SENIN, 14 NOVEMBER 2016

JAKARTA --- Museum Kehutanan Manggala Wanabakti diresmikan oleh Presiden kedua RI, H.M. Soeharto yang akrab disapa Pak Harto pada tanggal 24 Agustus 1983. Museum bertingkat dua dengan luas bangunan kurang lebih 1.466 meter persegi ini menyimpan beragam koleksi artefak, dokumentasi, dan informasi seputar Kehutanan Indonesia.

Pohon jati asli setinggi 15 Meter dari Cepu serta replika satwa hutan yang terancam punah
Visi Museum Manggala Wanabakti sejak awal berdirinya adalah hadir sebagai pusat informasi dan edukasi lingkungan hidup dan kehutanan bagi masyarakat. Sedangkan misi pendirian museum itu sendiri terbagi menjadi beberapa point utama, yakni :

1. Mendokumentasikan segala kegiatan di bidang lingkungan hidup dan kehutanan yang bernilai sejarah dari masa ke masa.

2. Memberikan edukasi, informasi dan rekreasi sekaligus kepada masyarakat yang datang berkunjung.

3. Berunsur ilmiah, sehingga menunjang pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) lingkungan hidup dan kehutanan.

4. Berdaya hidup, sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat dan ditekuni oleh para ilmuwan.

Koleksi-koleksi Museum Kehutanan Manggala Wanabakti sangat menarik karena terdiri dari beragam varian tentang sejarah kehutanan di Indonesia, peralatan dan transportasi kehutanan lintas jaman, produk hutan kayu dan non kayu, serta visualisasi hutan dan taman nasional.

Saat memasuki gedung museum ini, pengunjung langsung melihat pohon jati (tectona grandis) berusia 139 tahun setinggi 15 meter yang berasal dari Cepu, Jawa Tengah. Pohon jati atau Teak wood tersebut merupakan ikon Museum Kehutanan Manggala Wanabakti yang diapit oleh dua pohon jati ukuran kecil berusia 20 tahun yang berasal dari Purwakarta, Jawa Barat.

Di sebelah kanan pohon jati asal Cepu, diletakkan fosil kayu yang ditemukan di salah satu dasar sungai wilayah Balaraja dekat Tangerang (sekarang Provinsi Banten), tepatnya di sebelah barat Rangkasbitung. Fosil ini terbentuk karena lama terbenam di dalam lahar erupsi Gunung Donau, dimana abu vulkanik gunung tersebut menutupi seluruh daerah utara Banten dan Lampung. Ditambah kandungan kersik (SiO2) yang tinggi, maka kayu tersebut mengalami proses silisifikasi untuk kemudian menjadi fosil.

Di depan sebelah kiri terdapat potongan kayu jati berusia 336 tahun dimana potongan kayu jati tersebut juga adalah saksi bisu beberapa peristiwa dalam sejarah kehutanan serta sejarah Indonesia. Sebuah kekayaan dan keabadian alam yang amat menarik untuk dinikmati setiap pengunjung museum.

Kiri : Dokumentasi Presiden Soeharto beserta Ibu Tien Soeharto kala meresmikan Museum Kehutanan Manggala Wanabakti; Kanan : Museum Kehutanan yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI
Mengelilingi pohon jati asal Cepu adalah hewan-hewan khas Indonesia yang menghuni sebagian besar hutan di Indonesia dan memiliki status konservasi tingkat 'Rentan' atau terancam punah, mereka diantaranya adalah; Trenggiling (manis javanica syn), Beruang madu sumatera (helarctos malayanus), Beruang madu kalimantan (helarctos curyspilus), Buaya muara (crocodylus porosus), Penyu sisik (eretmochelys imbricate), Harimau sumatera (panthera tigris sumatrae), dan Macan dahan (neofelis nebulosa).

Khusus untuk Harimau, maka dua jenis harimau yang sudah dinyatakan punah adalah Harimau jawa (panthera tigris sondaica) dan Harimau bali (panthera tigris balica).

Sesuatu yang menarik ada di pojok kiri museum, yaitu replika Monumen Pahlawan Pasukan Wanara yang monumen aslinya ditempatkan di Desa Sumberboto, Jombang, Jawa Timur. Monumen ini merupakan pengingat bagi bangsa Indonesia peristiwa meledaknya bom di hutan Sumberboto, Jombang, Jawa Timur pada tanggal 12 April 1948, yaitu pada masa revolusi fisik (1945-1949) dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Peristiwa tersebut terjadi saat Pasukan Wanara atau Pejuang Rimbawan sedang membongkar bom untuk diambil mesiu demi menyiasati semakin menipisnya peluru akibat begitu hebatnya pertempuran gerilya yang mereka jalani di hutan Sumberboto. Kecelakaan ini menyebabkan gugurnya beberapa anggota Pasukan Wanara, yakni Soegondo, Djaudji, Soewadji, Kadjas dan Tasmidjan.

Monumen Pahlawan Pasukan Wanara diresmikan oleh Dirjen Kehutanan RI, Dr. R. Soedjarwo pada tanggal 25 Juli 1970, atau 13 tahun sebelum diresmikannya Museum Kehutanan Manggala Wanabakti oleh Pak Harto.

Dari seluruh Pasukan Wanara yang ada serta berjuang saat itu, tersisa 22 Veteran Pejuang Rimbawan yang nama beserta foto mereka diabadikan di museum kehutanan, mereka adalah ; Prof. Ir. H. Soekiman Atmosoedarjo, Ir. Sulaeman Partadisastra, Drs. H. Adang Doerachman, Walman Sinaga, Brigjen (Pol) Drs. Siswojo Sarodjo, Ir. R.I.S. Pramoedibyo S, Tri Harsono, R.M. Soehando Sastro Sadarpo, Sidarto, S.H., Soedjadi, Ir. Hartono Wirjodarmodjo, M.A., Ir. Mohamad Fadil, Kol. R. Harjadi Hardjosoebroto, M.H. Salim, Ir. Widayat Eddypranoto, Brigjen (TNI-AD) R. Soebronto Ranoeprawiro, Ir. R. Soedomo Reksopoetro, Santo Sewoyo, S.H., R.H. Achwantoro, Soekandi, S.H., Ibu Rustinah Dameria Pohan (isteri Walman Sinaga), Ir. Andang Trihadi.

Seiring bergantinya waktu dan pemerintahan negara Republik Indonesia, maka Museum Kehutanan Manggala Wanabakti juga mengalami perubahan nama. Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tanggal 5 Juni 2015, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Siti Nurbaya Bakar menyematkan nama baru untuk Museum Kehutanan Manggala Wanabakti menjadi Gedung Museum dan Perpustakaan " Ir. Djamaludin Suryohadikusumo " dengan mempertimbangkan pengabdiannya kepada negara melalui Departemen Kehutanan RI selama 40 tahun (1958-1998).

Ir. Djamaludin Suryohadikusumo lahir tanggal 11 Oktober 1934 di Lumajang. Lulusan S-1 Fakultas Pertanian dan Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Jurusan Kehutanan ini meniti kariernya mulai dari Asisten Dosen pada Fakultas Pertanian dan Kehutanan (1958-1961), Perum Perhutani (1962-1980), PT. Inhutani II (1983-1988), kemudian Departemen Kehutanan hingga Menteri Kehutanan RI (1993-1998).

Kecintaannya pada hutan dan kehutanan mendorongnya untuk terus bergiat dalam berbagai organisasi non profit seperti CIFOR, TNC, PERSAKI, BOS Foundation, LEI, KBS dan Yayasan Satya Gama. Sampai sekarang beliau masih aktif di Yayasan Surya Andana Asih, KEMARI, WWF, Yayasan Leuser Indonesia, Forum Pemerhati Kehutanan, MAPORINA dan Pembina Persatuan Peminat dan Ahli Kehutanan (PPAK). Berkat ketekunan dan totalitasnya dalam mengabdi, beliau memperoleh berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri.

Kekayaan alam sektor kehutanan, kelestarian lingkungan hidup sebagai ekosistem yang mempererat rantai kehidupan hutan disatukan dengan bagaimana para Pejuang Rimbawan mempertahankan kemerdekaan di bawah perlindungan lebatnya hutan merupakan sebuah konsep yang coba dibangun Pak Harto. Kemudian konsep tersebut disatukan menjadi semangat menghargai dan melestarikan hutan di Indonesia.

Semangat tersebut jika diterjemahkan adalah jaga dan gunakanlah kekayaan hutan yang ada sepenuh-penuhnya untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Banyak hal positif yang dihasilkan melalui pemanfaatan hutan, namun terlalu besar dampak negatif yang ditimbulkan melalui eksploitasi hutan secara tidak bertanggung jawab.

Kiri : Replika Monumen Pahlawan Pasukan Wanara; Tengah : Krida Poerna Joedha Rimbawan Pejuang Kemerdekaan; Kanan : Susunan organisasi Pasukan Wanara atau Pejuang Rimbawan
Oleh karena itu, ingatlah betapa hutan telah membuat bangsa ini merdeka dengan melindungi para Pejuang Rimbawan, ingatlah bahwa hutan berikut apa yang ada didalamnya dapat mensejahterakan bangsa ini serta ingatlah bahwa hutan Indonesia menyimpan keabadian sejarah dan kearifan lokal bangsa yang tak tergantikan.

Semangat ini yang coba ditanamkan Pak Harto bagi seluruh bangsa Indonesia dalam membangun perspektif atau cara pandang pelestarian hutan dan lingkungan hidup. Bahkan semangat itu juga yang ditanamkan Pak Harto untuk Kementerian Kehutanan di era pemerintahan beliau agar terhindar dari pemanfaatan hutan secara negatif. Dan Museum Kehutanan Manggala Wanabakti atau sekarang dikenal dengan Gedung Museum dan Perpustakaan " Ir. Djamaludin Suryohadikusumo " merupakan tempat abadi dari konsep pemikiran beliau.
*Sumber Berita dan Foto : Gedung Museum dan Perpustakaan Manggala Wanabakti atau sekarang dikenal dengan nama " Ir. Djamaludin Suryohadikusumo "
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: