JUMAT 25 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Pengabdian para guru dan semangat belajar tinggi para murid menjadi sebuah perpaduan yang serasi dalam dunia pendidikan di pelosok Kecamatan Bengkunat Belimbing Kabupaten Pesisir Barat. Semangat pengabdian tersebut seolah tanpa melihat keterbatasan sarana belajar yang jauh dari sempurna bahkan jika dibandingkan dengan sekolah sekolah serupa di wilayah kabupaten lain di Lampung. Kondisi sekolah yang menjadi wajah pendidikan pada umumnya di pedalaman yang sangat jauh dari perkotaan.

Perjalanan guru di Bandardalam, Way Haru Kabupaten Pesisir Barat untuk menuju ke kota menggunakan moda transportasi gerobak sapi di tepi Samudera Hindia
Beratapkan asbes yang sebagian sudah terlepas, dinding papan yang bisa digunakan mengintip suasana belajar di kelas sebelah dan bahkan lantai tanah yang berdebu kala kemarau dan becek kala hujan. Kondisi guru dan siswa tersebut merupakan pemandangan biasa di SDN Bandardalam, SDN 1 Way Haru yang berada di bibir Samudera Hindia dengan jarak tempuh mencapai 50 kilometer dari pusat kota.

Jarak yang jauh tersebut akan terasa dekat jika infrastruktur pendukung berupa jalan dan jembatan tersedia dalam kondisi prima. Keterbatasan tersebut diantaranya akses yang sulit tanpa adanya listrik dari PLN dan moda transportasi gerobak sapi dan sepeda motor menjadi sarana utama bagi para guru dan siswa untuk menuju sekolah atau melakukan aktifitas sehari hari.

Memiliki murid sekitar 100 orang dari kelas 1 hingga kelas 6 keterbatasan lokal yang hanya dua lokal satu diantaranya menjadi ruang guru tak menyurutkan niat para guru mencerdaskan kehidupan bangsa. Beberapa kelas terpaksa disekat untuk bisa digunakan sebagai kelas pararel. Sebanyak 8 guru mengabdi tanpa kenal lelah satu di antaranya sudah berstatus PNS sementara 7 lainnya mengabdi sebagai guru honorer.

Semangat pengabdian para guru yang disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang di tempat terpencil. Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November menjadi momen bagi para guru untuk merenungkan nasib para guru lainnya yang belum beruntung. Sebagian besar guru yang ada di pelosok Way Haru bahkan harus berjalan kaki untuk menuju sekolah dan terpaksa melepas seragam saat kondisi banjir di sungai yang mereka lintasi kala hujan.

Mereka menerjang ombak dengan resiko keselamatan mengancam dilakukan saat harus menuju kota kecamatan dengan berbaur bersama masyarakat lain yang menggunakan gerobak sapi untuk menuju pasar.

Pengabdian dalam karya mulia yang tak lekang oleh waktu menjadi refleksi para guru untuk terus bersyukur sebagai abdi negara. Seperti rasa syukur para guru yang tetap mengajar dalam keterbatasan di Pesisir Barat Lampung nun jauh di tepian Samudera Hindia terkepung oleh hutan hutan dengan keterbatasan sarana selama bertahun tahun.

Potret dunia pendidikan di tepian Samudera Hindia Pesisir Barat tersebut terangkum dalam lensa Cendana News melihat dari dekat perjuangan para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut.

Keceriaan para siswa di Pekon Bandardalam Way Haru Pesisir Barat seusai melakukan upacara bendera.

Kondisi sekolah SDN Way Haru Kabupaten Pesisir Barat beralaskan tanah, dinding papan, atap asbes.

Guru di SDN Way Haru Pesisir Barat mengajar dengan kondisi kelas beralaskan tanah dan dinding papan yang sebagian sudah jebol.

Jembatan gantung sepanjang 30 meter yang menjadi sarana para siswa dan guru menuju sekolah setiap hari di Pesisir Barat.

Pengabdian guru di tempat terpencil_Rosida, salah seorang guru di SDN Way Haru Kabupaten Pesisir Barat Lampung.
 Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto;Henk Widi


Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: