarta Sehat (KJS), pembebasan iuran BPJS layanan kategori kelas 3, penambahan Puskesmas-Posyandu, termasuk fasilitas rawat inap di Puskesmas.

Prabu Harimurti Naik Tahta Penjunjung Hasta Brata

Sebelum naik tahta menjadi raja Dwarawati, Harimurti berjuang mengalahkan seorang raja raksasa bernama Prabu Kunjana Kresna di negeri tersebut. Prabu Kunjana adalah raja yang justru meminggirkan bangsa manusia berjumlah mayoritas, dan lebih membela bangsa raksasa yang minoritas.

Sebelum menyerang Prabu Kunjana, Harimurti berbaur dengan rakyat negri Dwarawati. Harimurti memimpin sebuah pergerakan demi kesamaan hak antara Bangsa Manusia dengan Bangsa Raksasa. Harimurti menebar pengaruh dengan cara dialog tanpa kekerasan. Walaupun dia memiliki kesaktian ilmu kanuragan yang tinggi, tapi di Dwarawati, dia lebih banyak melebarkan sayap dan semakin banyak orang yang hormat dan segan kepadanya dengan cara-cara tanpa sama sekali menggunakan kesaktiannya.

Sampai kemudian Prabu Kunjana memburunya, dan menjadikan Narayana sebagai pemberontak di negri Dwarawati. Kunjana pun terkejut ketika melihat sebagian besar penduduknya sudah berani secara terbuka menentangnya atas rasa percaya diri yang berhasil ditanamkan kepada Harimurti. Kunjana yang keras kepala itu pun harus mati terbunuh oleh Harimurti.

Rakyar Dwarawati pun satu suara, dan meminta Harimurti menjadi raja di Dwarawati. Saat menjadi raja Dwarawati, Kresna adalah raja yang telah memahami dan mengamalkan makna Hasthabrata. Artinya ia memiliki sifat delapan dewa yang mencerminkan kelebihan dan kehebatan para pemimpin atau pelindung dunia.

Jika Agus Harimurti Yudhoyono banyak meneladani kebijakan dan kecerdasan Sri Kresna alias Prabu Harimurti Padmanaba, tentunya, kursi DKI Jakarta 1 akan dengan mudah untuk didapatkan.

 *Thowaf Zuharon adalah Penulis Buku Ayat Ayat yang Disembelih dan Penyuka Wayang
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: