JUMAT, 25 NOVEMBER 2016
BALI----Dalam upaya membangun komitmen persatuan dan kesatuan serta terciptanya rasa persaudaraan, saling percaya, dan rasa memiliki satu dengan yang lainnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar melalui tim koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan pembangunan kota Denpasar mengadakan sarasehan dengan tema Penanganan Konflik Sosial dengan Kearifan Lokal di Kota Denpasar. Kegiatan dibuka langsung Sekda kota Denpasar, AAN Rai Iswara, dan menghadirkan beberapa narasumber dari Kepolisian, TNI, Kejari, DPRD, serta steak holder dan pihak terkait lainnya pada Jumat (25/11) di Graha Sewaka Dharma Lumintang.

Sekda kota Denpasar, AAN Rai Iswara, sedang menyampaikan pemikiran mengenai penanganan konflik sosial dengan kearifan lokal.
Menyama braya adalah simbol kehidupan bersama sebagai satu kesatuan keluarga, membangun solidaritas sosial, kepedulian sosial, dan interaksi sosial yang intens yang harus dilakukan untuk menghindari tumbuhnya sikap individualistis dan eksklusivisme di kalangan kelompok-kelompok sosial,” demikian disampaikan Sekda Kota Denpasar, AAN Rai Iswara, saat memberi kata pengantar kegiatan sarasehan.

Lebih lanjut Rai mengatakan, antisipasi konflik sosial terus dilakukan di kota Denpasar. Selama ini, memang  tidak perlu ada yang dirisaukan tentang konflik sosial karena peran serta masyarakat kota Denpasar seperti masyarakat adat, tokoh masyarakat, maupun forum kemasyarakatan terus mengupayakan hal-hal yang sangat kondusif. Dengan itu, tidak ditemukan konflik sosial yang berkepanjangan.

Situasi sarasehan yang dihadiri para pejabat Pemkot Denpasar dan masyarakat. 
Ia menambahkan, sudah tentunya sarasehan ini bertujuan untuk membuat waspada, jangan sampai mudah dihasut, disulut, karena konflik yang terjadi akibat salah menerima opini. Dengan sarasehan ini diharapkan bisa menjadi pemahaman bersama  ke depan untuk berhati-hati menerima informasi serta menyampaikan informasi sehingga masyarakat tidak resah.

“Dengan sarasehan ini, kita gali potensi kearifan lokal kita. Kita kan punya kearifan lokal dari keluarga, banjar, pasemetonan, desa adat, dengan itu kita inventarisasi serta identifikasi sehingga penanganan dalam konflik bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Penanganan lebih awal dari keluarga, masyarakat, baru ke tahapan hukum,” ujar Rai Iswara.

Suasana sarasehan penanganan konflik sosial berbasis kearifan lokal.
 Rai Iswara menambahkan, di kota Denpasar khususnya di dalam keanekaragaman suku, budaya, etnis masyarakat, aspek heterogenitas jangan sampai dijadikan suatu permasalahan yang besar bagi proses pembangunan. Malahan hal ini bisa tetap tumbuh subur, dengan semangat perbedaan menuju kebersamaan di dalam kebhinnekaan untuk terus membangun kota Denpasar.

Sedangkan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik kota Denpasar, Komang Sugiarta mengatakan, sarasehan ini merupakan suatu wujud nyata Pemerintah Kota Denpasar di dalam menangani konflik sosial. Kegiatan yang dihadiri beberapa narasumber dari Kepolisian, TNI, Kejari, DPRD, serta steak holder lainnya diharapkan dapat memberi wawasan serta pembelajaran kepada seluruh komponen masyarakat dalam mengatasi konflik yang terjadi di  dalam kehidupan dengan meningkatkan nilai kearifan lokal sebagai kunci dalam menyelesaikan konflik.

Jurnalis: Bobby Andalan / Editor: Satmoko / Foto: Bobby Andalan
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: