SELASA 22 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Musim penghujan dimanfaatkan sebagian besar petani di wilayah Provinsi Lampung untuk melakukan aktivitas cocok tanam baik petani sawah juga petani jagung. Puluhan hektar lahan pertanian jagung di Desa Giri Mulyo Kecamatan Marga Sekampung bahkan mulai ditanami bibit jagung oleh warga. Masa tanam jagung tersebut merupakan berkah tersendiri bagi perempuan perempuan di desa setempat yang menggunakan waktu luang sebagai buruh jagung.

Perempuan Buruh Tajuk Musiman di Lampung Timur sedang menanam jagung.

Penggunaan cara tradisional proses penanaman jagung yang dikerjakan oleh para buruh tersebut dilakukan disebut sistem tajuk dan tabur. Saat beberapa perempuan berperan sebagai tukang tajuk (tugal) maka beberapa perempuan lain mengikuti dari belakang dan menaburkan bibi pada lubang yang telah ditajuk tersebut.

Suprihatin (40) mengungkapkan sejak musim hujan tiba seccara rutin pada  Oktober hingga November banyak petani jagung yang mulai melakukan pengolahan lahan. Pengolahan lahan dilakukan dengan sistem manual menggunakan cangkul dan sebagian menggunakan alat bajak bermesin (traktor) yang digunakan untuk membuat guludan dan menggemburkan tanah.

Setelah proses pengolahan tanah dilakukan, petani menyiapkan lahan untuk ditanami jagung dan sebagian ditanami singkong. Bersama kawan kawan sesama perempuan, sejak pertengahan Oktober ia sudah bekerja di beberapa pemilik lahan jagung di wilayah tersebut.

"Kami selalu dicari oleh para pemilik lahan jagung karena penanaman jagung umumnya memerlukan  enam hingga sepuluh orang pekerja agar lebih agar cepat selesai terutama pada lahan yang luas,"ungkap Suprihatin warga Desa Giri Mulyo Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur, Selasa (22/11/2016)

Aktivitas para buruh tanam jagung atau dikenal dengan buruh tajuk tersebut merupakan pekerjaan musiman yang hanya ada saat musim tanam jagung. Sementara saat musim panen jagung tenaga para perempuan tersebut juga masih diperlukan dalam proses pemetikan buah jagung yang dikenal dengan buruh "pothel atau buruh petik. Suprihatin mengaku minimal bersama sebanyak enam rekannya berangkat sejak pagi dari rumah bahkan sejak subuh terutama pada wilayah perkebunan yang ada di dekat areal Register 38 di wilayah Gunung Balak dan sekitarnya yang sebagian ditanami jagung dan kacang tanah. Aktifitas dilakukan sejak pagi karena rata rata pemilik lahan jagung memiliki luas tanam sekitar 1-2 hektar.

Proses penanaman jagung dengan sistem tajuk atau penugalan dilakukan menggunakan kayu panjang yang ujungnya diberi peruncing biasanya khusus dibuat dari besi atau dengan kayu khusus. Pekerjaan tajuk tersebut dilakukan oleh beberapa laki laki dan juga perempuan terutama pada lahan yang luas. Dalam sekali masa penanaman pada lahan milik petani,

Suprihatin dan kawan kawannya akan dibayar seusai proses menanam jagung selesai dengan kisaran Rp35 hingga Rp50ribu tergantung kondisi tanah. Sebab ia mengakui banyak petani yang melakukan penanaman jagung di lahan yang cukup keras sementara sebagian petani memiliki lahan yang gembur sehingga mudah dikerjakan.

"Bagi yang memiliki modal cukup lahan biasanya dibajak terlebih dahulu tapi bagi yang ingin cepat cukup membakar lahan lalu ditajuk dan itu yang terkadang menyulitkan kami sehingga bayarannya bisa lebih tinggi dari lahan yang mudah,"ungkap Suprihatin.

Bersyukur Suprihatin dan sebagian perempuan di wilayah tersebut masih digunakan tenaga kerjanya untuk bercocok tanam jagung. Selama musim tanam jagung ia bahkan dalam sebulan terakhir berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp500-700ribu dari beberapa pemilik lahan jagung.

Penghasilan yang cukup lumayan selama musim tanam  bisa dipergunakan untuk kebutuhan dapur. Suprihatin mengakui bisa mempergunakan uang selama musim tanam jagung tersebut untuk keperluan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah untuk keperluan membeli alat tulis juga keperluan rumah tangga lainnya. Setelah masa tanam berakhir ia menunggu masa empat bulan ke depan untuk masa panen dengan menjadi buruh petik.

Proses menanam lahan jagung pada luasan lahan satu hektar menurut salah satu pemilik lahan jagung yang ikut mengawasi pekerjaan tersebut, Basuki (36) dilakukan selama sekitar 8 jam dari pagi hingga siang dengan tenaga kerja sekitar delapan orang dibantu oleh sang pemilik. Kecepatan pembuat lubang dengan tajuk menentukan kecepatan proses penanaman karena kedua proses tersebut harus dilakukan serasi untuk menghindari lubang yang tidak terisi bibit jagung.

"Rata rata setiap menit bisa dibuat lubang untuk menanam jagung sekitar puluhan lalu selanjutnya di belakang para perempuan yang membawa bibit menaburkan bibit di lubang dan menutupi dengan tanah,"ungkap Basuki.

Meski bekerja dengan cepat namun kerapian dalam penanaman jagung tetap harus diperhatikan ungkap Basuki,sebab lubang tanam jagung teratur berjarak 0,75 meter x 1 meter. Kecepatan pekerja tajuk jagung tersebut masih terbilang cukup lambat karena belum menggunakan mesin pertanian untuk pembuatan lubang. Sebagai pemilik lahan jagung Basuki mengaku penggunaan mesin penanam jagung di tempat tersebut hingga kini masih belum dilakukan.  Selain belum umum dilakukan ia juga berpikir belum akan menggunakan mengingat masih membutuhkan tenaga kerja manual.

"Saya tetap akan menggunakan tenaga buruh harian yang sebagian besar perempuan karena di sini masih menggunakan sistem gotong royong sekaligus saya memberi lapangan kerja bagi mereka,"ungkap Basuki.

Meski menggunakan jasa para perempuan buruh tajuk tersebut, namun seperti umumnya di wilayah tersebut kebutuhan akan makan dan minum tetap menjadi tanggungan bagi pemilik lahan. Jeda waktu istirahat tengah hari biasanya sang isteri pemilik lahan akan mengirim makanan yang istimewa berupa opor ayam dan makanan ringan lainnya dan melakukan makan bersama di gubuk atau tempat yang teduh. Proses penanaman lanjutan akan dilakukan hingga sore hari sekaligus memeriksa beberapa lubang yang belum diberi bibit jagung.

Basuki mengaku pada masa panen kali ini sengaja menanam jenis jagung hibrida DK 49 untuk luasan lahan sekitar satu hektar. Sementara untuk lahan setengah hektar miliknya sengaja ditanami dengan jagung manis yang digunakan untuk pasokan sayur dan kebutuhan bagi para penjual jagung rebus dan jagung bakar yang ada di wilayah tersebut dan sebagian di kirim ke sejumlah pasar tradisional. Sementara jagung hibrida yang ditanamnya dijual dengan sistem karungan saat jagung memasuki masa panen sekitar 4 bulan.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto; Henk Widi


Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: