MINGGU, 27 NOVEMBER 2016

MAUMERE --- Festifal musik jazz yang pertama kali digelar di Flores dan NTT dan berlangsung di tepi pantai yang dikelilingi hutan bakau. Semua mata memandang ke Mageloo, Ndete desa Reroroja kecamatan Magepanda kabupaten Sikka 16 Oktober 2016 lalu. Untuk sampai ke lokasi pertunjukan, penonton harus meniti jembatan bambu sepanjang 350 meter yang membelah hutan bakau hingga berujung di bibir pantai berpasir putih.

Danau yang berada di tengah hutan bakau Mageloo
Siapa sangka hutan bakau yang begitu rimbun merupakan buah kerja keras suami isteri yang peduli pada pelestarian lingkungan. Keduanya berjuang sendiri tanpa ada bantuan dana dari siapapun.

Ditemui Cendana News di rumahnya Sabtu (26/1/2016) Viktor Emanuel Raiyon bersama sang isteri Anselina Nona menceritakan suka duka menghutankan kawasan yang pernah rata dihantam gempa dan tsunami hebat tahun 1992.

Perjuangan berat diawali keduanya tahun 1993 saat mencari bibit. Menyusur pantai ke arah timur sejauh satu kilometer bahkan lebih di tempuh suami siteri ini dengan berjalan kaki. Saat musim hujan dan banjir terjadi di muara kali, keduanya  terpaksa berenang melintasi tempat itu hanya demi bakau.

Terus Menanam

Mimpi Baba Akong sapaannya agar kebun dan rumahnya tak lagi hancur berantakan dihantam tsunami dan gelombang membuatnya bertekad menanam bakau. Tanah milik seorang tuan tanah di pesisir pantai Mageloo perlahan disulapnya menjadi hutan bakau seluas sekitar 50 hektare.

Menurutnya, menanam bakau membuatnya bisa tidur lelap saat gelombang dan ancaman tsunami. Lelaki keturunan Tionghoa ini memiliki prinsip, menanam bakau bisa melindungi nyawa dari terjangan tsunami.

“Lebih baik kita yang tinggal di pantai ini menanam bakau sebanyak mungkin untuk melindungi diri dari terjangan gelombang pasang dan juga abrasi,” ujarnya.

Baba Akong mengakui, Kementrian Lingkungan Hidup pernah membantunya dengan memberikan 100 ribu anakan bakau tahun 2008. Semua bakau tersebut pun ditanamnya dan sudah tumbuh lebat.

 “Secara alamiah bakau itu tumbuh di darat, bukan di dalam air. Karena itu kita bisa menanam di atas pasir. Yang paling penting adalah ketekunan dan kesediaan kita untuk merawatnya sehingga bisa berkembang baik,” tuturnya.

Selama menanam bakau sebut Anselina sang isteri keduanya hanya mengandalkan modal dan tenaga sendiri. Kadang keduanya dibantu anak-anak setelah melihat keduanya bekerja keras. Tak ada istilah istirahat meskipun mimpinya menghutankan Mageloo kini sudah tercapai.

“Kami masih menanam meski tidak banyak seperti duu sebab kami sudah tua namun masih tetap melakukan pembibitan,” tutur Anselina.

Koleksi Terlengkap

Koleksi bakau di Mageloo boleh dikatakan terlengkap. Para ahli hanya mengetahui maksimal 4 jenis saja sementara di kawasan hutan bakau Mageloo hidup dan berkembang biak 15 jenis bakau.

Selama 21 tahun menanam bakau dan menghutankan beberapa wilayah di Indonesia membuat Baba Akong menamai sendiri 15 jenis bakau dalam bahasa Indonesia. Bahkan lelaki pekerja keras ini paham benar manfaat dari setiap jenisnya.

Viktor Emanuel Raiyon bersama sang isteri Anselina Nona
Dipaparkannya, bakau Akar Tongkat ada 4 jenis yakni 25 sentimeter, 40 dan 70 sentimeter serta Bunga Warna Merah Muda. Sementara bakau Akar Papan ada dua jenis yakni kulitnya warna hitam dan warna cokelat. Selain itu ada bakau Akar Nafas, Akar Lutut, Kacang Hijau, Santigi, Gaharu, Buah Jeruk, Biji Lamtoro, Pandan Laut dan bakau Waru Laut.

Bakau Akar Nafas sambung Raiyon, dipakai untuk bahan tepung terigu, bakau Akar Tongkat untuk makanan kepiting, bakau Akar Lutut bunganya untuk lebah buat madu dan buahnya jadi makanan monyet dan burung Peregam. Selain itu, ada bakau Kacang Hijau dimana bijinya jadi makanan burung Perkutut dan Terkukur.

Juga ada bakau Gaharu biasa dijual ke India untuk kemenyam dan bakau Buah Jeruk untuk makanan monyet. Bakau Akar Lutut urai Raiyon batangnya  sering dicari karena dijadikan bahan baku untuk membuat uang kertas Dolar dan Rupiah pecahan 100 ribu, sementara bakau Santigi oleh orang Cina dipercaya untuk penarik rezeki.

Ditambahkan Anselina,, banyak pelajar, mahasiswa dan peneliti yang datang belajar bakau di tempatnya. Biasanya mereka mendapat informasi dari internet. Selain itu tambah ibu enam orang anak ini, banyak yang mempergunakan alam di hutan bakau untuk foto pre wedding.

“Banyak juga yang calon pengantin dari luar Sikka yang datang buat foto untuk undangan pernikahan disini. Kami juga sudah bangun satu pondok lagi di tengah hutan bakau sehingga sudah ada tiga pondok,” ungkapnya.

Kini Baba Akong bersama sang isteri bukan saja terkenal namun juga menjadi bahan pegunjingan orang. Meski demikian, keduanya tetap hidup sederhana di sebuah rumah berdinding bambu belah. Rumah yang terkesan sederhana seperti keduanya yang tetap setia memperbaiki jembatan bambu di hutan bakau yang rusak.

Keduanya kompak mengakui memungut biaya masuk lima ribu rupiah bagi setiap pengunjung yang datang dimana biaya ini nantinya dipakai untuk membeli bambu untuk memperbaiki jembatan bambu yang rusak serta membeli polybag untuk melakukan pembibitan.

Jembatan bambu yang berada di tengah hutan bakau Mageloo
Siapapun boleh memilih kerang dan mencari ikan di hutan bakau asal jangan menembak burung-burung yang banyak beterbangan di areal ini. Bahkan saat air pasang di malam hari, pengunjung bisa menyaksikan ikan-ikan berkeliaran di air laut yang berada persis di bawah jembatan bambu.
Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: