RABU 9 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Pengrajin,pedagang tempe dan tahu mulai melakukan strategi produksi dan pemasaran di tengah naiknya harga kedelai di sejumlah distributor. Salah seorang pengrajin tahu dan tempe di Desa Pasuruan Kecamata Penengahan, Asror (40) bahkan mengungkapkan telah menyiasati mahalnya bahan baku pembuatan tahu dan tempe tersebut dengan melakukan pengurangan ukuran tahu dan tempe yang dibuatnya untuk menyiasati harga bahan baku yang mulai merangkak naik.


Seorang karyawan Asror dengan penggilingan kedelai.
Asror mengaku saat ini menggunakan plastik dan daun pisang untuk pembuatan tempe dan menakar kedelai yang sudah siap dijadikan tempe dengan pengurangan sebanyak 20 persen dari ukuran biasa demikian halnya dengan saat pembuatan tahu pemotongan dilakukan lebih kecil dari ukuran biasa meski harga penjualan tidak mengalami kenaikan yang signifikan.

Asror yang memiliki dua pekerja pembuatan tahu dan tempe dengan cara tradisional mengaku bahan baku pembuatan tahu dan tempe dibelinya dengan sistem pembelian kuintalan. Ia bahkan membeli bahan baku sebanyak satu ton yang digunakan untuk jangka waktu beberapa pekan sebab dalam sehari ia mampu memproduksi sekitar 50 kilogram kedelai yang diolah menjadi 25 kilogram tempe dan 25 kilogram tahu. Bahan baku kedelai yang merupakan jenis kedelai impor dibelinya dari kota Kalianda dengan harga Rp750.000,- per 100 kilogram (1 kuintal). Harga tersebut ungkapnya lebih mahal dari sebelumnya hanya Rp700.000,- per kuintalnya.

"Harga kedelai memang sudah naik dari tingkat distributor namun sebagai pengrajin tahu dan tempe cara menyiasatinya tentu bukan dengan menaikan harga jual tahu karena kalau dinaikkan pelanggan kami akan menjerit, solusinya ya memperkecil ukuran,"ungkap Asror saat ditemui Cendana News di lokasi tempat pembuatan tahu dan tempe miliknya, Rabu (9/11/2016).

Ia meminta para karyawannya untuk melakukan penakaran yang tepat sebab sebanyak 25 kilogram kedelai yang telah dipersiapkan mulai dari proses pencucian, perendaman hingga dimasak dan siap diolah menjadi tempe rata rata bisa menghasilkan sekitar 100 bungkus tempe ukuran tertentu. Saat ini Asror mengaku pengukuran takaran dilakukan sehingga menghasilkan tempe dengan jumlah mencapai 150 bungkus. Meski berukuran lebih kecil beberapa centimeter harga tempe yang dijual tetap sama seperti sebelum harga bahan baku kedelai naik. Pembuatan dengan plastik dan juga daun pisang pun diakuinya diukur lebih kecil meski hanya beberapa centimeter agar konsumen tidak kecewa.

Sementara itu proses pembuatan tahu yang memakai bahan baku sebanyak 25 kilogram kedelai pun tetap sama dengan melakukan pencetakan sebanyak 10-15 cetak kini ditambah menjadi 20 cetakan. Sistem tersebut terang Asror berakibat tahu menjadi lebih tipis namun ia mengaku saat tahu putih digoreng setengah matang ukuran tahu akan mengembang sehingga bentuknya tidak akan terlalu terlihat kecil. 

Karyawan yang sudah menyiapkan ember ember penampungan untuk proses selanjutnya yakni "melaru" atau memeras dan mendiamkan hasil pemasakan yang sudah berubah menjadi bubur tersebut bekerja sejak subuh. Setelah 60 menit berlalu, proses pemerasan untuk memisahkan sari sari kedelai pun dilanjutkan pencetakan dan pemotongan.

Untuk satu cetakan Asror mengaku bisa membuat sekitar 200 potong tahu dengan ukuran sekitar 3-4 cm tahu putih yang dipotong manual dengan penggaris dari kayu.

Harga bahan baku kedelai yang sebelumnya hanya mencapai kisaran Rp7.000,- dan naik pada kisaran Rp7.400 hingga Rp7.750 perkilogram diakuinya memiliki pengaruh cukup terasa bagi pengrajin tahu dan tempe tradisional seperti dirinya. Apalagi bahan baku kedelai nyaris tak pernah berasal dari kedelai lokal melainkan kedelai impor yang didatangkan dari Amerika dengan ukuran lebih besar dari kedelai lokal.

Asror mengaku memiliki pelanggan tetap untuk usaha pembuatan tahu dan tempe yang ditekuninya selama 6 tahun tersebut. Meski berasal dari Jawa Tengah dan merantau di Lampung untuk menjadi pengrajin tahu dan tempe ia mengaku memiliki pelanggan tetap diantaranya penjual tahu tempe keliling, pemilik warung makan, penjual sayur. Di tingkat konsumen harga tempe yang mencapai Rp5.000,- pertiga bungkus untuk tempe bungkus plastik dan 2 lonjor tempe bungkus daun pisang hingga saat ini masih dijual dengan Rp5.000 untuk dua lonjor (batang) tempe.

"Intinya kami tetap tidak menaikkan harga meski bahan baku naik dan solusi terbaik memperkecil ukuran karena sebagian besar konsumen kami justru para pedagang pengecer kalau kami sudah naik kasihan mereka tidak dapat untung,"ungkap Asror.

Penjualan makanan tradisional yang murah meriah tapi bergizi dengan protein nabati dari tanaman kacang polong polongan jenis kedelai tersebut juga mempengaruhi penjual sayur keliling yang setiap hari berkeliling dari desa ke desa untuk menjajakan sayur dan tempe. Suhadi (34) penjual sayur keliling dan menjual tahu dan tempe mengakui kenaikan harga bahan baku kedelai tak mempengaruhi harga tahu dan tempe sebab menurutnya sejak dari pengrajin hanya ukuran tahu dan tempe yang berubah namun harga tidak berubah.

Suhadi mengakui sebagai penjual sayur keliling ia mengaku sering mendapat komplain dari kaum ibu rumah tangga (IRT) jika harga sayuran termasuk tahu tempe yang dijualnya mahal. Ia mengaku menjual tahu dengan bungkus pisang masih diharga Rp5.000 untuk dua lonjor meski ukurannya lebih pendek dari harga sebelumnya dan harga tahu Rp500 perbiji. Ia juga mengakui harga sayur mayur yang ia jual rata rata sudah naik dari tingkat pengepul di pasar diantaranya harga sawi, bayam, dan sayuran jenis lainnya.

Suhadi pedagang sayur keliling kerap dikomplain para ibu pelanggannya.
"Saya kerap mendapat keluhan dari kaum ibu tapi mereka sebagian maklum dan tahu lebih dulu dari berita berita di televisi. Mereka tahu kalau saya tidak ikut menaikan harga, maka modal juga tidak kembali,"ungkap Suhadi.

Ia berharap harga bahan baku tidak mempengaruhi harga jual tahu dan tempe. Selain itu pasokan yang terhambat sejumlah sayuran terutama cabe merah tak membuat harganya terus melambung tinggi karena selain mempersulit dirinya sebagai tukang sayur, imbasnya banyak ibu rumah tangga yang enggan berbelanja dalam jumlah banyak. Suhadi mengaku sejak pukul 05:00 WIB berkeliling dari desa ke desa untuk berjualan sayur termasuk tahu dan tempe dan berbagai jenis sayuran lainnya.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: