SELASA, 15 NOVEMBER 2016

JAKARTA --- Melanjutkan konsep pelestarian hutan dan konservasi alam berbentuk Taman Nasional yang dilakukan Pak Harto di wilayah barat Indonesia, ternyata bukan sebatas itu saja, melainkan terus mengembangkan Taman Nasional sampai ke bagian timur Indonesia.

 Kiri : Hewan Komodo; Tengah : Wisata berkuda di kaldera; Kanan : Hewan Ikan Napoleon

Saat pengunjung Museum Kehutanan Manggala Wanabakti atau sekarang dikenal dengan Museum dan Perpustakaan Ir. Djamaludin Suryohadikusumo memasuki pintu lantai satu, setelah menyeberangi diorama hewan-hewan hutan khas Indonesia maka pameran pertama yang dijumpai adalah informasi lengkap mengenai Taman Nasional Ujung Kulon dalam tampilan layar raksasa.

Layar informasi sekaligus edukasi Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berada dalam satu putaran melingkar dengan layar informasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Taman Nasional Wakatobi (TNW) dan Taman Nasional Komodo (TNK).


Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon berawal dari daerah bernama Ujung Kulon sebagai wilayah pertanian subur sampai akhirnya hancur lebur dan habis seluruh penduduknya oleh sapuan tsunami setinggi kurang lebih 15 meter akibat letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Namun setelah melewati beberapa periode waktu berikutnya, melalui proses alam, maka wilayah ini kembali lagi menjadi daratan dan hutan.

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) terletak di Provinsi Banten. Kawasan TNUK berada dalam satu kesatuan dengan wilayah Gunung Krakatau dan beberapa pulau kecil di sekitarnya, seperti Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang. TNUK mempunyai luas sekitar 122.956 hektar dengan 443 meter persegi diantaranya adalah laut, mulai dari Tanjung Ujung Kulon sampai Samudera Hindia.

TNUK ditetapkan sebagai Warisan Dunia yang dilindungi UNESCO pada tahun 1991. TNUK adalah habitat bagi badak jawa (rhinoceros sondaicus) atau dikenal dengan badak bercula satu yang dilindungi. Populasi badak jawa kini hanya tersisa sekitar 50 hingga 60 ekor saja.

Flora di TNUK membentuk berbagai formasi hutan, mulai dari hutan pantai, hutan hujan tropika dataran rendah, hutan hujan tropika pegunungan, hutan rawa air tawar, hutan mangrove dan padang rumput. Formasi hutan yang cukup lengkap ini mengandung keragaman plasma nutfah serta spesies flora yang sangat tinggi. Terdapat beberapa jenis flora langka endemik di TNUK, seperti ; Batryohora geniculata, Cleidion spiciflorum, Heritiera percoriacea dan Knema globularia.

Jenis flora yang dimanfaatkan sebagai bahan kayu bangunan antara lain bayur dan beragam rotan. Sedangkan kayu gaharu, kayu cempaka dan kayu jambe dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-obatan. Ada juga bunga anggrek yang dijadikan sebagai komoditi tanaman hias serta tangkil dan salak sebagai bahan pangan. Untuk fauna endemik dan dilindungi, selain badak jawa (rhinoceros sondaicus) maka TNUK juga memiliki owa jawa, surili serta anjing hutan.

Di era pemerintahan Presiden kedua RI, H.M. Soeharto atau akrab disapa Pak Harto, pencanangan Taman Nasional Ujung Kulon diawali dengan penetapannya sebagai Cagar Alam Ujung Kulon melalui SK Menteri Pertanian No.39/Kpts/Um/1979 pada tanggal 11 Januari 1979. Kemudian diperkuat lewat Keputusan Menteri Kehutanan No.284/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992 yang isinya menunjuk daerah Ujung Kulon sebagai Taman Nasional Ujung Kulon. Dasar yang digunakan dari penetapan, penunjukkan serta peneguhan tersebut adalah Undang Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Salah satu hal menarik yang menjadi koleksi museum ini di bagian pameran dan edukasi Taman Nasional Ujung Kulon adalah kerangka badak jawa berusia 25 tahun jenis jantan lengkap dengan cula, yang ditemukan oleh Tim Inventarisasi badak jawa pada kamis, 20 Mei 2010, pukul 12.45 WIB, di blok Nyiur, Taman Nasional Ujung Kulon.


Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alphin dengan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. TNBTS terletak di Jawa Timur, mencakup Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo dengan luas wilayah sekitar 50.276,2 hektare.

Sebelum ditetapkan sebagai taman nasional, daerah Tengger merupakan kawasan hutan yang berfungsi sebagai cagar alam dan hutan wisata. Kawasan itu juga berfungsi sebagai hutan lindung dan hutan produksi. Melalui Kongres Taman Nasional Sedunia di Denpasar, Bali, pada 14 Oktober 1982, Kawasan Bromo Tengger Semeru dikukuhkan sebagai Taman Nasional atas pertimbangan alam dan lingkungannya yang perlu dilindungi serta aneka kearifan lokal untuk dilestarikan.

Mengacu pada hasil kongres tersebut maka pada 12 November 1992, pemerintah RI di era Presiden kedua, H.M. Soeharto meresmikan kawasan Bromo Tengger Semeru menjadi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Diresmikannya TNBTS diikuti dengan SK Menteri Kehutanan No.278/Kpts-VI/97 yang menetapkan luas kawasan TNBTS adalah 50.276,2 hektar.

Di kawasan ini terdapat kaldera lautan pasir seluas kurang lebih 6.290 hektar. Batas kaldera itu berupa dinding yang terjal dengan ketinggian antara 200-700 meter. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di TNBTS antara lain ; jamuju, cemara gunung, edelweis, serta beragam jenis anggrek dan rumput langka seperti styphelia pungieus.

TNBTS menjadi habitat dari 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia. Satwa langka dan dilindungi yang ada di TNBTS diantaranya luwak, rusa, kera ekor panjang, kijang, ayam hutan merah, macan tutul dan ajag. Selain itu terdapat pula beberapa jenis burung seperti alap-alap, rangkong, elang ular bido, srigunting hitam dan elang bondol.

Keistimewaan akan kearifan lokal tempat ini adalah sebagai destinasi peribadatan suci lintas agama yakni bagi umat beragama Islam dan Hindu. Pada hari raya besar Hindu seperti Kuningan maupun Galungan, maka kawasan ini akan kedatangan ribuan jemaah Hindu dari seluruh Indonesia khususnya Bali untuk mengikuti sakramen upacara suci dengan bersembahyang di Pura. Selain itu, untuk daya tarik wisata, tempat ini menjadi daerah favorit menunggang kuda melintas kaldera.

Kiri atas : Salah satu penyu yang dilindungi di Wakatobi; Kanan atas : Terumbu karang di Wakatobi; Kiri bawah : Panorama perbukitan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru; Kanan bawah : Keindahan panorama Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Taman Nasional Wakatobi

Taman Nasional Wakatobi (TNW) terletak di Kepulauan Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara. Luasnya sekitar 1.390.000 hektare, sama dengan luas wilayah Kabupaten Wakatobi. Dari luas tersebut, 97 persen merupakan wilayah perairan, sedangkan sisanya adalah wilayah daratan berupa pulau-pulau.

Nama Wakatobi adalah singkatan empat nama pulau besar yang menyusun kepulauan ini yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Seluruh pulau yang berada di kawasan TNW tidak mempunyai sungai besar yang permanen, karena kepulauannya tersusun atas batuan kapur seperti ekosistem Karst.

Pada era pemerintahan Presiden kedua RI, H.M. Soeharto wilayah ini ditunjuk sebagai Kawasan Konservasi Laut pada 1996. Setahun kemudian, pada 1997, Kepulauan Wakatobi ditetapkan sebagai Taman Nasional. TNW memiliki tujuh tipe vegetasi, yaitu hutan mangrove, hutan pantai, hutan rawa dataran rendah, vegetasi tebing sungai, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan terumbu karang.

Flora di TNW cukup variatif, mulai dari beragam tanaman mangrove serta berbagai jenis tanaman kayu seperti jabon, leda, beringin, meranti, dan lain-lain. TNW juga memiliki 125 jenis terumbu karang yang terdiri dari karang tepi, karang penghalang dan karang cincin. Sedangkan untuk fauna, TNW tergolong cukup memiliki varian menarik mulai dari mamalia, burung, reptil, amfibi, krustase dan moluska. Akan tetapi, dari semua jenis fauna yang ada, dua jenis yang menjadi ciri khas TNW adalah ikan napoleon (cheilinus undulatus) dan empat jenis penyu yang dilindungi yakni penyu sisik (eretmochelys imbricate), penyu tempayan (carreta carreta), penyu hijau (chelonia mydas) dan penyu lekang (lepidochelys alivaceae).


Taman Nasional Komodo

Diawali tahun 1977 dinyatakan sebagai Cagar Manusia dan Biosfer, maka Menteri Pertanian RI mengeluarkan Pengumuman pada 6 Maret 1980 tentang Pembentukan Taman Nasional Komodo (TNK). Selanjutnya, Dirjen PHPA mengeluarkan Surat Keputusan No.46/Kpts/VI-Sek/84 tanggal 11 Desember 1984 mengenai penunjukkan wilayah kerja Taman Nasional Komodo.

Setelah Suaka Margasatwa Pulau Komodo ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia, maka Tanggal 9 Januari 1992, Presiden kedua RI, H.M. Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No.4 Tahun 1992 yang memutuskan sekaligus menetapkan hewan eksotis asal Nusa Tenggara yakni Komodo sebagai Simbol Satwa Nasional.

Keputusan Presiden tersebut kemudian diikuti dengan Keputusan Menteri Kehutanan No.306/Kpts-II/92 tanggal 29 Februari 1992 tentang Perubahan Fungsi Suaka Margasatwa Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar seluas 40.728 Ha serta Penunjukkan Perairan Laut di sekitarnya seluas 132.572 Ha yang terletak di Kabupaten Dati II Manggarai Provinsi Dati I Nusa Tenggara Timur menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional Komodo atau disingkat TNK.

Taman Nasional Komodo terdiri dari tiga pulau besar yakni Pulau Komodo, Rinca dan Padar, ditambah 26 pulau kecil lainnya. Taman Nasional Komodo berada diantara Pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Pulau Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di tahun 2000 Taman Nasional Komodo ditetapkan sebagai Kawasan Perlindungan Laut, dan pada tahun 2006 ditetapkan sebagai salah satu Taman Nasional Model di Indonesia.

Daya tarik utama Taman Nasional Komodo adalah reptil raksasa purba biawak komodo (varanus komodoensis). Sedangkan keaslian dan kekhasan alamnya terutama panorama savana dan bawah laut merupakan daya tarik pendukung potensial.

Wisata bahari yang dapat dilakukan di Taman Nasional Komodo meliputi memancing, menyelam dan bersampan. Sedangkan di daratan, wisata alam meliputi pengamatan satwa, mendaki gunung dan berkemah juga bisa dijadikan opsi wisata berikutnya.

Taman Nasional Komodo menyimpan 277 spesies hewan perpaduan hewan-hewan yang ada di benua Asia dan Australia, yang terdiri dari 32 jenis mamalia, 128 jenis burung dan 37 jenis reptilia. Selain itu, di kawasan ini terdapat 253 spesies karang pembentuk terumbu, yang menjadi tempat favorit bagi sekitar 1.000 spesies ikan. Keindahan terumbu karang di Taman Nasional Komodo banyak menarik minat wisatawan asing untuk berenang atau menyelam.

Menurut data terakhir pada bulan Agustus 2015, populasi Komodo di kawasan Taman Nasional Komodo sebanyak 5.971 ekor dengan populasi komodo jantan yang lebih besar dari komodo betina. Selain hewan eksotis Komodo, Taman Nasional Komodo juga memiliki hewan jenis burung yang termasuk langka yakni Kakatua Jambul Kuning dengan jumlah populasi 649 ekor.

Meninggalkan pameran berbentuk layar besar yang berisi enam Taman Nasional besar di Indonesia membuat pengunjung akan melayangkan pikiran betapa seorang pemimpin harus memiliki visi dan misi yang tepat dan terukur khususnya jika menyangkut masalah pelestarian alam serta konservasi.

Tidak semata hanya mempertimbangkan dari sisi ekonomi seperti percepatan pembangunan sektor pariwisata saja, akan tetapi harus mempertimbangkan beragam sisi lain seperti kearifan lokal masyarakat sekitar yang harus dipertahankan, perkembangan ilmu pengetahuan sampai kemungkinan perubahan alam maupun kebijakan pelestarian alam dunia untuk belasan maupun puluhan tahun kedepan. Sehingga seorang pemimpin memiliki gambaran akan seperti apa nanti sebuah kawasan konservasi itu kedepannya.

Kiri : Prasasti ditemukannya kerangka Badak Jawa; Kanan : Kerangka Badak Jawa yang diabadikan di Museum Manggala Wanabakti
Melalui Museum Manggala Wanabakti maka Pak Harto sudah meninggalkan warisan berharga mengenai konsep pelestarian dan konservasi alam Indonesia untuk belasan bahkan sampai puluhan tahun kedepan. Dan setelah bertransformasi menjadi Museum dan Perpustakaan Ir. Djamaludin Suryohadikusumo, maka para pelanjut tongkat estafet beliau diharapkan mampu menerjemahkan lebih dalam konsep tersebut agar suatu saat dapat menambah koleksi bersejarah sebagai buah mata sekaligus buah pikiran untuk dikembangkan oleh generasi selanjutnya.

Sebagai catatan, semua taman nasional yang digagas Pak Harto selalu menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO dan keberadaan taman nasional menjadi roda penggerak ekonomi kreatif sektor wisata bagi masyarakat sekitar dengan kearifan lokal yang dimiliki.
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: