SABTU, 26 NOVEMBER 2016
MATARAM---Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Pertanian Nasionl yang diikuti tiga ribu peserta dari seluruh kabupaten, kota, dan provinsi di Indonesia, telah usai dilaksanakan. Hari ini (26/11/2016) ditutup setelah selama beberapa hari diadakan pameran.

Selama empat hari, beragam dan aneka TTG pertanian dipamerkan guna diperkenalkan kepada masyarakat sebagai teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil, nilai, dan produksi pertanian. Mulai dari mesin pengolah kulit jagung jadi pupuk, mesin pengering padi, mesin pengolah limbah tahu, limbah ikan, dan sejumlah TTG lainnya.

Sejumlah buruh tembakau tampak sedang sibuk menaikkan tembakau untuk diangkut ke tempat pengomprongan. Potret nasib petani yang ada di daerah pinggiran.
Gelar TTG tersebut tentu tidak sekadar acara pameran semata. Tapi, setelah pameran keberadaan TTG diharapkan bisa dimanfaatkan dan berkontribusi bagi kemajuan serta peningkatan perekonomian masyarakat petani, terutama petani pedesaan dan daerah pinggiran. Mengingat, petani daerah pedesaan dan pinggiran selama ini dipersepsikan dengan keterbelakangan dalam hal kemajuan sektor pertanian dan kerap mengalami kerugian, akibat praktik jahat para spekulan. Padahal dari segi potensi, lahan pertanian daerah pedesaan dan pinggiran cukup potensial untuk bisa dikembangkan meningkatkan kesejahteraan perekonomian petani.

"Tapi yang terjadi justru sebaliknya, nasib petani daerah pinggiran, biaya pengolahan penanaman tinggi, harga jual rendah, karena tidak ada tempat penampungan. Akibatnya, jenis tanaman yang ditanam berubah-ubah dan itu menjadi salah satu penyebab petani rugi," kata Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sanjoyo di Mataram, Sabtu (26/11/2016).

Ia mengatakan 80 persen masyarakat Indonesia bekerja di sektor pertanian, petani kecil daerah pedesaan dan pinggiran, kalau tidak difasilitasi, tidak akan mendapatkan harga jual bagus sebagai konsekuensi meningkatnya hasil produksi.

Harapan sama juga disampaikan Gubernur NTB, Zainul Majdi, melalui gelaran TTG diharapkan bisa memberikan azas kemanfaatan bagi petani untuk terus termotivasi bertani dan meningkatkan hasil produksi.

"Lebih penting lagi, selain mendorong petani terus meningkatkan produksi, juga harus dibarengi dengan kebijkan harga yang menguntungkan petani, sehingga tingkat produksi bisa tinggi. Tidak akan memiliki banyak arti kalau petani masih rugi," ujarnya. Dikatakannya juga, sudah saatnya membangun kekuatan prekonomian Indonesia dari daerah pedesaan dan pinggiran melalui sektor pertanian dan kekayaan alam yang demikian berlimpah dengan pemanfaatan TTG.

Jurnalis: Turmuzi / Editor: Satmoko / Foto: Turmuzi



Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: