MINGGU, 20 NOVEMBER 2016

JAKARTA---Pencetus pertama kali dari kegiatan atau Komunitas asli Betawi bernama Marawis di Universitas Prof. DR. Hamka (UHAMKA) Jakarta adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau disingkat IMM di Fakultas Agama Islam (FAI) UHAMKA.

Penyair wanita membuka alunan Sholawat dalam seni budaya Marawis


Muhammad Ryan Prayotama, alumni FAI UHAMKA sekaligus senior di Komunitas Marawis UHAMKA mengatakan tidak begitu jelas kapan berdirinya Komunitas budaya asli Betawi tersebut namun tetap nyata eksistensinya.

" Sempat vakum beberapa lama karena beragam alasan baik kegiatan akademik maupun kemahasiswaan masing-masing anggota, namun dua bulan belakangan sudah mulai aktif lagi dan puncaknya adalah penampilan kami pada acara UHAMKA Rajo Fest III 2016," tutur Ryan kepada Cendana News.

Berbicara tentang kebudayaan asli Betawi Marawis sama artinya dengan membicarakan peleburan kebudayaan lokal dengan kebudayaan Islam itu sendiri yang tentunya berasal dari Timur tengah. 

Penyebaran dan Perkembangan Islam di Indonesia memang berakibat pada banyak sekali perpaduan maupun kolaborasi secara kultural yang akhirnya berubah menjadi kearifan lokal masyarakat setempat dalam kehidupan sehari-hari.

Jika dalam Tari Ratoh Jaroe, penyair memainkan Rapai (gendang khas Aceh) untuk mengiringi penari, maka untuk Marawis peralatan musik seperti gendang dan perkusi dimainkan untuk mengiringi sang penyair.

Keutamaan syair-syair dalam Marawis adalah Sholawat atau biasa disebut orang Betawi dengan Sholawatan. Diawali dengan Sholawat kemudian diikuti syair-syair berisi puisi atau pantun adalah ciri khas, kekuatan sekaligus daya tarik Marawis.

Dalam satu kali penampilan, sebuah tim budaya Marawis bisa berisi antara 10 hingga 20 orang. Tergantung kebutuhan dan konsep yang akan dibawakan diatas panggung. Konsep yang dimaksudkan itu biasa disebut Nada Marawis.

                                                       Close up penampilan Tim Marawis FAI UHAMKA

" Ada tiga alur nada dalam Marawis yaitu Sarah, Jhepe dan Japin. Sarah itu alunan nada yang perlahan mendayu-dayu dengan sesekali memiliki perubahan ketukan menjadi lebih cepat.

Jhepe lebih riang dari Sarah, bahkan cenderung ada unsur kolaborasi aliran musik dangdut didalamnya. Sedangkan Japin itu alunannya santai seperti anda sedang bercerita," jelas Ryan mengenai alunan nada dalam Marawis.

Alat musik yang digunakan dalam Marawis biasanya adalah Marawis (alat musik pukul bulat kecil), alat musik pukul bernama Hajir dan Tumbuk Batu serta alat perkusi seperti simbal atau sejenisnya sesuai kebutuhan.

Busana yang dikenakan penyair maupun pemain musik adalah busana muslim dengan hijab syar'i untuk penyair wanita dan baju koko pada penyair pria maupun pemusik.


                                                        Beragam dokumentasi penampilan Marawis FAI UHAMKA

Komunitas Marawis UHAMKA saat ini beranggotakan 10 hingga 20 orang mahasiswa aktif maupun alumni. Dalam penampilan Marawis UHAMKA di acara UHAMKA Rajo Fest III 19/11/2016, mereka turun dengan 12 penabuh musik pukul pria serta dua penyair wanita.

Bagi Ryan sebagai salah satu senior sekaligus pembina kegiatan Komunitas Marawis UHAMKA, eksistensi mereka bukan sekedar eksistensi mengisi waktu luang akan tetapi juga memiliki misi pelestarian budaya
Betawi khususnya Marawis. Selain itu, ada secarik keinginan dalam benak seluruh anggota untuk membawa seni budaya Marawis bisa digemari insan muda Jakarta seperti yang terjadi pada Tari Saman dan Ratoh Jaroe.

" Misi besar otomatis tingkat kesulitannya tinggi, tapi kami yakin pasti bisa mewujudkannya. Dan sebagai senior di tim Marawis saya kerap berpesan kepada rekan-rekan lainnya untuk Istiqomah dalam latihan, yaitu terus berlatih tanpa jemu-jemu. Suatu saat usaha itu akan membuahkan hasil," pungkas Ryan.

Belakangan banyak sekali geliat generasi muda dalam mengangkat budaya nusantara. Secara tidak langsung mereka sudah turut melestarikan budaya itu sendiri. Mengkampanyekan pelestarian seni dan budaya memang harus dimulai dari para generasi muda yang adalah juga sebagai penyangga peradaban budaya nusantara itu sendiri.


Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Sukur Patakondo/ Foto: Miechell Koagouw

Bagikan:

Sukur Patakondo

Berikan Komentar: