JUMAT 11 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Tiada obat nyamuk bakar, mancung (pelepah kelapa) pun jadi. Asturiah (50) sudah belasan tahun memanfaatkan bagian dari pohon kelapa untuk mengusir nyamuk di saat musim hujan. Kelapa   banyak terdapat di sejumlaj kebun dalam wilayah Desa Kuripan, Lampung Selatan, tempat dia bermukim. Asturiah salah seorang warga yang faham memanfaatkan mancung. Hingga saat ini warga Desa Kuripan memanfaatkan bagian dari pohon kelapa mulai dari buah, pelepah, batang hingga akar.

Astuti salah seorang warga Desa Kuripan, Lampung menunjukkan mancung yang dijemur.
Asturiah mengaku pemanfaatan mancung kelapa sudah diajarkan sejak dirinya masih kecil secara turun temurun untuk berbagai keperluan. Ia mengaku diajari oleh kedua orangtuanya untuk memanfaatkan mancung dengan cara tradisional.  Jauh sebelum ada pestisida atau obat nyamuk bakar dan semprot serta lotion anti nyamuk, warga desa ini turun temurun memanfaatkan mancung untuk mengusir nyamuk.

"Awalnya ikut orangtua dulu zaman kecil disuruh mengumpulkan mancung kelapa dan setelah itu dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengusir nyamuk. Saya terapkan hingga saat ini bahkan saya menyimpan beberapa ikat mancung sebagai cadangan,"terang Asturiyah saat ditemui Cendana News di Desa Kuripan, Jumat (11/11/2016).

Proses Pengelolahan Mancung Menjadi Obat Nyamuk Bakar

Astuti menerangkan proses membuat obat anti nyamuk bakar tradisional tersebut dimulai dengan mengumpulkan mancung yang banyak terdapat di kebun. Asturiyah mengaku tidak setiap pohon kelapa memiliki mancung yang jatuh di tanah sehingga harus mencari mancung dari kebun ke kebun sekaligus mencari kayu bakar.

Setelah dikumpulkan mancung yang berasal dari kebun, selanjutnya mancung akan dikumpulkan dalam karung yang akan direndam di Sungai Way Kuripan dengan ditekan menggunakan batu besar untuk menghindari mancung hanyut terbawa air. Proses perendaman dilakukan untuk mengeluarkan zat zat tertentu yang akan berguna menimbulkan aroma tertentu yang tak disukai nyamuk.

Biasanya mancung  direndam selama hampir dua hingga tiga hari.  Mancung sehabis direndam di aliran air sungai akan diproses dengan cara melakukan pembelahan dengan ukuran tertentu dengan cara disuir. Bentuknya menyerupai rangkaian sapu lidi yang dipotong rapi selanjutnya akan dijemur di terik sinar matahari selama tiga hingga empat hari sampai kering.

Mancung direndam disungai untuk mengelaurkan zat yang tidak disukai nyamuk.
Pengeringan dilakukan untuk lebih mengawetkan mancung yang akan disimpan sebelum digunakan sebagai bahan bakar kayu atau sebagai bahan untuk mengusir nyamuk atau serangga lain.

"Aromanya nyaris menyerupai obat nyamuk bakar yang dijual di pasaran namun dengan mancung ini lebih alami untuk mengusir nyamuk di sekitar rumah,"ungkap Asturiah.

Kearifan Lokal 

Cara kearifan lokal penggunaan pelepah kelapa untuk bahan bakar dan secara khusus untuk mengusir nyamuk menurut Alwi (60), warga desa lainnya  merupakan cara yang dilakukan secara turun temurun jauh sebelum obat nyamuk digunakan. Terkait efektif atau tidaknya untuk mengusir nyamuk ia mengungkapkan cara tersebut terbukti efesien dan telah dilakukan berpuluh puluh tahun.

Alwi mengaku selama ini pelaksanaan fogging (pengasapan) terhadap nyamuk belum pernah dilakukan di wilayah tersebut terutama karena sebagian sumber air yang ada di wilayah tersebut merupakan sumber air mengalir sehingga potensi akan adanya penyakit demam berdarah (DBD) dan malaria cukup minim. Namun ia mengaku penggunaan mancung dengan cara dibakar untuk mengusir nyamuk masih tetap dilakukan keluarganya dengan harapan bisa mencegah keluarganya dari gigitan nyamuk.

Meski demikian penggunaan mancung kelapa untuk untuk mengusir nyamuk masih dominan digunakan oleh warga sekitar, demikian juga proses menggunakan mancung kelapa untuk bahan bakar masih umum dilakukan oleh masyarakat di Desa Kuripan. Tak mengherankan hampir di beberapa halaman rumah masyarakat yang sebagian masih mempertahankan rumah dengan bahan kayu menjemur mancung kepala yang telah disuir suir di depan rumah mereka.

Berfungsi sebagai Energi Pengganti Minyak

Asturiah yang hingga kini memiliki kompor gas, alat penanak nasi dari listrik pun mengaku masih menggunakan kayu bakar termasuk mancung kelapa untuk bahan bakar memasak air. Penggunaan mancung kelapa tersebut selain lebih hemat, ketersediaan bahan baku di alam juga membuat warga termasuk Asturiah masih menggunakan mancung untuk keperluan sehari hari.

Puluhan ikat mancung yang belum direndam dan sudah dijemur tersusun rapi di gudang kayu miliknya sebagai cadangan bahan bakar sebab pada saat tertentu saat harga gas elpiji ukuran 3 kilogram mahal ia lebih memilih memasak menggunakan bahan bakar kayu.

Warga menggunakan mancung untuk bahan bakar keperluaan memasak.
Selain digunakan untuk mengusir nyamuk di dalam rumah, penggunaan mancung kelapa yang dibakar tersebu erat kaitannya dengan warga yang sebagian masih memelihara ternak. Ternak yang biasanya berupa sapi, kerbau atau kambing diberi pengasapan pada luar kandang untuk mencegah lalat, nyamuk atau pitak mengganggu hewan ternak yang mereka miliki.

Bisa Menjadi Pengganti Pengasapan Pembunuh Nyamuk

Terkait penggunaan mancung kelapa tersebut, salah satu petugas medis yang bertugas di wilayah tersebut, Astuti, mengaku proses pengasapan yang dilakukan warga untuk mengusir nyamuk nyaris sama dengan proses pengasapan yang dilakukan oleh petugas kesehatan. Upaya tersebut dilakukan untuk membunuh nyamuk dewasa yang sudah berkeliaran di dalam rumah sementar itu untuk membunuh jentik nyamuk tetap harus dilakukan terutama di bak bak mandi atau tempat yang tergenang dan kaleng kaleng yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk.

"Kita tetap lakukan penyuluhan untuk pola hidup bersih dan sehat mulai dari Posyandu, kegiatan warga lain serta upaya pembersihan lingkungan setiap hari Jumat dan menjaga kearifan lokal masyarakat yang tetap mempertahankan cara tradisional tersebut,"ungkap Astuti.

Astuti yang juga seorang perawat juga mengaku penggunaan mancung untuk mengusir nyamuk hanya salah satu cara kearifan lokal masyarakat setempat dalam pemanfaatan hasil kebun. Selain itu hasil kebun yang bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar juga bisa menghemat penggunaan uang untuk keperluan bahan bakar. Meski demikian upaya menjaga kebersihan dan menggunakan pembakaran mancung kelapa harus dilakukan hati hati agar tidak membahayakan dan menyebabkan kebakaran.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: