JUMAT 18 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Puluhan nelayan di wilayah penangkapan perairan Kecamatan Bakauheni dan sekitarnya mendapat sosialiasi pelarangan penangkapan ikan hiu jenis hiu paus dan hiu gergaji serta ikan pari. Menurut Kepala Stasiun Karantina Ikan Bakauheni, Catur S.Udiyanto sosialisasi tersebut mengacu pada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 18 tahun 2013 dan Nomor 4 tahun 2014 yang mengatur tentang menjaga dan menjamin keberadaan dan ketersediaan ikan Pari Manta yang populasinya semakin menurun.

Sosialiasi pelarangan penangkapan ikan hiu jenis hiu paus dan hiu gergaji serta ikan pari.

Sosialisasi  perlu dilakukan perlindungan penuh terhadap ikan pari manta dan hiu paus serta hiu gergaji. Dan jenis jenis ikan ini tidak lagi diperbolehkan ditangkap nelayan.  Catur mengungkapkan sosialisasi tersebut selain mengajak masyarakat menjaga lingkungan laut juga untuk melakukan pemahaman kepada masyarakat tentang jenis jenis ikan laut yang tidak boleh ditangkap menyusul adanya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut.

Sosialisasi digelar dengan bentuk diskusi berkelompok (focus group discussion) sehingga masyarakat nelayan diberikan kesempatan untuk mengetahui jenis jenis ikan yang dilarang ditangkap. Sebab selama ini masyarakat nelayan yang ada di wilayah Bakauheni belum banyak mengetahui larangan tersebut meski beberapa spanduk dan brosur telah diberikan di beberapa perkampungan nelayan.

"Sesuai aturan memang ada yang dilarang ditangkap dan ada yang diperbolehkan ditangkap namun jumlah penangkapannya dibatasi seperti jenis ikan hiu martil dan hiu tikus yang berukuran 1 meter saja yang boleh ditangkap,"ungkap Catur S Udiyanto kepada Cendana News, Jumat (18/11/206).

Sesuai keputusan menteri tersebut ada beberapa jenis ikan hiu namun hanya hiu paus dan hiu gergaji yang diatur dalam undang undang Keputusan Menteri dan penangkapan ikan hiu dilakukan sepanjang tahun. Selain itu sosialisasi dilakukan untuk menghentikan nelayan menangkap jenis hiu tertentu sebab populasi ikan hiu di Indonesia terus menurun.

Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat tingginya minat nelayan menangkap ikan hiu di laut bebas karena permintaan daging dan sirip ikan hiu di pasaran dunia masih tinggi terutama Tiongkok dan Taiwan. Sirip dan daging ikan hiu jenis tertentu harganya sangat mahal yang dijadikan sajian makanan populer dan eksklusif  di Tiongkok dan Taiwan. Sebagai salah satu olahan hasil ikan hiu di antaranya dijadikan sop bihun dan sebagainya. Selain itu dipercayai memiliki khasiat awet muda, mempercepat regenerasi jaringan atau organ dalam tubuh yang rusak dan menambah stamina.

Pesisir Timur Lampung yang memiliki beberapa perkampungan nelayan, tempat pendaratan ikan. Kabupaten Lampung Selatan merupakan wilayah penangkapan ikan meski belum bisa dipastikan jumlah ikan hiu yang sering ditangkap nelayan. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan juga hingga kini belum mengetahui data jumlah ikan hiu yang ditangkap nelayan terutama yang sebagian ditangkap tanpa sengaja saat aktifitas penangkapan ikan di laut.

Menurut salah satu petugas dari Kementerian Kelautan berdasarkan aturan yang diterapkan nelayan harus melepaskan lagi hiu yang tak sengaja ikut tertangkap. Jika hiu ditemukan dalam kondisi mati nelayan harus membuat laporan ke pelabuhan ikan setempat. Meski demikian sosialisasi yeng bersifat preventif dilakukan agar nelayan bisa lebih memahami dan tidak lagi melakukan penangkapan ikan hiu dan ikan pari.

Setelah sosialisasi tersebut pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan berharap masyarakat bisa mematuhi aturan yang sudah diterapkan. Selain itu petugas stasiun karantina ikan yang bertugas di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni bisa melakukan pengawasan ketat terhadap perlalulintasan ikan hiu dan ikan pari dari wilayah Pulau Sumatera yang akan dilalulintaskan ke Pulau Jawa.

Salah satu nelayan Pegantungan,Asror,setuju dengan pembatasan penangkapan ikan hiu. Namun dia meminta agar pemerintah melakukan sosialisasi terlebih dahulu agar tidak mendapat penolakan dari nelayan. Ia mengaku selama ini nelayan justru senang mendapat ikan hiu meski ditangkap secara tak sengaja karena harganya lebih mahal dibanding ikan jenis lain.

"Kami selama ini sudah banyak mendapat banyak pelarangan dari mulai alat tangkap, jenis ikan yang ditangkap setidaknya ada solusi lain karena mencari ikan di laut menjadi sumber penghidupan kami,"ungkap Asror.

Berdasarkan data, CITES (Convetion on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), konvesi perdagangan Internasional untuk spesies spesies tumbuhan dan satwa liar telah memasukkan hiu sebagai satwa yang dilarang diperdagangkan. Namun Indonesia masih melakukan pengaturan pelarangan menangkap ikan hiu dalam kurun beberapa tahun terakhir. Di dunia bahkan tercatat ada 73 jenis ikan hiu yang dilarang untuk ditangkap karena populasinya di laut bebas sudah langka. D iantara 73 jenis itu, dua diantaranya berada di perairan Indonesia yakni hiu martil dan hiu koboi.

Sementara itu berdasarkan data keberagaman ikan hiu di Indonesia mencapai 116 spesies.  Jumlah hiu yang dilindungi secara penuh berupa ikan hiu paus, jumlah hiu yang dilarang ditangkap berdasarkan resolusi diantaranya hiu gergaji (pristis microdon), hiu paus (rhyncodon typus), hiu koboi, jumlah hiu yang diatur perdagangan internasional sebanyak 4 spesies. Sementara untuk jumlah pari yang ada di perairan Indonesia sebanyak 98 spesies, jumlah pari yang dilindungi penuh di antaranya jenis pari manta (manta alfredi), pari cawang (manta biostris).

Sosialisasi yang diikuti oleh puluhan nelayan tersebut merupakan kegiatan yang digagas oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut dan Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut  (PSPL) Serang. Selain itu sosialisasi tersebut juga dihadiri oleh satuan polisi air (Satpolair) Polres Lampung Selatan, Stasiun Karantina Ikan Bakauheni dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Selatan serta TNI Angkatan Laut (AL).

Jurnalis:  Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: