MINGGU, 20 NOVEMBER 2016

LOMBOK --- Sebagai sentra utama dan terbesar kerajinan kain tenun di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), hampir sebagian besar masyarakat Sukarare, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) menggantungkan hidup dari nyesek (menenun) terutama kaum perempuan.


"Nyesek bagi hampir sebagian besar masyarakat Desa Sukarare jadi mata pencharian utama dan diwariskan secara turun temurun sejak zaman nenek moyang," kata Saidah, pengerajin kain tenun Desa Sukarare, Minggu (20/11/2016).

Tapi kerajinan tenun memang semuanya dikerjakan dan hasilkan oleh kaum perempuan, sementara laki - laki tidak diperbolehkan untuk menenun. Mereka harus mengerjakan pekerjaan lain seperti bertani dan pekerjaan lain.

Aktivitas menenun warga masyarakat Desa Sukarare bisanya dimulai dari jam 08.00 pagi sampai 17.00. Wita setiap hari, ada yang menenun kain, sebagian lagi menenun sapuk kepala.

Sunti, salah satu pemilik gerai mengatakan, untuk menyelesaikan satu buah kain tenun bermotif, memakan waktu satu sampai tiga bulan menurut motif, semakin banyak motifnya, semakin lama proses pembuatannya.

"Karena lamanya pembuatan kain tenun membuat harga kain tenun Desa Sukarare mahal, mulai lima ratus ribu sampai empat juta rupiah," katanya.

Lebih lanjut ia menambahkan, untuk pemasaran sendiri, hasil kerajinan kain tenun warga biasanya diambil oleh koperasi untuk dijual di sentra galeri yang ada di Desa Sukarare.
Jurnalis : Turmuzi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Turmuzi
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: