SELASA 15 NOVEMBER 2016

JAKARTA---Saat Anda memasuki ruangan lantai satu Museum Kehutanan Manggala Wanabakti atau disebut juga Museum dan Perpustakaan Ir. Djamaludin  Suryohadikusumo maka Anda  akan melihat langsung tampilan ukuran besar di dalam lemari kaca  yang menggambarkan  Enam Taman Nasional besar yang ada di Indonesia.  Mulai dariTaman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Wakatobi dan Taman Nasional Way Kambas. Dua di antara enam tampilan itu berada di Pualau Sumetara menarik perhatian penulis.

Kiri : Orangutan Sumatera, Tengah: Gajah Sumatera. Kanan: Badak Sumatera
Untuk Pulau Sumatera, Pemerintah Republik Indonesia di era Presiden kedua RI, H.M. Soeharto yang akrab disapa Pak Harto menancapkan tonggak Konsep Hutan Lestari Nasional di wilayah barat Indonesia melalui kehadiran dua Taman Nasional yaitu Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Way Kambas.

Taman Nasional Gunung Leuser

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan pantai dan hutan hujan tropika dataran rendah sampai pegunungan. Keluarga Dipterocarpaceae (kelompok tumbuhan pantropis yang bermanfaat dibidang perkayuan) banyak mendominasi kawasan ini.

Terdapat tumbuhan langka dan khas yaitu Daun Payung Raksasa, Bunga Raflesia, Rhizhantes Zippelnii yang merupakan bunga terbesar berdiameter 1,5 meter serta tumbuhan Ara Pencekik. Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di TNGL antara lain; Orangutan (pongo abelii), Siamang, Gajah Sumatera, Badak Sumatera,Harimau Sumatera, Kambing Hutan atau disebut juga Kambing Sumatera, Burung Rangkong, Rusa Sambar dan Kucing Hutan atau disebut juga Kucing Sumatera.

Luas TNGL adalah 1.094.692 hektar dan terletak di dua Provinsi, yakni Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) serta Sumatera Utara. Area TNGL di Provinsi NAD meliputi Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Gayo Lues dan Aceh Tamiang. Sedangkan untuk Provinsi Sumatera Utara meliputi Kabupaten Dairi, Karo dan Langkat. Nama TNGL itu sendiri diambil dari Gunung Leuser (Aceh) yang tingginya mencapai kurang lebih 3.404 mdpl.

Obyek wisata alam yang menarik untuk dikunjungi di TNGL yakni ;

  1. Gurah : Menikmati panorama alam, lembah, sumber air panas, danau,  air terjun, pengamatan satwa dan tumbuhan seperti Bunga Raflesia, orangutan, burung, ular dan kupu-kupu.
  2. Bohorok : Berkemah dan menikmati keindahan sungai serta mengamatiburung, juga mengamati pusat reintroduksi Orangutan Sumatera.
  3. Kluet : Bersampan di sungai dan danau serta wisata pantai dan goa. Daerah ini juga merupakan habitat Harimau Sumatera.
  4. Sekundur : Berkemah, wisata goa dan pengamatan satwa.
  5. Ketambe dan Suak Belimbing : Penelitian primata dan satwa lain.
  6. Gunung Leuser (3.404 mdpl) dan Gunung Kemiri (3.314 mdpl) : Mendaki gunung dan arung jeram di sungai Alas.

Wisata Arung Jeram di Sungai Alas.
Hingga saat ini di Bukit Lawang-Bohorok, hidup sekitar  5.000 ekor Orangutan Sumatera.  Pada era pemerintahan Pak Harto, melalui Keputusan Menteri Kehutanan No.276/kpts-II/1997 mengukuhkan TNGL sebagai hutan hasil penggabungan kawasan hutan margasatwa sekaligus Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas. Diterimanya Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera masuk ke daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 2004 oleh UNESCO, maka otomatis Taman Nasional Gunung Leuser juga ikut masuk didalamnya.

Namun begitu, hingga kini pembantaian orangutan di Pulau Sumatera oleh manusia-manusia tidak bertanggung jawab demi membuka lahan perkebunan kelapa sawit terus menjadi polemik yang berkepanjangan.



Kiri : Lokasi Taman Nasional Gunung Leuser, Kanan: Lokasi Taman Nasional Way Kambas

Taman Nasional Way Kambas

Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terletak di Provinsi Lampung dengan luas kurang lebih 130.000 hektar. TNWK merupakan perwakilan ekosistemhutan dataran rendah yang terdiri dari hutan air tawar, padangalang-alang dan hutan pantai di Sumatera. Jenis tumbuhan di TNWK antara lain ; Api-Api, Pidada, Nipah, Gelam, Salam, Rawang, Ketapang, Cemara Laut, Pandan, Puspa, Meranti, Minyak dan Ramin.

TNWK juga memiliki 50 jenis mamalia diantaranya Gajah Sumatera, Badak Sumatera, Harimau Sumatera, Tapir, Anjing Hutan atau Anjing Sumatera dan Siamang. Lalu terdapat juga 406 jenis burung, diantaranya Bebek Hutan, Bangau Sandang Lawe, Bangau Tong Tong (Bangau Jawa), Sempidan Biru, Kuau, Pecuk Ular, serta berbagai jenis hewan kategori reptilia, amfibia, ikan dan insekta.

Daya tarik utama dari TNWK adalah Gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus) yang berada di Pusat Latihan Gajah atau disingkat PLG. Gajah-gajah liar yang dilatih di PLG dapat dijadikan sebagai gajah tunggang, atraksi, angkutan kayu dan bajak sawah. Di PLG juga para turis bisa menyaksikan para pelatih hewan profesional mendidik serta melatih gajah liar bermain bola, menari, berjabat tangan, hormat,mengalungkan bunga, tarik tambang, berenang dan masih banyak lagi atraksi menarik lainnya.

PLG yang berdiri pada 1985 kini berganti menjadi Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang hingga kini telah berhasil mendidik sekaligus menjinakkan sekitar 300 ekor gajah untuk kemudian disebar ke seluruh Indonesia.

Selain sebagai konservasi Gajah Sumatera, TNWK juga menjadi tempat International Rhino Foundation yang bertugas menjaga spesies Badak Sumatera (atresudicerorhinus mnsis) agar tidak punah. Badak Sumatera atau disebut Badak Kerbau merupakan badak bercula dua dengan fisik medium. Habitat aslinya adalah di hutan lebat sampai ke daerah terbuka, namun sekarang sudah jarang ditemui dan hanya terlihat sesekali di hutan dekat aliran sungai kala mencari makan kala pagi maupun sore hari.

Daerah penyebarannya meliputi wilayah Burma, Muangthai, India, Indocina, Bangladesh dan Malaysia. Badak Sumatera selain dapat ditemui di TNWK juga hidup di Taman Nasional Gunung Leuser, Kalimantan Timur (Kutai, Hulu Mahakam), Kalimantan Tengah (Hulu Barito) dan Sungai Banumuda (Kutai). Populasi Badak Sumatera hingga saat ini diduga tersisa sekitar 100 ekor saja dan tersebar dibeberapa daerah di Pulau Sumatera termasuk di TNWK.

Pada 18 Januari 1986, di Hutan Torgamba Riau, Sumatera, berhasil ditangkap seekor Badak Sumatera dengan tujuan untuk dikembangbiakkan di kebun binatang Ragunan, Jakarta. Namun pada  23 Januari 1986 ia mati sebelum sempat diangkut dari hutan. Badak Sumatera tersebut hingga kini diabadikan di Museum Kehutanan Manggala Wanabakti.

Mengenai pelestarian Badak Sumatera dan Gajah Sumatera,  Soeharto bersama lembaga legislatif mengeluarkan Undang Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan Gajah serta Badak Sumatera termasuk didalamnya sebagai hewan yang dilindungi serta masuk wilayah jamah konservasi.

Namun begitu, seiring berjalannya waktu, sejak  2004, nasib Gajah Sumatera di Riau tercatat mati terbunuh oleh manusia hingga 100 ekor.Hingga akhirnya pada 2007 tercatat populasi Gajah Sumatera di Riau hanya tersisa sekitar 210 ekor. Seluruh habitatnya di Sumatera (termasuk TNWK), di tahun 2007 juga tercatat estimasi populasi Gajah Sumatera hanya tersisa kurang lebih 2.800 ekor. Pembunuhan Gajah Sumatera banyak dilakukan manusia untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit.  Mirisnya pembunuhan gajah-gajah tersebut banyak diklaim manusia sebagai bentuk pembelaan diri akibat serangan gajah ke area pemukiman penduduk.

Pada 2016 Taman Nasional Way Kambas (TNWK) menerima kehormatan ditetapkan menjadi Kawasan Taman Warisan ASEAN ( ASEAN Heritage Park) ke-36 di Asia Tenggara.

Menilik konsep pelestarian hutan dan ekosistem hayati yang dilakukan Pak Harto untuk Indonesia bagian barat, maka dua Taman Nasional besarseperti TNGL dan TNWK sudah menjadi penopang pelestarian hutan Indonesia di bagian barat Indonesia. Pak Harto memiliki pandangan ke depan bahwa Lestarinya Hutan di Sumatera Utara, Aceh dan Lampungmelalui TNGL dan TNWK diharapkan mampu menopang kehidupan penduduk.Fungsinya mulai dari  mencegah terjadinya bencana alam maupun menggerakkan roda ekonomi sektor pariwisata penduduk setempat kedepannya.  Hal itu akhirnya terwujud hingga saat ini.

Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: