SENIN 14 NOVEMBER 2016

MALANG---Bagi kebanyakan orang, kegiatan mewarnai masih dianggap identik dengan aktivitas yang hanya dilakukan oleh anak-anak. Tetapi coba tengok  apa yang dilakukan para anggota komunitas 'Tabrak Warna' chapter Malang yang anggotanya rata-rata usianya di atas 15 tahun. Dalam komunitas yang baru terbentuk selama satu tahun ini, mewarnai justru di manfaatkan sebagai media relaksasi penghilang stres.



"Komunitas ini berdiri karena dari suatu kesamaan hobi yaitu sama-sama hobi mewarna. Hobi ini timbul seiring dengan adanya buku Coloring Book For Adults yang juga baru populer satu tahun belakangan ini di Indonesia," jelas ketua Tabrak Warna Chapter Malang, Heti Kristanti.

Menurut Heti di dalam buku tersebut terdapat beberapa gambar yang siap diwarnai dengan ukuran gambar lebih kecil dan detail dibandingkan dengan buku mewarnai untuk anak-anak yang ukuran gambarnya biasanya lebih besar, sambungnya.

"Ketika seseorang dilanda ketegangan, stres karena pekerjaan atau sulit tidur, mewarnai menurut psikolog berfungsi sebagai media relaksasi. Mewarnai sehingga seseorang bisa merasa lebih rileks.  Penelitian oleh para ahli itu membuktikan mewarnai mmeberikan hasil sangat baik untuk orang dewasa," ungkapnya.

Selain itu, dengan mewarnai juga bisa menyeimbangkan otak kanan dan kiri karena orang dewasa biasa lebih banyak menggunakan otak kirinya seperti untuk menghitung, menganalisa dan juga menghafal. Sehingga dapat disimpulkan otak kiri orang dewasa lebih besar daripada otak kanannya, dan dengan mewarnai bisa menyeimbangkan kedua otak tersebut, tandasnya.

Tambah Heti di dalam 'Komunitas Tabrak Warna', kegiatan mewarna ini bukan sebagai ajang lomba adu rancak mewarnai. Tidak masalah mereka mau mewarnai daun dengan warna merah, ungu, kuning atau cokelat pun tidak apa-apa Yang penting setelah mewarnai mereka bisa merasakan rileks dan nyaman.

Warna yang dipilih juga biasanya tergantung keadaan mood mereka saat mewarna. Jika kondisi mood mereka bagus saat mewarna, maka secara tidak sadar mereka akan memilih warna-warna yang cerah, begitu juga sebaliknya.

"Kami di komunitas tidak pernah menilai sebuah karya itu bagus atau jelek. Yang terpenting, bagus jeleknya sebuah karya, jika mereka sudah mencapai titik relaksasi maka itu adalah karya terindahnya," ujarnya.

Jurnalis: Agus Nurchaliq/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: