JUMAT, 25 NOVEMBER 2016
SUMENEP---Dalam rangka mengapresiasi banyaknya perajin keris di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, digelar acara pengukuhan pengurus Sekretariat Perkerisan Nasional Indonesia (SPNI) yang dilaksanakan di Desa Aeng Tong-tong pada hari Jumat (25/11/2016) sore. Pasalnya, satu desa yang menjadi tempat pengukuhan tersebut merupakan desa yang  paling banyak mempunyai perajin keris dibandingkan dengan daerah lain yang ada di ujung timur Pulau Garam.

Fadli Zon memberikan sambutan di depan forum Sekretariat Perkerisan Nasional Indonesia (SPNI).
Banyaknya perajin keris memang tidak lepas dengan aspek ekonomi kreatif. Perlu adanya peningkatan edukasi agar masyarakat yang ada di daerah ini bisa mendapatkan penghasilan layak dari hasil sebagai perajin keris. Apalagi di bumi Sumekar ini juga memiliki banyak empu keris, maka sangat perlu adanya  sertifikasi terhadap keris agar mudah diketahui secara luas.

Acara pengukuhan pengurus Sekretariat Perkerisan Nasional Indonesia (SPNI) di Desa Aeng Tong-tong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep.
“Empu keris di sini cukup banyak, ini bisa menjadi satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan ekonomi kreatif yang bisa menjadikan penghasilan layak. Untuk itu memang perlu adanya peningkatan edukasi, karya-karya keris itu sendiri harus disertifikasi sehingga mudah untuk dijangkau dan dipelajari bentuk motif dapur dan sebagainya. Agar orang bisa dengan mudah mempelajari,” kata Fadli Zon, Ketua Umum Sekretariat Perkerisan Nasional Indonesia (SPNI) saat berkunjung ke Kabupaten Sumenep, Jumat (25/11/2016).

Fadli Zon menandatangani MoU mengenai keris sebagai pusaka budaya.
Disebutkan, dengan adanya sertifikasi terhadap keris-keris yang ada, nantinya masyarakat akan lebih mengapresiasi jika keris itu merupakan benda budaya. Maka dari itu, pihaknya akan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak agar keris tersebut tidak dianggap senjata tajam, melainkan pusaka  budaya.

Fadli Zon sedang memperhatikan jenis keris tertentu.
“Kita harus sampaikan juga kepada pihak aparat hukum nanti akan ada MoU bahwa keris ini benda budaya, bukan senjata tajam. Dan kalau bisa setiap keris ada keterangan penjelasannya. Maka jika setiap keris ada sertifikasinya tidak bisa dianggap senjata tajam, sehingga keris ini bisa menjadi benda yang bisa dibawa dalam even-even tertentu. Jadi kita akan melakukan MoU dengan beberapa pihak supaya mempermudah,” jelasnya.

Dengan banyaknya perajin keris di daerah ini, memang perlu diapresiasi oleh semua pihak, bukan hanya untuk wilayah Provinsi Jawa Timur saja. Memang, Kabupaten Sumenep juga dikenal sebagai kota keris di Indonesia, mengingat perajin keris paling banyak ada di kabupaten ini.

Jurnalis: M. Fahrul / Editor: Satmoko / Foto: M. Fahrul
 








Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: