SELASA, 8 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Komisi IV DPR RI Bidang Pertanian, Perikanan, Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Titiek Hediati Soeharto kembali mengingatkan kepada warga di Sleman, jika berbagai dana bantuan Pemerintah bisa diakses melalui lembaga berbadan hukum dan tercatat di Dinas Pertanian dan Peternakan setempat.


Titiek Soeharto menyampaikan hal itu, saat menjawab berbagai keluhan warga Dusun Dalem, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, dalam acara jaring aspirasi di kawasan obyek wisata air Blue Lagoon, dusun setempat, Senin (7/11/2016). Obyek wisata air Blue Lagoon sebagaimana pernah dikupas Cendana News beberapa waktu lalu, merupakan obyek wisata alam yang dikembangkan secara swadaya oleh warga setempat sejak tahun 2014.

Obyek wisata air dengan daya tarik berupa jernihnya air berwarna biru dan lingkungan yang masih asri pedesaan itu, kini mampu menjadi lapangan pekerjaan bagi sekitar 20 warga setempat yang semula hanya bekerja serabutan. Penghasilan dari kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara, pun mampu memberi kontribusi bagi warga dusun, antara lain untuk kas dusun, santunan anak yatim dan lain-lain.


Selain membangun obyek wisata air Blue Lagoon, warga setempat dipelopori oleh Suhadi, yang merupakan Bintara Pembina Desa berpangkat Sersan Satu dari Kesatuan Komando Rayon Militer 07/NGP, Ngemplak, Sleman, juga mengembangkan batik tulis dengan bahan pewarna alami indigo.

Dalam kesempatan tersebut, warga mengajak Titiek Soeharto untuk melihat-lihat koleksi batik karya warga setempat, yang memiliki ciri khas warna biru alami dari pohon indigo. Juga batik bubur atau simbut, yang merupakan batik unik yang dalam proses pembuatannya menggunakan adonan bubur ketan merah dan gula aren serta bahan lainnya sebagai pengganti malam, dan kuas sebagai pengganti canting.


Tak sekedar melihat dan mengagumi, Titiek Soeharto juga menyempatkan diri belajar membatik dengan canting. Kendati pada awalnya terlihat kesulitan, namun beberapa saat kemudian Titiek Soeharto terlihat tekun menggambar pola dengan canting. Ternyata, membatik itu bagi Titiek Soeharto bukan kegiatan baru.

"Waktu kecil dulu di Solo saya biasa membatik bersama almarhumah Ibu", ujar Titiek, disambut riang kagum para ibu warga pembatik.


Usai meninjau potensi batik tersebut, Titiek Soeharto kemudian melihat keindahan wisata air Blue Lagoon yang setiap hari tak pernah sepi dari aktifitas berenang para pengunjung. Tak kecuali di saat Titiek Soeharto meninjau obyek wisata tersebut bersama muspika setempat.

Kedatangan Titiek Soeharto di Blue Lagoon disambut barisan prajurit tradisional dusun setempat, Bregodo Paku Drajat, yang begitu tampak gagah dengan senjata tombak panjang, sementara sebagian lainnya menabuh drum sebagai tembang penyambutan tamu kehormatan.

Setiba di obyek wisata air Blue Lagoon, Titiek Soeharto berkenan turun menyentuh air. Lalu, demi melihat seorang gadis kecil begitu asyik bermain air dengan temannya, Titiek Soeharto pun bertanya kepada gadis kecil itu.

"Dari jam berapa Adik mandi di sini?", tanya Titiek kepada gadis kecil usia sekolah dasar itu, yang kemudian dijawab, "Dari jam 10.00 pagi".

Sontak saja, Titiek Soeharto agak terkejut, karena saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 16.00 WIB.

Bagi warga setempat, sudah hal biasa jika para pengunjung betah berlama-lama bermain air di obyek wisata Blue Lagoon. Kejernihan air dan kesegaran serta suasananya nan sejuk, terasa membuat para pengunjung tak ingin cepat-cepat beranjak dari sumber air yang berhulu di Gunung Merapi tersebut.


Sesudah puas menikmati keindahan obyek wisata air Blue Lagoon, Titiek Soeharto kemudian menggelar dialog bersama warga. Berbagai keluhan pun kemudian muncul. Tak hanya terkait pengelolaan obyek wisata alam yang merupakan bagian dari upaya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup, namun juga berbagai keluhan para ibu yang selama ini telah membentuk sebuah kelompok guna menangani keberadaan warga lanjut usia (lansia).

Secara umum, warga menyampaikan kesulitannya untuk bisa ikut mengakses berbagai program bantuan Pemerintah. Titiek Soeharto pun kemudian balik bertanya mengenai keberadaan dan legalitas kelompok-kelompok produktif yang diakui Titiek Soeharto sudah sangat bagus karena dikelola secara swadaya.

Ternyata, diketahui kemudian hampir semua kegiatan yang ada di Dusun tersebut belum terwakili ke dalam lembaga-lembaga yang selama ini menjadi syarat utama bagi yang ingin mendapatkan program bantuan dari Pemerintah. 

Untuk itu, di bidang penanganan warga lansia, Titiek Soeharto lalu mengusulkan dibentuknya Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang akan memudahkan warga mendapatkan bantuan dan pendampingan. Juga diusulkan pula untuk membentuk Kelompok Tani dan Wanita Tani yang berbadan hukum dan tercatat di Dinas Pertanian setempat, agar bisa mengakses beragam program bantun Pemerintah.


Sementara itu, terkait pengembangan obyek wisata, Titiek Soeharto meminta agar warga bisa memanfaatkan Dana Keistimewaan (danais) DI Yogyakarta, dan meminta kepada para kader Partai Golkar untuk membantu warga mengakses berbagai program bantuan.

Terhadap perkembangan obyek wisata, Titiek berharap, agar warga mampu mempertahankan keasrian kawasan obyek wisata. Diingatkan pula, pengembangan kawasan wisata jangan sampai menghilangkan keaslian suasana desa. Pembangunan homestay atau rumah singgah agar dibangun sesuai kultur setempat.

"Upayakan menjaga keasrian kawasan dengan membangun beberapa fasilitas umum seperti pendopo dan rumah singgah sesuai kondisi. Kalau bisa jangan membangun fasilitas penunjang dengan model-model rumah sekarang, tapi tetap mempertahankan model-model rumah asli dusun", pesan Titiek.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: