SENIN 21 NOVEMBER 2016

CATATAN JURNALIS---Berbagai cara penjualan buah di sejumlah wilayah di Provinsi Lampung dilakukan dengan berbagai cara antara lain  menggunakan kendaraan roda empat, kendaraan roda dua di pasar tradisional dengan sistem rombong, serta dengan menjual di pinggir jalan dengan sistem membuat toko semi permanen. Penjualan buah yang merupakan bagian dari pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia dalam mempertahankan hidup dari hasil hortikultura tersebut.

Petani jeruk di Lampung Selatan.


Meski demikian sejumlah penjual buah masih banyak memilih melakukan penjualan buah impor seperti apel dari Australia dan Amerika, Kelengkeng dari Bangkok dan sejumlah buah yang berasal dari Thailand atau impor dari negara lain. Kondisi tersebut tidak bisa dipungkiri karena kualitas dan kuantitas buah impor diakui masih lebih tinggi dari buah lokal. Meski demikian beberapa penjual tetap melakukan penjualan buah lokal dengan pasokan yang cukup melimpah ditambah dengan daya beli dan kebutuhan masyarakat yang tinggi akan buah.

Persoalan pasokan buah lokal tersebut sempat digagas oleh pemerintah daerah di beberapa Kabupaten di Provinsi Lampung dengan melakukan kegiatan one village one product (Ovop) yang merupakan ide dan gagasan mengkhususkan wilayah tertentu sesuai dengan kondisi alam setempat. Program ovop tersebut diantaranya bertujuan mengembangkan budidaya tanaman lokal masyarakat di antaranya belimbing merah di Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, pepaya jenis Kalifornia di wilayah Tanggamus Lampung, nanas di Kabupaten Lampung Tengah dan pisang di Lampung Timur, buah jeruk di Kecamatan Palas Lampung Selatan. Upaya membentuk ketahanan pangan dalam bentuk memberdayakan petani lokal tersebut sebagian bahkan sukses menjadikan daerah tersebut sebagai sentra buah lokal dengan pangsa pasar lokal hingga keluar daerah.

Petani lokal Lampung membudidayakan belimbing.



Belimbing merah yang ditanam petani di Lampung Selatan merupakan produk unggulan setempat meski sempat mengalami pasang surut produksi. Belimbing tersebut sebagian menjadi pasokan bagi sejumlah pasar swalayan dan juga dijual di pinggir jalan sebagai buah yang segar. Meski demikian tak dapat dipungkiri kebutuhan akan buah juga masih belum bisa dipenuhi oleh petani lokal sehingga pedagang buah harus membeli dari pemasok pemasok buah impor akibat belum terpenuhinya penjualan buah dari produksi petani lokal.

Berdasarkan beberapa keterangan penjual buah, potensi buah lokal yang ada di Indonesia terdiri dari tujuh spesies buah tropis seperti pisang, jeruk, durian, nangka, lansat, lengkeng, mangga, rambutan dan manggis. Selain itu keberadaan buah lokal yang semakin menurun diakibatkan kurangnya pengembangan dan budidaya buah lokal oleh petani atau pekebun. Dalam ketahanan buah lokal tak bisa dilepaskan dari aspek ketahanan nasional diantaranya aspek trigatra diantaranya aspek alamiah antara lain geografi,kependudukan dan sumber daya alam.

Aspek tersebut diantaranya berhubungan erat dengan presentase lahan pertanian dan perkebunan yang mempengaruhi buah lokal di Indonesia. Salah satu langkah ketersediaan buah lokal bahkan dilakukan dengan pengembangan wilayah tertentu untuk pengembangan buah jeruk, belimbing bahkan hingga kelapa jenis Kelapa Puan Kalianda (KPK) yang menjadi bahan dasar pembuatan es buah atau dimakan sebagai buah segar.

Berkurangnya lahan perkebunan dengan berganti menjadi lahan perumahan, lahan perkebunan kayu serta beralih fungsinya lahan menjadi lokasi industri dan perumahan mempengaruhi tingkat produktifitas buah lokal yang semakin menurun. Penurunan ini mempengaruhi ketersediaan buah lokal di dalam negeri yang merupakan ancaman bagi buah lokal di Indonesia. Berdasarkan catatan jurnalis Cendana News masih ada pihak pihak yang memiliki kepedulian terhadap ketersediaan buah lokal tersebut diantaranya Ir.Idi Bantara, Msc yang terus mengembangkan buah kelengkeng Itoh di Lampung, buah durian khas Lampung dan Matoa yang banyak dikembangkan di Lampung. Idi Bantara bahkan membagikan bibit hasil persilangan buah lokal kepada petani secara gratis untuk memperbanyak populasi. Kepedulian akan ketersediaan bibit buah lokal menurutnya merupakan upaya sederhana untuk memperbanyak pasokan buah lokal dan melakukan pengembangan untuk kualitas buah dan masa tanam yang singkat.

Buah musiman yang dominan ada saat musim tertentu dan membanjir pada musim tertentu mengakibatkan buah lokal cenderung dicap sebagai buah musiman karena sistem pengembangan dan penelitian yang belum maksimal. Pada zaman modern ini bahkan menurut Idi Bantara keterbatasan alam dapat diakali dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (Iptek) sehingga dapat menjadi solusi untuk pengadaan bibit, kegiatan pra panen, pasca panen hingga proses didtribusi sehingga buah lokal bisa bersanding dengan buah impor. Imbasnya ketahanan pangan dalam bentuk ketersediaan buah lokal akan memberi dampak positif bagi masyarakat khususnya petani dengan hasil langsung untuk peningkatan ekonomi petani.

Ketersediaan buah lokal yang menjadi hak seluruh masyarakat Indonesia dan kewajiban pemerintah untuk mewujudkannya sehingga beberapa pemerintah daerah melalui dinas perkebunan melakukan berbagai cara meski sebagian gagal dan berhasil. Sebagian yang gagal diakibatkan faktor program hanya dilihat sebagai sebuah proyek untuk mengeluarkan anggaran berupa finansial sehingga gagal dan tak berkelanjutan. Namun sebagian petani juga melakukan langkah budidaya perkebunan secara mandiri seperti yang terjadi di Kecamatan Sragi dengan budidaya buah naga merah dan di Kecamatan Palas dengan budidaya buah jeruk keprok.

Kendala Pengembangan Buah Lokal di Lampung

Berdasarkan pengamatan, keberadaan buah lokal juga memiliki beberapa ancaman secara khusus di Provinsi Lampung diantaranya ancaman yang berasal dari dalam negeri diantaranya rendahnya pengetahuan berbasis pertanian di kalangan petani buah lokal. Kurangnya penyediaan sarana dan prasarana pertanian buah mulai dari pra panen hingga paska panen, kurangnya penyuluhan produk hortikultura dari pemerintah, berkurangnya lahan pertanian buah dan beralihnya fungsi lahan akibat bertambahnya pemukiman penduduk dan kurangnya pengawasan serta rendahnya peran pemerintah dalam melindungi produk buah lokal.

Buah lokal apel Malang maish diminati oleh warga.


Selain itu yang lebih fatal asumsi masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa mengkonsumsi buah impor yang dijual di sejumlah supermarket akan meningkatkan prestise dan lebih keren dan berkelas. Beberapa buah lokal yang merupakan hasil dari pertanian di Lampung jenis pisang Cavedish dan nanas yang dijual di pasar swalayan bahkan dianggap sebagai buah impor yang tak kalah kualitas dibanding pisang muli hasil pertanian petani tradisional Lampung.

Ancaman dari luar negeri juga tak kalah mendukung kalahnya buah lokal di pasar dalam negeri dengan terbukanya perdagangan pasar internasional, tingginya mutu buah buah yang berasal dari luar negeri, penggunaan tekhnologi canggih dalam pengolahan buah impor dan ketersediaan buah impor yang melimpah. Bahkan buah apel Malang produksi dalam negeri faktanya masih kalah saing dengan apel dari luar negeri di sejumlah pasar. Selain itu kualitas buah lokal dipastikan menjadi penyebab tergesernya buah yang dihasilkan oleh petani dalam negeri akibat rendahnya mutu buah yang dihasilkan petani di Indonesia.

Pedagang buah lokal di Lampung Selatan.


Sebetulnya buah lokal tak kalah dengan buah impor karena buah lokal memiliki rasa kombinasi baik manis serta asam seperti buah apel malang. Namun ancaman besar terutama dari peran serta masyarakat yag kurang mencintai buah lokal dengan jarang membeli buah lokal bahkan lebih memilih membeli buah impor. Kecintaan akan buah lokal tersebut setidaknya menjadi tugas pemerintah bahkan hingga daerah. Bahkan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan baru saja menyelenggarakan festival buah pada pekan kedua bulan November ini yang menyajikan buah buah lokal diantaranya nanas, mangga, sawo,pisang serta buah buah lokal lain untuk meningkatkan kecintaan masyarakat akan buah lokal.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan buah tropis ditanah air pelu mendapat perhatian dari pemerintah dengan perhatian pada petani dan kelompok petani pengembang buah buahan. Selain itu pengembangan agro industri buah buahan terpadu juga dapat diterapkan untuk menjamin pengadaan bibit buah bermutu seperti di wilayah Kecamatan Pekalongan Lampung Timur dan meningkatkan kerjasama dengan kebun kebun bibit swasta sehingga pemerintah bisa mengawasai pengadaan bibit buah bermutu.

Selain meningkatkan kecintaan akan buah lokal sebagai produk dalam negeri, secara berkelanjutan konsumsi dan mencintai buah lokal merupakan bentuk ketahanan pangan dan mencintai petani lokal. Buah lokal yang dibeli merupakan bentuk mendapatkan modal untuk produksi buah dan juga menutupi biaya operasional petani dalam pengolahan, penyiapan bibit tanaman buah dan juga pengembangan buah lokal lainnya.

Salah satu wilayah yang menjadi sentra pengembangan buah lokal yang dikunjungi Cendana News diantaranya di Kecamatan Sragi dengan buah naga merah, Kecamatan Palas dengan buah jeruk dan pepaya Kalifornia. Mencintai buah lokal dengan membeli buah lokal merupakan bentuk ketahanan pangan dan mencintai petani yang dilakukan dengan cara sederhana namun merupakan bentuk rasa patriotisme sebagai warga negara Indonesia.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: