MINGGU, 27 NOVEMBER 2016

LOMBOK --- Bagi sebagian orang, menjalani kehidupan dalam kondisi kekurangan dan keterbatasan tentu bukan perkara mudah. Lebih-lebih kekurangan yang disandang berkaitan dengan anggota badan. Kalau tidak siap secara mental bisa frustasi dan menjauhkan diri dari pergaulan masyarakat.

Paizal Bahri usai menerima penghargaan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi di acara TTG beberapa hari lalu
Tapi bagi Paizal Bahri, pembuat kaki palsu dari serabut kelapa asal Dusun Bangle, Desa Pesanggarahan, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), kekurangan dan keterbatasan fisik tidak harus menjadi alasan untuk berkecil hati menjalani kehidupan.

"Masih banyak hal bisa dilakukan dan diperbuat, daripada harus berpangku tangan meratapi kekurangan dan keterbatasan disandang dalam penyesalan," kata Paizal kepada Cendana News, Minggu (27/11/2016).

Paizal sendiri merupakan penyandang disabilitas, kecelakaan yang menimpanya 2006 silam merenggut salah satu anggota badannya, setelah kakinya diamputasi.

Berangkat dari kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan salah satu kakinya, menginspirasi Paizal mencetuskan ide pembuatan kaki palsu dari serabut kelapa dan piber untuk membantu masyarakat yang kehilangan salah satu kakinya, baik karena kecelakaan maupun diabetes.

Semenjak saat itulah, dirinya mulai melakukan riset dan membantu setiap warga yang membutuhkan kaki palsu untuk dibuatkan kaki palsu dari serabut kelapa dan piber.

"Bagi setiap warga yang hendak membuat kaki palsu, harus menginap ditempat saya, langkah tersebut dilakukan, selain untuk melakukan pengkuran dan penyesuaian bentuk kaki asli pasien dengan kaki palsu, juga untuk diberikan terapi," jelasnya.

Menurut Paizal, terapi penting dilakukan sebelum pemasang kaki palsuzal dilakukan, dengan melakukan sharing dan memberikan motivasi. Mengingat tidak semua orang yang menyandang keterbatasan secara fisik, kejiwaan dan mentalnya dalam kondisi baik, sehingga terapi penting dilakukan.

"Saya sendiri sebagai orang yang kehilangan salah satu anggota badan pernah merasakan bagaimana tekanan mental dan rasa minder untuk bergaul menghinggapi, tapi pada ahirnya bisa beradaptasi,"sebutnya.

Setiap pasien yang hendak dibuatkan kaki pasu menginap menjalani terapi antara dua hingga tiga hari, juga untuk mencocokkan kaki asli dengan kaki palsu yang hendak dibuatkan, mengingat, setiap orang bentuk kakinya berbeda-beda.

"Semenjak beroprasi pada 2007 sampai sekarang, ratusan pasien telah saya tolong dan buatkan kaki palsu, baik dari NTB maupun luar NTB,"katanya.

Untuk harga kaki palsu yang dibuat sendiri, bervariasi, mulai dari tiga hingga empat juta rupiah, tergantung bentuk dan ukuran.

Atas dedikasinya terhadap sesama, Paizal meraih penghargaan dari Menteri Desa, pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi di acara gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) nasional di Mataram beberapa hari lalu.
Jurnalis : Turmuzi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Turmuzi
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: