KAMIS 24 NOVEMBER 2016

Saat menggelar acara jumpa pers dengan para awak media di Ruang Palapa, Gedung Kantor Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia, Rabu siang (23/11/2016), Arrmanatha Natsir, Juru Bicara Kemenlu RI melaporkan perkembangan terkini terkait dengan kasus penculikan yang kembali terjadi terhadap 2 orang Anak Buah Kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) pada tanggal 19 November 2016 yang lalu.


Arrmanatha Natsir (kanan), Juru Bicara Kemenlu RI saat jumpa pers di  Jakarta.

Dilaporkan bahwa lokasi Tempat Kejadian Perkara (TKP) penculikan terhadap 2 ABK WNI tersebut terjadi di sekuat perairan Negara Bagian Sabah Malaysia. Namun hingga saat ini memang belum diketahui secara pasti apakah kedua ABK WNI tersebut juga diculik oleh kelompok bersenjata pernah melakukan hal yang serupa beberapa waktu yang lalu atau merupakan kelompok bersenjata yang benar-benar berbeda.

"Kemenlu RI menduga bahwa kedua ABK WNI tersebut telah disergap dan diculik oleh kelompok bersenjata diperkirakan lokasinya berada di perairan Negara Bagian Sabah Malaysia pada tanggal 19 November 2016, diperkirakan kelompok penculik tersebut berjumlah sekitar 5 orang, saat itu totalnya ada 13 orang ABK WNI yang sedang berlayar naik perahu untuk keperluan mencari ikan di lautan lepas" kata Arrmanatha Natsir, Juru Bicara Kemenlu saat jumpa pers di Jakarta, Rabu siang (23/11/2016).

"Tak lama kemudian, tiba-tiba kapal nelayan pencari ikan tersebut didatangi oleh 5 orang kelompok bersenjata dengan menggunakan Speed Boat, sesaat kemudian mereka langsung membawa dan menculik 2 orang dari total 13 orang yang ada di kapal nelayan tersebut, kemudian kedua ABK WNI tersebut langsung dibawa dengan menggunakan Speed Boat ke suatu tempat yang hingga saat ini belum diketahui dimana lokasinya, namun diduga dibawa menuju ke perairan Negara Filipina" demikian dikatakan Arrmanatha Natsir kepada wartawan.

Hingga berita ini ditulis, Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kemenlu RI bersama Kementrian Pertahanan (Kemhan), Kementrian Bidang Poltik Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam) dan Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih terus berkoordinasi dan bekerja sama dalam menangani kasus penyanderaan dan penculikan terhadap beberapa ABK WNI yang beberapa bulan terakhir ini terus terjadi berulang kali.

Pemerintah Indonesia hingga saat ini diketahui masih terus menjalin komunikasi yang intensif dengan Pemerintah Malaysia dan Pemerintah Filipina sebagai sebuah upaya untuk mencari solusi atau jalan keluar yang terbaik terkait dengan bagaimana mekanisme terkait dengan proses pembebasan para sandera tersebut. Ketiga negara tersebut sedang berunding bagaimana caranya untuk menanggulangi atau mencegah supaya ke depannya tidak ada lagi kejadian penculikan atau penyanderaan terhadap ABK WNI.

Jurnalis: Eko Sulestyono/Editor: Irvan Sjafari/Eko Sulestyono
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: