SELASA, 22 NOVEMBER 2016
 
PONOROGO---15 siswa Kelas VI Sekolah Dasar Negeri (SDN) Ngasinan 1 tampaknya harus lebih waspada saat berada di kelas. Pasalnya, kelas mereka tampak rapuh dengan empat tiang penyangga atap bambu. Salah satu guru kelas, Agus Sucirahanto menjelaskan, jika tidak ditopang bisa dipastikan atap sudah ambruk.

"Apalagi sekarang musim hujan dan sering gempa, kami khawatir sekolah kami ambruk," jelasnya kepada Cendana News, Selasa (22/11/2016). Pernah seminggu yang lalu ada gempa sekitar pukul 07.30 WIB, para siswa pun berhamburan keluar ruangan dan tidak mau masuk kelas.

"Takut ambruk, Pak, begitu kata siswa. Kami tidak bisa memaksa, akhirnya setelah yakin tidak apa-apa, kami kembali belajar seperti biasa," ujarnya.

Kondisi kelas VI SDN Ngasinan dengan atap yang jebol dan disangga menggunakan bambu.

Agus menambahkan, sebenarnya bangunan sekolah ini merupakan peninggalan sejak zaman Belanda, kemudian tahun 2003 sampai sekarang dilakukan pembangunan. Namun ketika hendak membangun kelas VI, para pekerja berhenti tidak mau melanjutkan pekerjaan.

"Itu karena kuda-kuda atap yang terhubung ternyata patah, jadi kalau kelas VI dibangun, ruang-ruang di sebelahnya juga ikut ambruk," tandasnya.

Kelas dengan penopang bambu ini sudah terjadi sejak dua bulan lamanya. Meski beberapa siswa sempat protes terhadap keselamatannya, kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan di ruang tersebut.

"Ruangan kami terbatas, apalagi kelas VI menghadapi UN, jadi mau tidak mau harus tetap beraktivitas seperti biasa," ucapnya.

Potret anak-anak SD yang belajar di tengah keterbatasan dan kesederhaan. Tiang penyangga bambu pun ada di sekitar tempat mereka belajar.
Meski sudah membuat laporan ke Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dan kepala UPTD melakukan kunjungan, namun hingga saat ini belum ada kelanjutan kapan dana untuk membangun sekolah cair.

Agus bersama guru-guru lainnya khawatir terhadap keselamatan para siswa, jika sekolah ambruk saat malam hari tentu tidak masalah karena kosong.

"Tapi, kalau siang hari kan bahaya, kami takut kalau ambruk, apalagi ruang kelas VI berdampingan dengan kantor guru," pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti/ Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti

Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: