SELASA, 22 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Wakil Ketua Bidang Kerjasama Internasional Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI), Prof. Edy Suandi Hamid memandang percepatan ekonomi di era Masyarakat Ekonomi ASEAN masih sangat lambat. Selain itu, keuntungan dari terbukanya pasar bebas juga masih dinikmati oleh negara-negara tertentu saja.

Sri Susilo dan Edy Suandi Hamid
Edy mengatakan, era MEA yang telah berjalan hampir setahun ini belum menunjukkan perubahan ekonomi secara signifikan, terutama bagi Indonesia. 

"Padahal, MEA sangat penting sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Ekonomi ASEAN, khususnya Indonesia, sebagai bagian yang terintegrasi dalam Komunitas Masyarakat Ekonomi Asean,"sebut Edy Suandi Hamid, saat gelar pers Konferensi Internasional Federasi Asosiasi Ekonomi Asean (Conferensi Internasional Federation of Asean Economist Associations/FAEA) ke-41 di Yogyakarta, Selasa (22/11/2016).
.
Sayangnya, kata Edy, era bebas pasar ASEAN saat ini masih dinikmati oleh sejumlah kecil negara saja seperti Singapura dan Malasyia, yang memang lebih memiliki daya saing cukup tinggi atau kompetitif. Karena itu, katanya, berbagai upaya harus dilakukan dalam rangka mempercepat perubahan ekonomi ASEAN di Indonesia.

Untuk itu, lanjut Edy berbagai persoalan terkait belum maksimalnya manfaat MEA bagi Indonesia akan dijadikan tema penting dalam Konferensi FAEA di Yogyakarta pada Rabu (23/11/2016). 

Dalam konferensi tersebut, Edy mengatakan, pihaknya akan lebih memperkuat empat pilar ekonomi yang telah disepakati bersama dalam rangka mewujudkan MEA tersebut.

Empat pilar tersebut adalah Pasar Tunggal dan Basis Produksi, Kawasan Ekonomi Berdaya Saing Tinggi, Kawasan Dengan Pembangunan Ekonomi yang Setara, dan Kawasan Terintegrasi Penuh Dengan Ekonomi Global.

"Kita ingin kompetitif, tapi masih rendah dibanding Malasyia dan Singapura. Karena itu, saat ini manfaat MEA lebih dinikmati oleh Singapura dan Malasyia yang memang lebih kompetitif," ujarnya.

Edy Suandi
Namun demikian, kata Edy, manfaat MEA yang belum merata dirasakan itu juga karena MEA merupakan program bertahap, di samping ada sejumlah negara yang memang belum siap.

"Sementara daya saing Indonesia juga masih rendah. Kita berada di bawah Singapura, Malasyia, Thailand, Philipina dan Brunai Darussalam. Salah satu indikatornya adalah pedagang besar banyak yang berasal dari negara-negara tersebut,"ungkapnya.

Sekretaris Panitia Daerah FAEA, Dr. Sri Susilo, menambahkan, FAEA ini merupakan agenda tahunan yang diikuti lebih dari 200 peserta dari 10 negara di Asean. Topik utama adalah membahas empat pilar MEA, implementasi, prospek dan tantangannya.

"Dalam konferensi itu kita juga akan menggelar pameran produk usaha mikro kecil dan menengah bekerjasama dengan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia sebagai upaya promosi produk-produk dalam negeri," pungkasnya.
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Koko Triarko
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: