SENIN 7 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Datangnya musim penghujan membuat Kepala Desa Banding, Kecamatan Rajabasa Zuherudin harus ekstra kerja keras. Desa yang terletak di kawasan bibir pantai itu masih belum lepas dari cengkeraman Malaria, sekaligus Demam Berdarah (DBD).  Zuherudin patut cemas, pasalnya lima bulan yang lalu beberapa warganya terserang penyakit malaria.  Mereka harus harus menjalani rawat inap di puskesmas dan rumah sakit.  

Penyerompotan di rumah warga.


Zuherudin tak jemu menghimbau warganya untuk membersihkan barang barang yang tak terpakai di sekitar rumah yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak penyakit malaria dan demam berdarah dengue (DBD). Selain melakukan himbauan kepada masyarakat optimalisasi kader malaria di desa tersebut juga ditingkatkan dengan rajin melakukan sosialisasi dan gerakan bersih bersih lingkungan.

Prosedur penyemprotan juga telah dilakukan di sekitar rumah warga yang terserang penyakit malaria dan memasuki musim penghujan ia dan warga masyarakat terus melakukan upaya pencegahan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

"Kami awali dengan memberikan sosialisasi kepada masyarakat untuk selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat dan kepada kader kader malaria, DBD selalu aktif memberi contoh untuk membersihkan selokan, mengumpulkan kaleng kaleng bekas dan menguras bak mandi yang berpotensi menjadi sarang nyamuk,"ungkap Zuherudin, Senin (7/11/2016).

Antisipasi lainnya menurut Zuherudin dilakukan dengan berkoordinasi dengan pihak Puskesmas dengan memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan kelambu khusus untuk melindungi warga dari gigitan nyamuk. Kelambu khusus yang diberikan tersebut diantaranya memiliki zat khusus yang tidak disukai nyamuk sehingga kelambu tersebut dihimbau tidak sering dicuci untuk menjaga fungsi kelambu tersebut dalam menjaga warga dari gigitan nyamuk.

Kondisi kamar tidur rumah warga dengan kelambu khusus.


Pencegahan lain yang dilakukan oleh kader malaria dan masyarakat diantaranya dilakukan dengan melakukan penyemprotan menggunakan insektisida jenis icon 100 cs yang mengandung lamda sihalotrin 100 g/liter. Racun yang digunakan untuk nyamuk tersebut merupakan jenis insektisida racun kontak dan lambung untuk pengendalian vektor penyakit malaria, nyamuk, kecoak, lalat sehingga tidak membahayakan manusia. Penyemprotan dilakukan di dinding luar rumah dan di dalam rumah yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Iklim pantai yang lembab dengan lokasi banyak ditumbuhi pohon bakau dan dekat dengan kawasan hutan Gunung Rajabasa membuat potensi timbulnya penyakit di wilayah tersebut. Zuherudin mengungkapkan dari sekitar 600 kepala keluarga yang ada di wilayah tersebut ia mengaku telah menyiapkan sebanyak lima kader khusus yang dilatih khusus untuk penanganan penyakit malaria dan secara umum menjadi kader yang melakukan penyuluhan dan penerarapan pola hidup bersih dan sehat khusus di desa yang berada di kawasan pesisir tersebut dan sebagian memiliki rawa terutama pada bagian muara sungai.

Bekas Tempat Pembibitan Udang Potensi Sarang Nyamuk




Salah satu kader, Udin, mengaku dalam masa pergantian musim sepanjang bulan Oktober-November, bukan saja kendala letak desa yang berada di bibir pantai. Melainkan juga banyak warga memiliki tempat pembibitan udang (hatchery), ika. Kalau tempat itu sudah tak terpakai bisa menjadi potensi berkembangnya nyamuk. Sebab sebagian tempat pembibitan udang yang menggunakan petak petak dan kolam tempat air menggenang memiliki potensi menjadi lokasi bertumbuhnya sumber penyakit terutama nyamuk.

Sebagai kader ia juga mengaku mendapat pelatihan dari dinas kesehatan untuk mengetahui gejala awal penyakit malaria dan penyakit akibat gigitan nyamuk. Khusus untuk penyakit malaria yang disebabkan oleh plasmodium yang merupakan jenis parasit yang menjadi penyebab malaria yang disebabkan oleh gigitan nyamuk.

Seorang kader desa membantu menanggulangi Malaria dan DBD.


"Kita jelaskan secara mendetail ke warga namun yang mudah dipahami adalah dengan mengajak warga bergotong royong dan kami melakukan pembersihan lingkungan, mengumpulkan kaleng tak terpakai dan memendam di tanah dan mengajak membersihkan bak mandi,"ungkap Udin.

Ia mengaku selalu gencar mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Selain menjadi kawasan yang berada di pesisir pantai, pencegahan dilakukan untuk menarik wisatawan berkunjung ke wilayah yang dikenal dengan kawasan wisata bahari tersebut.

Selain itu para kader juga tetap bekerjasama dengan Linmas, petugas Puskesmas dan masyarakat yang peduli akan kebersihan dan kesehatan lingkungan tempat tinggal untuk mencegah penyebaran penyakit kala musim penghujan.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: