MINGGU, 13 NOVEMBER 2016

TANGERANG --- Selain komunitas '1000 Guru Tangsel', maka ada satu lagi komunitas anak muda yang dapat dijadikan inspirasi bagi anak muda lainnya di Indonesia, yakni mereka yang tergabung dalam MLD Jazz Project.

MLD Jazz Project saat membawakan lagu berjudul 'melayang' dari January Christy yang mereka aransemen ulang
Dari nama pasti tidak jauh dari musik Jazz, dan hal itu memang benar adanya. MLD Jazz Project adalah sebuah Grup band Jazz yang terdiri dari; Annisa Rizky Amalia atau akrab disapa Kiara (vokal), Mikail Alrabbdia (gitar), Aghil Nur Pambudi (bass), Rizal Sianturi (saxophone), Michael Setiawan (keyboard), dan Karel William (drum).

Sebelum membicarakan keenam anak muda ini lebih jauh, mari membahas sedikit mengenai sebuah grup legendaris asal New York, Amerika Serikat bernama Spin Doctors. Grup musik yang memiliki lagu-lagu hits internasional seperti 'two princes', 'little miss can't be wrong', dan 'cleopatra's cat' tersebut diawaki empat orang musisi dari latar belakang musik Jazz. Kemudian setelah mereka disatukan pihak label, maka mereka sepakat memainkan musik pop dalam irama funky yang memikat di kalangan anak-anak muda kala itu.

Kebalikan dari Spin Doctors, MLD Jazz Project adalah enam orang musisi muda dari latar belakang musik yang berbeda, kemudian dipersatukan untuk membawakan lagu-lagu beraliran Jazz dalam nuansa pop yang progresif. Inilah yang membuat MLD Jazz Project menjadi menarik dan istimewa.

" Kalau untuk aliran musik mungkin kami lebih kepada Jazz-pop," ujar Kiara saat ditemui Cendana News di belakang panggung.

Grup yang dipersatukan melalui jalur audisi oleh sebuah perusahaan rokok ternama di Indonesia ini memiliki kekuatan dalam aransemen lagu. Mikail (gitar) dan Michael (keyboard) merupakan dua personil yang cukup memberikan warna aransemen bagi grup ini untuk lagu-lagu mereka.

Tampil sebagai grup pembuka dalam BritAmaX Tangsel Jazz Festival 2016, Sabtu, 12 November 2016 di Bintaro Xchange Mall, Bintaro Jaya, MLD Jazz Project membawakan enam lagu-lagu hits yang pernah dipopulerkan oleh artis-artis papan atas Indonesia dan Malaysia.

Dalam teriknya matahari siang, dengan suhu sekitar 29 derajat celcius, MLD Jazz Project menyapa Bintaro Xchange Mall dengan lagu 'tanda-tanda' milik Mus Mujiono. Penetrasi gitar Mikael dalam setiap alur nada keyboard Michael membuat lagu ini menjadi lebih soft tanpa mengurangi unsur hentakan Jazz-pop ala Mus Mujiono.

Lagu berikutnya dengan judul 'puncak asmara' dan 'esok kan masih ada' yang dipopulerkan Utha Likumahuwa, 'melayang' dari January Christy, dan 'sinaran' dari penyanyi cantik asal negeri Jiran, Sheila Majid membuktikan bahwa MLD Jazz Project bukan sekelompok anak muda yang sekedar iseng bermusik, akan tetapi mereka adalah enam orang musisi yang sudah siap untuk masuk ke blantika musik Indonesia khususnya musik Jazz.

MLD Jazz Project menutup penampilan dengan sebuah lagu milik Sheila Majid berjudul 'warna'. Nuansa pop lagu ini terasa berubah dengan sentuhan gitar maupun keyboard dalam nuansa Jazz yang kental.

Grup musik yang baru berdiri medio 2015 ini sedang mempersiapkan album pertama yang rencananya dikeluarkan pihak label pada tahun 2017.

"Akhir tahun ini mungkin kami sudah mulai konsentrasi untuk rekaman. Tapi sebelum itu kami akan menjalani rangkaian penampilan dibeberapa kota seperti Bandung dan Yogyakarta," pungkas Kiara.

Personil MLD Jazz Project; Atas Kiri ke kanan : Kiara (vokal), Mikail (gitar), Michael (keyboard); Bawah Kiri ke Kanan : Aghil (bass), Rizal (saxophone), Karel (drum)
Harapan Kiara dan rekan-rekannya adalah musik Jazz bisa menjadi musik rakyat dan bisa dinikmati oleh lintas kalangan. Menyatukan lima sampai enam isi kepala yang berbeda memang memiliki tantangan tersendiri. Dengan demikian, pesan mereka bagi musisi lain yang mulai bangkit khususnya para musisi Jazz, bahwa menjaga kekompakan adalah hal yang terutama. Baik kekompakan dalam berrmusik maupun kekompakan sebagai seorang sahabat.

Dengan potensi yang dimiliki MLD Jazz Project, sebuah pernyataan kuat bahwa mereka adalah salah satu masa depan musik Jazz Indonesia bukanlah suatu hal yang berlebihan. Semoga hal itu tidak menjadi beban bagi mereka, melainkan menjadi suntikan moril untuk terus berpacu melawan waktu demi melahirkan karya-karya besar yang bisa menjadi buah bibir generasi setelah mereka suatu saat kelak.
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: