SABTU, 19 NOVEMBER 2016
PONOROGO--- Menjadi pandai besi merupakan profesi yang dipilih Maskur (54 tahun) sejak ia lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga saat ini. Terhitung sudah 30 tahun ia menjalani profesi ini.

Awalnya, ia hanya ikut-ikutan, karena lingkungan sekitar rumahnya banyak yang jadi tukang pandai besi. Mulai dari membuat cangkul, celurit, dan pisau ia jalani.

Meski harga jual barang dagangannya tidak sampai ratusan ribu, Maskur bersyukur setiap hari selalu ada orang yang beli ataupun memperbaiki alat pertanian di bengkel kecil miliknya di Pasar Besi, Kecamatan Bangunsari, Ponorogo.

"Selama rezeki yang dihasilkan cukup ya terus saja dilakukan. Saya juga sulit meninggalkan usaha ini karena sudah sejak remaja menekuni," jelasnya kepada Cendana News, Rabu (19/11/2016).

Lapak cangkul milik Maskur yang sudah 30 tahun bertahan.

Warga Polorejo, Kecamatan Babadan ini dengan cekatan menempa cangkul baru pesanan seseorang. Besi baru dipanaskan di dalam tungku khusus. Beberapa pria karyawan Maskur kompak silih berganti menempa. Usai ditempa dan warna besi kembali menghitam, kembali dimasukkan ke dalam tungku yang berisi arang dari kayu jati.

Sementara, rekan Maskur beralih, menggerakkan alat yang disebut mereka sebagai kukupan, untuk menjaga bara api tetap menyala. "Hampir setiap hari ada banyak petani yang memperbaiki cangkul ke sini, biasanya juga ada pesanan cangkul, tapi tidak setiap hari," ujarnya.

Displai cangkul dan perkakas lainnya buah tangan Maskur.

Maskur biasa membuka bengkelnya di pasar besi sejak pukul 07.00 hingga 12.00. Meski hanya setengah hari, pekerjaan yang harus ditangani tidak sedikit. Biasanya minimal ada 30 cangkul yang harus diperbaiki Maskur dan rekannya. Itu di luar perkakas pesanan yang harus dibuat untuk pelanggannya. Maskur bisa menyelesaikan puluhan pekerjaan itu hanya dalam hitungan lima jam karena waktu yang dibutuhkan tidak banyak.

Memperbaiki cangkul misalnya, waktu yang dibutuhkan rata-rata hanya 15 menit hingga setengah jam. "Karena sudah terbiasa jadi bisa cepat mengerjakannya," tandasnya.

Maskur menjelaskan waktu singkat yang dia butuhkan untuk memperbaiki sebuah cangkul. Usai dia mengecek kerusakan cangkul, Maskur kemudian memanaskan bersama sejumlah potongan besi. Potongan besi tersebut diletakkan di titik kerusakan cangkul. Usai melebur, Cangkul kemudian ditempa beberapa kali.

Proses itu dilakukan berulang sampai kerusakan tertutupi lelehan besi baru tersebut. Untuk menjaga perapian, Maskur memilih menggunakan kukupan karena dirasa lebih kuat memasok angin ke dalam tungku dibanding kipas elektronik.

Menurut Maskur, cangkul dianggap berkualitas bagus ketika saat digunakan di sawah, lumpur mudah dihilangkan dari cangkul tersebut.

"Jika cukup dengan sekali goyang lumpur bisa lepas dari cangkul, berarti kualitas cangkul itu bagus," pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: