JUMAT, 25 NOVEMBER 2016
PONOROGO---Memasuki musim panen raya, harga gabah kering justru turun drastis. Harga gabah kering biasanya berkisar Rp 5500 per kilogram kini hanya Rp 4500 per kilogram. Selain faktor panen raya, banyaknya petani tanaman lain yang kini beralih jadi petani padi akibat curah hujan yang tinggi mempengaruhi turunnya harga gabah tersebut.

Salah satu petani padi, Partimah (75) di Desa Bancar, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo menjelaskan, seharusnya dalam setahun ia 2 kali menanam padi dan 1 kali menanam jagung. Namun akibat curah hujan tinggi, tanaman jagungnya mati.

"Akhirnya ganti padi juga, setahun jadi tiga kali menanam padi," jelasnya kepada Cendana News, Jumat (25/11/2016).

Akibatnya, petani padi tidak bisa mendapatkan harga tertinggi. Padahal untuk harga Rp 4500 per kilogram, petani sama sekali tidak mendapatkan untung.

Sri Widodo saat menjemur padi miliknya.
"Hanya cukup untuk balik modal, tidak untung sama sekali. Tenaga saya tidak saya hitung, kan kalau mupuk saya sendiri sanggup," ujarnya.

Nasib serupa juga dirasakan, Sri Widodo (55) warga Desa Kunti, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo. Ia tidak berharap banyak saat musim panen kali ini.

"Saya sudah pasrah, kemarin menanam jagung gagal panen, sekarang saya ganti padi dan saat panen malah harganya anjlok," cakapnya.

Meski begitu, ia berharap pemerintah tidak seharusnya impor beras. Karena menurutnya, untuk wilayah desanya saja banyak petani yang menanam padi. Dalam setahun sampai 3 kali panen.

"Saya berharap tidak ada impor beras, biar harga beras dari petani bisa naik," pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: