MINGGU, 20 NOVEMBER 2016
MALANG---Kerang Chu memang sudah menjadi makanan favorit bagi masyarakat Aceh, terutama jika di jadikan gulai pliek yang banyak dijumpai di rumah makan khas Aceh. Namun selain dagingnya yang enak untuk dikonsumsi, limbah kerang Chu berupa kulit maupun cangkangnya tersebut ternyata dapat dikreasikan menjadi sebuah karya seni bernilai ekonomis tinggi, seperti yang dilakukan tiga orang mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).
 
Di tangan kreatif tiga orang mahasiswa. Andrian, Zakiatul Muna, dan Maria Ulfa, limbah cangkang kerang Chu yang dikombinasikan dengan cangkang telur berhasil diubah menjadi sebuah inovasi lampu hias yang sangat menarik dengan nama Inhas Catur, kependekan dari Inovasi Lampu Hias Kerang Kombinasi Cangkang Telur.
 
Menurut Andrian, di Aceh, kerang Chu sangat mudah untuk didapat dan dagingnya sudah menjadi makanan yang lazim dikonsumsi oleh masyarakat Aceh. Sedangkan kulit dan cangkang dari kerang tersebut biasanya dibuang dan tidak dimanfaatkan.
 
Tiga mahasiswa Unsyiah yang berhasil membuat terobosan dengan memanfaatkan limbah cangkang kerang dan telur menjadi kreasi lampu hias.
"Dari situ kemudian kami sebagai mahasiswa dengan dipandu oleh dosen memikirkan cara bagaimana mengolah limbah kerang Chu tersebut agar bisa menjadi sebuah kreasi yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Dan akhirnya kita putuskan untuk membuat lampu hias dari kerang Chu yang dikombinasikan dengan cangkang telur," ungkapnya saat memamerkan produknya di expo Kewirausahaan Mahasiswa di Universitas Brawijaya, Jumat (18/11/2016).
 
Untuk membuat lampu hias Inhas Catur ada dua tahapan yang harus dilakukan, yakni yang pertama tahapan pencucian dan perendaman serta tahapan kedua pembentukan. Pada tahap pertama, cangkang kerang dicuci hingga bersih, kemudian direbus untuk menghilangkan baunya. Selanjutnya, cangkang kerang direndam dengan kaporit atau tawas selama 24 jam. 
 
Setelah tahapan pertama selesai dilakukan, barulah masuk ke tahap kedua yakni pembentukan. Pada tahap ini kerang dipotong dan dikikis agar lebih rapi kemudian dicetak menggunakan malding dan selanjutnya tinggal difinishing, urainya.
 
Sementara itu Andrian mengatakan bahwa produknya tersebut sudah mulai dipasarkan secara online melalui Instgram dan Facebook.
 
"Untuk harganya, kami mematok di kisaran Rp 120.000. Selain bentuk lampu hias yang sudah diproduksi sekarang ini, nanti ke depannya kami juga akan membuat lampu hias dengan bentuk pintu Aceh," pungkasnya.
 
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Satmoko / Foto: Agus Nurchaliq 
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: