SABTU, 12 NOVEMBER 2016

MAUMERE --- Banjir yang terjadi di kali Nangagete akibat tingginya curah hujan menyebabkan ketinggian air mencapai 30 hingga 40 sentimeter. Akibatnya, anak-anak sekolah warga kampung Wairbou desa Nebe dan Wailoke desa Wailamun kecamatan Talibura terpaksa meliburkan diri. Demikian disampaikan Maria Dua Lodan, warga kampung Wairbou yang ditemui Cendana New di kampungnya, Jumat (11/11/2016) siang.


Dikatakan Maria, anak-anak dua kampung ini bersekolah di dusun Belawuk desa Nebe yang berjarak sekitar 700 meter dari kampung mereka di sebelah selatan. Untuk mencapai sekolah pulang pergi, anak-anak sekolah dan warga harus melintasi kali Nangagete.

“Memang ada jalan dari Wailoke menuju jalan di jembatan Iang Loeng di sebelah barat kampung nakun jalan tersebut sudah tidak bisa dilewati. Warga sudah sering mengusulkan namun pemerintah seolah masa bodoh,” tuturnya.

Kalau air kali tidak terlalu deras kata Maria, anak-anak sekolah biasanya berenang melewatinya. Baju sekolah dan tas ditaruh di dalam kantong plastik agar tidak basah. Sesudah sampai di sekolah baru mereka mengganti pakaian dengan seragam sekolah.

Selain itu tambahnya, warga kedua kampung ini pun tidak bisa ke pasar, gereja, posyandu atau bepergian kemana – mana karena semuanya harus diakses dari jalan negara trans Flores yang berada di seberang kali, tepatnya di kampung Belawuk maupun Mudung.

Hal senada juga disampaikan Bernadus Bago ketua RT di kampung tersebut. Nadus sapannya, setiap tahun saat Musrembang pihaknya sudah menyampaikan usulan kepada pemerintah untuk membangun jalan menuju jembatan Iang Loeng.

“Warga kedua kampung sudah berswadaya dan membuka kembali jalan ini namun hingga kini belum diaspal. Kondisi jalan masih bebatuan dan tanah serta jembatan kecil di jalan tersebut gorong – gorongnya sudah hancur,” terangnya.

Ditambahkan Nadus, meluapnya air kali menyebabkan orang sakit atau ibu yang mau melahirkan tidak bisa dibawa ke Puskesmas guna mendapatkan pertolongan. Jika jalan yang diminta sudah diaspal, penduduk dusun Belawuk dan Mudung juga merasakan manfaatnya karena kebun mereka berlokasi di seberang kali Nangagete di sekitar kampung Wairbou.

“Bila jalannya sudah bagus kendaraan yang membeli hasil pertanian bisa masuk ke kampung kami sehingga kami tidak perlu memanggulnya menyeberang kali,” pungkasnya.


Disaksikan Cendana News, anak-anak sekolah yang melintasi kali ini hanya bertelanjang kaki sementara sepatu di tenteng di tangan. Setelah tiba di seberang kali baru mereka kembali memakai sepatu.

Juga terlihat beberapa warga mandi dan mencucui di pinggir kali tersebut. Selain itu, banyak sapi di ikat di pinggir kali sebab disini terdapat banyak rerumputan yang tumbuh subur. Bila jalannya tidak segera diperbaiki, tentu bukan saja anak sekolah tapi semua warga 2 kampung dengan jumlah penduduk sekitar 300 jiwa harus menderita.
Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: