RABU 16 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Direktorat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah DI Yogyakarta menangkap seorang mahasiswa inisial RH (21), asal Samarinda, Kalimantan Timur yang diduga hendak mengirim paket ganja seberat 94 Gram melalui Bandara Adisucipto Yogyakarta. Tersangka diketahui menjual ganja melalui media sosial dan mengirimnya dengan jasa pengiriman.

Dari kiri ke kanan  Wahyu Agung Jatmiko, Baron Wuryanto  memperlihatkan barang bukti.


Tertangkapnya tersangka RH, berawal dari temuan paket ganja seberat 94 Gram di Bandara Udara Adisucipto oleh Petugas AVSEC PT Angkasa Pura 1. Berdasar temuan ganja yang sedianya hendak dikirim ke Jakarta itu, Petugas AVSEC PT AP 1 melapor ke Polda DIY.

"Petugas kemudian segera melakukan penyelidikan. Kurang lebih selama dua bulan, tersangka pelaku berhasil diketahui dan ditangkap di rumah kosnya di Kampung Pogung Lor, Sinduadi, Mlati, Sleman", jelas Kepala Sub Direktorat 1 Reserse Narkoba Polda DIY, Ajun Komisaris Besar Polisi Wahyu Agung Jatmiko, saat gelar perkara di Mapolda setempat, Rabu (16/11/2016), bersama Wakil Direktur Ditres Narkoba Polda DIY, Ajun Komisaris Besar Polisi Baron Wuryanto dan jajaran.

Wahyu menjelaskan, tersangka RH ditangkap di rumah kosnya bersama barang bukti narkotika golongan satu jenis ganja sebanyak 2 kilogram, timbangan, satu lembar bukti pengiriman paket dari sebuah jasa pengiriman paket di wilayah Mergangsan, Kota Yogyakarta, dua buah telepon genggam dan Kartu ATM.

Lebih jauh, Wahyu mengatakan, selama ini tersangka menjual barang haram tersebut melalui berbagai jenis media sosial seperti instagram dan line. Pembayaran dilakukan secara transfer antar bank, dan pengiriman barang dikirim melalui jasa pengiriman barang untuk luar kota, sedangkan di dalam kota menggunakan jasa gojek atau ojek online.

"Tersangka mengaku mendapatkan pasokan ganja dari Medan, dan mengirimnya ke banyak daerah antara lain Semarang, Makasar dan Banjarmasin", jelasnya.

Atas perbuatannya itu, tersangka terancam Pasal 114 Ayat 1 Subsider Pasal 111 Ayat 2 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 20 tahun.

"Kami juga masih mengembangkan kasus ini untuk mengungkap jaringan yang ada di atasnya", pungkas Wahyu.

Jurnalis: Koko Triarko/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Koko Triarko
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: