RABU 23 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Di era pasar bebas ASEAN, liberalisasi di semua sektor menjadi sebuah keharusan. Tidak kecuali di sektor asuransi. Namun, liberalisasi itu jika tak dilakukan ekstra hati-hati bisa membuat pasar domestik Indonesia justru tergerus oleh bangsa asing. Hal demikian dikatakan salah satu penasihat (Advisor) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Triyono, saat ditemui usai pembukaan Pertemuan Regulator Asuransi ASEAN (Asean Insurrance Regulators Meeting/AIRM) Ke-19 di Yogyakarta, Rabu (23/11/2016). 

Triyono, advisor OJK.
Triyono mengungkapkan, Indonesia sebagai pasar terbesar di ASEAN harus berhati-hati menerapkan keterbukaannya untuk melindungi pasar domestik. Keterbukaan yang menjadi keharusan di era pasar bebas ASEAN tetap harus diatur dan disepakati bersama. Selain untuk melindungi pasar domestik, keterbukaan Indonesia juga bisa saja menimbulkan keberatan dari negara lain.

"Hal itulah yang menjadi topik penting dalam AIRM kali ini, sejauh mana keterbukaan kita akan dilakukan", ujarnya.

Kendati liberalisasi dianggap sebagai keharusan bagi Indonesia yang telah terintegrasi ke dalam satu komunitas ekonomi Asean, Triyono menegaskan, jika Indonesia tidak mungkin akan menerapkan liberalisasi sepenuhnya. Hal ini, menurutnya, mengingat Indonesia yang merupakan pasar terbesar di ASEAN.

Triyono mengatakan, sektor asuransi di Indonesia pada 2025 nanti sudah terliberalisasi secara signifikan. Sementara, katanya, saat ini Indonesia akan mencoba memberlakukan prototipe atau model liberalisasi asuransi pada produk asuransi kelautan, penerbangan, dan transit atau transportasi (Marine, Aviation and Transit-Transportation/MAT) yang akan berlaku di Asia Tenggara.

Jika liberalisasi produk Asuransi MAT itu berhasil, lanjut Triyono, maka liberalisasi pada produk-produk asuransi lainnya akan segera dilakukan. Liberalisasi asuransi, kata Triyono, memang berbeda dengan liberalisasi di sektor perbankan yang lebih menggunakan pendekatan konstitusi.

"Liberalisasi asuransi lebih kepada produk. Misalnya, asuransi kendaraan bermotor di Indonesia yang selama ini hanya bisa diberikan ganti rugi ketika mengalami kecelakaan di Indonesia. Maka, dengan liberalisasi Asuransi MAT, kendaraan yang diasuransikan di Indonesia dan mengalami kecelakaan di luar negeri bisa diberikan ganti rugi. Demikian pula sebaliknya", jelas Triyono.

Liberalisasi di sektor asuransi yang berorientasi kepada produk, dilakukan karena sejauh ini tidak ada perusahaan asuransi lokal yang besar. Semua perusahaan asuransi yang besar yang ada sekarang ini merupakan perusahaan gabungan atau join venture. Tidak hanya di Indonesia, namun juga di negara-negara lain.

"Liberalisasi yang berorientasi kepada produk juga dilakukan karena kita ingin memberikan proteksi atau mempertimbangkan kepentingan domestik. Kita tetap akan memberi porsi yang sesuai,", pungkasnya.

Jurnalis: Koko Triarko/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Koko Triarko

Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: