KAMIS 10 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Keberadaan hutan milik Kementerian Kehutanan di Kabupaten Lampung Selatan yakni Register I Way Pisang memungkinkan investor melakukan pengembangan peternakan dengan sistem silvo pastural. Menurut Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lampung Selatan, Cecep Khaerudin, sistem silvo pastura memungkinkan investor melakukan pemanfaatan hutan tanpa merusak lingkungan yang mengadopsi sistem peternakan di Australia.


Khusus di Kabupaten Lampung Selatan, Cecep Khaerudin mengungkapkan realisasi penerapan sistem tersebut sedang dalam proses pengerjaan oleh PT Penyelamt Alam Nusantara (PAN) yang sedang melakukan proses pembukaan lahan di Siring Dalem yang masuk Desa Pendowo Kecamatan Ketapang.

Ia mengungkapkan sesuai aturan Kementerian Kehutanan, pemberian izin maksimal untuk peternakan silvo pastura hanya 500 hektar dan bisa memanfaatkan lahan kehutanan yang bisa dimanfaatkan untuk peternakan sapi. Keberadaan peternakan sistem tersebut menurut Cecep akan semakin menambah ketahanan pangan daging di Kabupaten Lampung Selatan yang merupakan kabupaten pemasok daging terbesar di Sumatera dan urutan keempat di Provinsi Lampung.

"Berbagai upaya terus dilakukan untuk mengembangkan sektor pertanian diantaranya dengan melakukan perluasan lahan peternakan, intensifikasi serta proses pembuahan yang dilakukan secara alami dan secara insemenasi buatan,"ungkap Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lampung Selatan Cecep Khaerudin saat dikonfirmasi Cendana News disela sela peringatan hari pahlawan, Kamis (10/11/2016).

Ungkap Cecep investor atau perusahaan yang akan menanamkan modalnya dalam bentuk usaha peternakan sapi sistem silvo pastura tetap harus mematuhi peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia nomor: P.63/Menhut-II/2009 Tentang tata cara pemberian izin pemanfaatan kawasan silvo pastura pada hutan produksi. Pengembangan ternak tersebut sesuai dengan Bab I pasal (1) yang menyebutkan izin usaha pemanfaatan kawasan silvo pastura yang selanjutnya  disingkat IUPK-SP yang merupakan kegiatan kehutanan yang dikombinasikan secara proporsional dengan usaha peternakan di dalam kawasan hutan produksi yang meliputi pelepasliaran dan atau pengandangan ternak dalam rangka pengelolaan hutan lestari.

Pengembangan sektor kehutanan untuk integrasi dengan peternakan dilakukan dengan menggandeng pihak petani untuk membudidayakan pakan ternak jenis rumput gajahan, tanaman jagung, sorghum yang bisa dijadikan bahan baku pakan ternak. Saat ini di Lampung Selatan pola peternakan yang dikembangkan masih berupa sistem feedloter (penggemukan) di antaranya milik PT Juang Jaya Abdi Alam (JJAA), PT Fortuna, PT Sumber Cipta Kencana dan PT Ranso Welvarindo yang memelihara sapi jenis brahman dalam jumlah antara 500 ekor hingga di atas seribu ekor. Khusus untuk pengembangan sistem silvo pastura saat ini baru dilakukan oleh PT PAN yang akan mengembangkan ribuan ekor sapi jenis brahman.

Terkait pengembangan peternakan sistem Silvo Pastura yang dikembangkan oleh PT PAN di Kecamatan Ketapang, saat ini proses pembukaan lahan memasuki proses pembersihan lahan (land clearing). Sekitar 15 hektar lahan telah dibersihkan sebagai lokasi peternakan sapi sistem silvo pastura yang mencapai luas 563 hektar dan sudah memperoleh izin dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Humas PT PAN, Komarudin, mengungkapkan lokasi pengembangan peternakan tersebut nantinya tetap akan memiliki konsep pelestarian lingkungan dengan tetap fokus pada usaha peternakan.

"Beberapa jenis pohon akan ditanam di sekeliling peternakan dan tentunya pemberdayaan masyarakat lokal akan dilakukan dengan sistem kerjasama dalam penanaman pakan ternak sapi,"ungkap Komarudin.

Area peternakan tersebut nantinya akan dilengkapi dengan balai karantina pertanian, rumah potong hewan (RPH), area kandang,lokasi gudang, lokasi pembuatan pakan, embung air,lokasi penanaman rumput gajah dan jagung untuk sumber pakan. Peternakan yang berada di kawasan register I Way Pisang tersebut akan digunakan untuk pengembangan ternak sapi sistem silvo pastura jenis brahman yang akan didatangkan dari Australia.

Pengembangan ternak dengan sistem silvo pastura juga dimaksudkan untuk mengembalikan fungsi lahan register yang selama ini hanya digunakan oleh masyarakat untuk pertanian jagung. Sementara itu sistem peternakan yang dikombinasikan dengan kehutanan akan menjadi sarana untuk melestarikan  berbagai macam tanaman di sebagian lahan register 1 Way Pisang yang sudah dimanfaatkan oleh earga sebanyak 35ribu hektar untuk lahan pertanian jagung. Selain kawasan perbukitan yang sudah gersang, penanaman berbagai jenis pohon yang bibitnya diambil dari persemaian permanen akan mengembalikan fungsi sungai sungai di kawasan tersebut.

Lokasi peternakan untuk budidaya sapi tersebut sekaligus akan menjadi sentra peternakan besar di Lampung Selatan yang akan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dalam upaya melakukan budidaya ternak sapi. Sebab selama ini dalam usaha budidaya sapi masyarakat masih menerapkan sistem tradisional dan pembuatan peternakan sapi di kawasan tersebut akan memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang tinggal di dekat silvo pastura.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: