SENIN 21 NOVEMBER 2016

BALI---"Dulu di sini lahan gersang," kata I Nyoman Conto, Pembina Kelompok Tani Hidup Rukun‎ di Banjar Dinas Bubungkelambu, Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.‎ Sore itu Conto dan kelompoknya berkesempatan bertatap muka dengan jurnalis yang tengah mengikuti workshop jurnalistik tentang kehutanan yang diselenggarakan Center for International Forestry Research (CIFOR).‎ Conto dan kelompok taninya yang berjumlah 25 orang kini menanam berbagai jenis pohon bambu.

Salah satu kegiatan budidaya bambu Kelompok Tani Hidup Rukun di Banjar Dinas Bubungkelambu, Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Ia bercerita, kelompok taninya saat ini memang memfokuskan pada pembudidayaan pohon bambu. Padahal, kelompok tani yang melakukan pertemuan tanggal 15 tiap bulannya itu bergerak di bidang pertanian umum, kehutanan, peternakan dan lainnya. Bukan tanpa alasan katanya, kelompoknya memfokuskan pada budidaya pohon bambu. Bagi umat Hindu Bali pohon bambu adalah teman sejati mereka.

"Dari lahir sampai meninggal, bambu memiliki peran utama bagi umat Hindu Bali," tutur Conto.

Tali pusar bayi yang baru dilahirkan, kata Conto, ditaruh di dalam bambu. Upacara di pura hingga kematian, semuanya menggunakan sarana bambu.


"Bambu ini sangat diperlukan, tapi belum ada yang membudidayakan secara permanen. Mungkin karena dia (pohon bambu) dianggap tak ada nilainya, makanya dianggap sebelah mata," jelas dia.

Itu sebabnya, kelompok taninya mengambil peran untuk budidaya pohon bambu. Sudah sejak 1,5 tahun lalu Conto dan rekan-rekannya menanam berbagai jenis tanaman pohon bambu di lahan seluas 12 hektar. Berbagai jenis bambu yang ditanam kelompok tani yang terbentuk pada  2010 lalu itu. Di antaranya adalah bambu petung kultur jarwgan, bambu petung hitam, bambu tali hitam, bambu tali, bambu petung abu, taluh, jempit, bambu jajang, bambu tamblang dan bambu tabah.

‎Ia menceritakan, sebenarnya sejak dari zaman dulu orangtua mereka telah menanam bambu. Hanya saja, hal itu tidak berkesinambungan dan belum dikelola dengan baik.

"Karena yang bisa hidup di sini dulu itu hanya semak-semak," papar Conto.

Sebagai lahan yang mudah terbakar, sejak  1999 silam digencarkan reboisasi melalui penanaman pohon albesia dan pohon lainnya yang sekali tanam dan panen. Namun kemudian Conto dan kawan-kawannya berpikir menanam pohon yang sekali tanam, tapi panennya berkali-kali.

"Solusinya ya, pohon bambu. Hingga anak cucu nanti mereka masih bisa menikmati," ujar anak bungsu dari 10 bersaudara ini.

Meski secara turun temurun sudah menanam bambu, namun Conto mengaku kelompok taninya bekerjasama dengan NGO ITTO.‎ Mereka belajar kepada orang lain (ITTO), karena mereka punya pengetahuan lebih. Sekalipun mereka sebetulnya masih tradisional. Dari penyiapan lahan, penanaman lahan, pembersihan semua kita difasilitasi. Dengan pengetahuan itu, ‎pertumbuhannya berbeda.

Dari hasil studi banding dengan kelompok tani di Pupuan, Tabanan yang juga fokus pada budidaya bambu, Conto mengaku pohon bambu di daerahnya memiliki keunggulan tersendiri. Jika di Pupuan rebung ke luar tiap musim hujan, maka di daerahnya tak mengenal musim.

"Mau musim hujan atau panas rebungnya tetap ke luar. Justru pertumbuhan rebungnya lebih bagus di sini," tutur Conto.

Petugas Lapangan ITTO, I Wayan Sukasana menuturkan, pada 2005, di sekitar lahan yang kini menjadi lokasi budidaya bambu Kelompok Tani Hidup Rukun belum ada tanaman apapun. "Masih gundul pada tahun itu. Tapi sekarang sudah hijau," ujarnya.

Dipilihnya budidaya bambu lantaran Sukasana memprediksi lima tahun ke depan bambu akan punah lantaran penebangan. Pada saat yang sama, pohon bambu memiliki fungsi ekologi yakni, menahan kestabilan struktur tanah.

"Secara tradisional bambu teman sejati kita sejak lahir sampai meninggal. Kalau kita meninggal nanti digotong dengan bambu. Akarnya bisa dimanfaatkan untuk patung. Bambu juga merupakan bahan dasar olahan kerajinan sehingga tentu saja memiliki nilai tambah," ceritanya.

Sayang, di daerah ini masih kekurangan air. Berada di ketinggian 1.600 meter, Kelompok Tani Hidup Rukun seringkali bermasalah dengan air, meski memiliki Danau Batur. Jika hujan tak turun, sudah barang tentu mereka kekurangan air. Kalau sudah demikian, solusinya adalah membeli air dari tangki yang disalurkan.

Aplikasi Landscape Approach

‎Ilmuwan CIFOR, Elizabeth Linda Yuliani menuturkan, apa yang telah dilakukan oleh Kelompok Tani Hidup Rukun merupakan aplikasi 'Landscape Approach'. Pendekatan ini pula yang kini sering digunakan untuk melihat kehutanan. Landscape Approach sendiri melihat persoalan kehutanan secara menyeluruh dan kohesi, tak lagi parsial seperti konsep sebelumnya semisal konservasi dan lainnya.

"Jadi, ada 10 ciri dari landscape approach ini di antaranya pengelolaan adaptif, kepentingan bersama, lalu memperhatikan aspek manusianya, aspek ekonomi, sosial, budaya dan beberapa hal lainnya," beber Linda.

Landscape approach, kata Linda, tak lagi melihat kehutanan atau sebuah persoalan secara terkotak-kotak. Konsep sebelumnya melihatnya masih terkotak-kotak, terpisah-pisah. Misal konsep konservasi. Dimaknainya hutan, tetap hutan. Tidak boleh ada manusia di sana. Dengan pendekatan landscape approach, maka itu semua dilihat secara keseluruhan, tidak terpisah-pisah, tidak terkotak-kotak.

"Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan Kelompok Tani Hidup Rukun, maka konsep landscape approach telah berjalan di sana. Di mana ada aspek budaya, ekonomi, sosial, aspek partisipatori, aspek kelestarian lingkungan dan hal-hal lainnya yang menjadi ciri dari konsep ini," ulas Linda. Ia berharap ke depan, semua pihak termasuk pemerintah menggunakan pendekatan landscape pproach dalam melihat persoalan kehutanan.

"Sementara ini, landscape approach adalah konsep ideal untuk melihat persoalan kehutanan kita," tutup Linda.

Jurnalis: Bobby Andalan/Editor:Irvan Sjafari/Foto: Bobby Andalan
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: