SENIN 14 NOVEMBER 2016

JAKARTA---Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya di RAPIMNAS PAN Minggu (13/11) menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masuk tiga tertinggi di dunia setelah China dan India.

Heri Gunawan.
Menanggapi hal ini, Anggota Komisi XI DPR Heri Gunawan menilai apa yang dikatakan presiden yang mengklaim kondisi ekonomi berada pada urutan ketiga dalam hal pertumbuhan ekonomi tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

Sebab, menurut Heri, Dengan adanya kondisi politik yang relatif labil, maka klaim pemerintah bahwa Indonesia telah mencapai pertumbuhan ekonomi nomor tiga di dunia hanyalah pepesan kosong di tengah perlambatan ekonomi dunia yang bergerak antara 2,5-3,0 persen.

"Faktanya selama ini dari rezim ke rezim pergerakan sektor riil ada pada angka 5,0 persenan," kata Heru Saat dihubungi di Senayan, Jakarta, Senin, (14/11/2016).

Selain itu, kata Heri, rontoknya nilai mata uang rupiah akan berdampak luas pada performa ekspor yang sudah menurun, meningkatnya beban pembayaran bunga utang, sehingga stimulus untuk membangkitkan ekonomi riil akan tersendat.

"Sebaiknya pemerintah harus konsisten menjaga kondisi politik dalam negeri yang sekarang ini relatif labil. Tegakkan hukum dengan sebaiknya. Jika tidak, maka itu akan beresonansi dengan posisi ekternal yang terlalu baik pasca Pilpres AS," ungkapnya.

Heri menyampaikan, yang patut diwaspadai pemerintah saat ini yakni nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang mengalami penurunan tajam hingga hampir 4 persen. Rupiah kita sempat menembus level Rp13.731 per USD. Padahal, sebelumnya, rupiah masih bertengger di level Rp13.100-an per USD.

Penurunan rupiah itu, jelas dia, disebabkan karena ada faktor eksternal yaitu kemenangan Trump sebagai Presiden AS yang oleh sebagian kalangan dianggap mampu meningkatkan ekspektasi pasar atas kenaikan suku bunga di AS.

Untuk itu, dirinya meminta Pemerintah perlu mewaspadai dampak yang lebih luas dari penurunan rupiah pasca kemenangan Trump. Indikasi itu tidak hanya pada penurunan rupiah tapi juga penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat turun 56,36 poin atau setara 1,03 persen.

"Pemerintah musti mewaspadai spekulasi pasar yang terjadi pasca kemenangan Trump," imbuhnya.

Lebih jauh, Heri menyebut tidak semua kalangan pasar yang memberi respon positif atas kemenangan tersebut. Ada juga sentimen negatif yang muncul di pasar keuangan global. Untuk di Indonesia, dampaknya tidak hanya ke nilai tukar rupiah tapi juga bisa terhadap perekonomian nasional secara luas.

Lanjutnya, Bank Indonesia (BI) dalam hal ini harus terus memantau dan mewaspadai laju rupiah yang sudah mencapai angka di atas angka Rp13.500 perdolar AS.

"Ini sangat berbahaya dan mengkhawatirkan. Tentu, ini akan memberi efek sistemik khususnya terhadap beban pembayaran utang yang lebih besar lagi," tutupnya.

Jurnalis: Adista Pattisahusiwa / Editor: Irvan Sjafari / Foto: Adista Pattisahusiwa
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: