SENIN 21 NOVEMBER 2016

Oleh Thowaf Zuharon*

JAKARTA---Perkembangan imajinasi manusia dalam komik, telah memunculkan Manusia Super (Superman), Manusia Kelelawar (Batman), Manusia Laba-Laba (Spiderman), Manusia Es (Ice Man), dan sebagainya. Tapi, dalam dunia imajinasi kenyataan sehari-hari, Anda harus mengenal Manusia Salep (Salep Man). Mungkin anda baru saja dengar. Tapi, sebenarnya, manusia salep ini cukup banyak di masyarakat.  

Thowaf Zuharon


Siapa pun Anda yang hidup dalam tata kehidupan modern, pasti pernah memakai salep. Ada yang dioleskan di sela jari kaki, ada salep untuk keseleo, ada salep untuk panu atau kudis, dan sebagainya. Sangat banyak jenis dan macam salep. Tapi, yang harus dicermati, penyakit atau keluhan itu bisa muncul di berbagai bagian tubuh kita. Bisa muncul di wajah, badan, kaki, dan sebagainya. Pada bagian tubuh yang terhormat maupun yang tidak terhormat, Salep tidak boleh menolak untuk berfungsi.

Misalnya ada penyakit yang muncul di kemaluan atau dubur, dan solusinya hanya dengan salep, maka, salep harus menyediakan dirinya menyelesaikan persoalan itu. Sebusuk atau seanyir apapun bagian tubuh yang harus diolesi, salep selalu siap siaga. Salep harus mati-matian untuk membela dan menemani materi busuk itu, sekotor apa pun, sesalah apa pun. Tanpa kecuali. 

Dalam dunia wayang Mahabharata, sosok manusia salep terwakili oleh sosok Sangkuni yang sangat munafik, licin, licik, culas, hasut, penuh tipu muslihat. Ia merupakan paman para Korawa dari pihak ibu. Sangkuni selalu menghasut para Korawa agar memusuhi Pandawa.

Dengan berbagai tipu muslihatnya, Sengkuni berhasil merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa melalui sebuah permainan dadu. Sengkuni terkenal dengan prinsip hidupnya yang ekstrim: biarlah orang lain menderita, yang penting hidupnya bahagia. Sengkuni adalah simbol kemunafikan, keserakahan, arogansi, dan keangkaramurkaan. Sengkuni adalah salep yang terus membela dan menutupi seluruh kebusukan Duryudana dan adik-adiknya. Sengkuni selalu rela menempel kepada para Kurawa, meskipun Kurawa itu kotor, berbentuk borok, dan bernanah. 

Sengkuni ini tidak sakti, tapi sangat berbahaya. Ia bisa memuja habis-habisan kepada tuan yang sedang dibelanya. Perilaku jahat tuan atau momongannya bisa dipersepsikan bagus. Karena ia pandai mempengaruhi orang, serta memiliki daya tarik (pesona). Itu sebabnya, sosok seperti Sengkuni mudah meraih simpati, mendapat kepercayaan, dan gampang merekrut pengikut.

 Dalam kehidupan anda sehari-hari, silakan anda mengamati. Ada tipe manusia yang perilakunya sehari-hari seperti salep alias Sengkuni. Misalnya, ada seorang manajer di kantor, melihat pimpinannya bertingkah jahat terhadap bawahan, tapi dia malah membela mati-matian atasannya itu. Demi mendapatkan promosi kenaikan jabatan. Inilah salah satu contoh Manusia Salep.

Sederhananya, manusia salep adalah manusia oportunis dalam berbagai dimensi perwujudannya. Dalam dunia hukum, manusia salep mewujud dalam sosok Jaksa-Hakim-Pengacara yang memainkan perkara untuk keuntungan pribadinya. Polisi yang tidak melaksanakan penegakan hukum KUHP dan KUH Perdata dengan baik, maka dia juga manusia salep. Jika seseorang jelas bersalah dan harus dibawa ke meja hukum, tapi tidak dilakukan oleh Polisi, berarti polisi tersebut adalah Polisi Salep. Jika seseorang harus dipenjarakan, tapi tidak dilakukan, maka kualitas penegak hukum itu adalah manusia salep. 

Seringkali, manusia salep lebih banyak lagi kita jumpai di kancah politik. Sebuah dunia yang membuat orang bisa bersikap, pagi bilang tempe, sore sudah bilang kedelai. Dunia lidah tak bertulang. Kemarin jadi musuh, hari ini menjadi sahabat erat.

Manusia salep dalam kancah politik bisa memiliki wajah tak berhingga. Misalnya, pada tahun lalu, sebagai kader partai biru, ia habis-habisan mencerca pemimpin dari partai merah. Bahkan, dengan segala daya upaya, dengan berbagai muslihat, memaki dan menghina  pemimpin dari partai merah itu. Tapi, pada tahun sekarang, politisi salep ini malah habis-habisan membela pimpinan dari partai merah ini. Segala cara dilakukan untuk menutupi bau busuk nanah dari pimpinan partai merah.

Setelah berbalik bersahabat dengan pimpinan partai merah, politisi salep mati-matian menghabisi, memaki, menghina, dan menjatuhkan pamor dari pimpinan partai biru. Yang penting bukanlah benar dan salah. Yang penting adalah menang, menang, dan selalu menang. Harus selalu menang, meski dengan cara paling kotor dan jahat.

Politisi salep yang lebih berbahaya lagi adalah politisi yang sengaja disuruh untuk bergabung di partai musuh sebagai sebuah muslihat untuk mendapatkan segala informasi penting dan melakukan pembusukan di tempat lawan. Jadi, harus bertempat dan menempel di dubur manusia yang sedang bernanah pun, salep tetap akan bisa kerasan untuk menempel.

Ketika menjelma menjadi sosok pemimpin besar, pemimpin salep akan berperilaku gampang memanipulasi kebijakan yang membodohi rakyat. Kemarin bilang berkoalisi penuh dengan Negara Gandum, tapi ternyata berkoalisi investasi dengan Negara Bambu. Hari ini melakukan pelecehan kepada kaum agama, besok bilang tidak sengaja dan meminta maaf. Begitulah watak kacau dari pemimpin salep.  

Sebagai gambaran, dalam kisah Mahabharata, Sengkuni sebagai manusia salep yang legendaris, karma kematiannya adalah disobek mulutnya hingga hancur dan kehabisan darah oleh Bima dengan kuku pancanaka. Manusia tanpa ketetapan dan integritas alias manusia salep, bisa berakhir seperti Sengkuni. Watak sengkuni, bisa dipastikan bertentangan dengan nilai Pancasila dan UUD 1945.

Di sisi lain, jika imajinasi kita kembangkan untuk membuat komik marvel, menciptakan tokoh perwujudan manusia yang bisa menjelma menjadi salep, pasti sangat menarik kisahnya. Jika ada tokoh komik bernama manusia salep, bisa jadi berakibat, banyak anak-anak akan mau dikasih salep kalau pas kena panu, kudis, ataupun kurap. Jika digunakan dengan benar, salep juga berfungsi sebagai penyembuhan.

Silakan menentukan pilihan dalam bersikap. Tidak ada yang melarang untuk menjadi manusia salep, manusia plester, manusia perban, manusia balsam, manusia agama, manusia pancasila, manusia sampah, dan sebagainya. Khusus bagi para politisi yang menjadi kutu loncat partai, maju tak gentar membela yang bayar, selamat menjadi Manusia Salep!


*Thowaf Zuharon, Penulis Buku Ayat-Ayat yang Disembelih dan Pernah Memakai Salep
Editor: Irvan Sjafari
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: