KAMIS 24 NOVEMBER 2016

MATARAM---Selain volusi kendaraan, peningkatan emisi di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagian besar disebabkan akibat tingkat kerusakan kawasan hutan yang sangat tinggi dan mengakibatkan banyak karbon yang hilang.

Mantan Kepala Dinas Kehutanan NTB, Andi Pramaria
"Kerusakan hutan seperti kebakaran hutan, perambahan, pembalakan liar dan ilegal loging merupakan salah satu faktor penyebab peningkatan emisi dan menghilangnya banyak karbon" kata mantan Kepala Dinas Kehutanan NTB, Andi Pramaria di acara lokakarya isu perubahan iklim di hotel Golden Palace Mataram, Kamis (24/11/2016).

Aktivitas tambang juga termasuk paling banyak berkontribusi menghilangkan sumber karbon, karena kawasan hutan banyak yang dirusak dan menghasilkan emisi tinggi.

Keberadaan hutan sebagai penghasil karbon dan mengurangi emisi bukan tanpa alasan, mengingat kawasan hutan merupakan penghasil karbon terbesar dan ampu menghasilkan karbon 60 sampai 70 persen.

"Memang untuk menurunkan emisi dan mengembalikan kawasan hutan sebagai penghasil karbon, kawasan hutan harus dikembalikan seperti biasa, melalui proses rehabilitasi atau penghijauan," jelasnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, NTB sendiri menargetkan penurunan emisi melalui program rehabilitasi kawasan hutan sebesar 22 persen dari besaran emisi NTB sebesar 1,489 ton.

Sebagai informasi, sampai 2016, kerusakan kawasan hutan di NTB cukup memprihatinkan, dimana kerusakannya mencapai 550.000 hektar dari total luas kawasan hutan seluas 1.700.000 ribu hektar.

Jurnalis: Turmuzi/Editor: Irvan Sjafari/Foto; Turmuzi





Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: