SELASA 8 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Sejak Senin (7/11) hingga Selasa (8/11) Puskesmas rawat inap Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan melakukan Pengukuran Status Gizi (PSG). Kegiatan ini upaya pelayanan dan peningkatan kesehatan dengan menyasar anak di usia bawah lima tahun (Balita) dan ibu hamil (Bumil) dalam wilayah layanannya.

Kegiatan PSG.
Kegiatan PSG tersebut menurut bidan Ani Sukartinah, kepala bagian Gizi Puskesmas rawat inap Penengahan dilakukan dengan dua desa sasaran di Desa Kuripan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Sebanyak 10 balita dan bumil di setiap desa dilakukan pemeriksaan, pemantauan sesuai dengan metode standar dalam pengukuran status gizi untuk mendapatkan hasil tingkat gizi balita dan bumil yang diperiksa.

Ani Sukartinah mengaku selain melibatkan Puskesmas Rawat Inap Penengahan, proses pengukuran status gizi tersebut melibatkan beberapa petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Poltekes Tanjungkarang, Petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan, pengelola gizi Puskesmas Penengahan, bidan desa, kader Posyandu.

Beberapa hal yang dilihat untuk menilai status gizi balita dilakukan dengan penilaian secara tidak langsung melalui survei konsumsi makanan,statistik vital,faktor ekologi. Sementara penilaian tidak langsung dilakukan dengan metode antopometri,klinias, biokimia dan biofisik.

"Secara nyata pengukuran dilakukan dengan melakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan melakukan wawancara dengan sang ibu balita tentang konsumsi makanan yang diberikan kepada sang anak,"ungkap bidan Ani Sukartinah dalam keterangannya kepada Cendana News, Selasa (8/11/2016).

Ani Sukartinah.
Konsumsi makanan balita tersebut diukur dengan menggunakan alat ukuran rumah tangga (URT) seperti sendok, gelas, piring dan lain lain atau ukuran lainnya yang bisa dipergunakan untuk sehari hari. Setelah melakukan analisa terhadap bahan makanan yang dikonsumsi oleh balita maka petugas juga akan memberikan pemahaman dan cara cara memilih bahan makanan yang bergizi bagi anak balita. Petugas  menggunakan daftar komposisi bahan makanan (DKBM) dan membandingkan dengan daftar kecukupan gizi yang dianjurkan (DKGA) atau angka kecukupan gizi (AKG) untuk anak anak di Indonesia.

Ia mengakui selain menjadi sarana pengukuran gizi, kegiatan tersebut merupakan bentuk penyuluhan bagi kaum ibu yang memiliki anak balita untuk lebih memperhatian kecukupa gizi bagi anak. Berbagai sarana juga diberikan kepada kaum ibu diantaranya pembagian brosur tentang jenis jenis makanan bergizi yang dianjurkan untuk anak anak balita dan penggunaan bahan makanan yang merupakan sumber zat gizi penting bagi anak pada periode masa pertumbuhan yang dikenal dengan masa emas.

Selain bagi Balita, Ani mengungkapkan sasaran kegiatan PSG tersebut juga menyasar para ibu hamil yang ada di desa sasaran. Ia menerangkan status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentukvariable tertentu dan diharapkan masyarakat khususnya balita dan bumil memiliki kesehatan gizi optimum yang diperoleh dari keseimbangan makanan yang dikonsumsi. Kondisi gizi optimum diharapkan bisa membuat daya tahan tubuh yang baik sehingga memiliki daya kerja dan efesiensi yang sebaik baiknya.

Penilaian status gizi dilakukan untuk memantau kondisi tubuh balita dan ibu hamil dengan cara pengukuran fisik diantaranya indeks berat badan pertinggi badan (BB/TB), lingkar lengan atas (LILA). Selain itu pengukuran status gizi juga dilakukan menggunakan indeks massa tubuh (IMT) khusus untuk orang dewasa karena IMT merupakan alat sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.

Salah satu penilaian status gizi yang menyasar ibu hamil diantaranya karena calon ibu harus sehat dan fit untuk hamil. Cara yang dilakukan dengan melakukan pengukuran lingkar lengan atas ibu hamil untuk mengetahui status gizi ibu hamil karena ukuran LILA berkaitan erat dengan berat badan ibu selama hamil mulai trimester I sampai trimester III. Kelebihan jika dibandingkan dengan ukuran berat badan ukuran LILA lebih menggambarkan keadaan atau status gizi ibu hamil.

"Cara ini paling mudah karena seperti diketahui berat badan selama kehamilan merupakan berat badan komulatif antara pertambahan berat organ tubuh dan volume darah ibu serta berat janin yang dikandungnya. Selain itu metode pengukuran LILA lebih mudah dibandingkan dengan menggunakan timbangan,"ungkap Ani.

Tanpa mengabaikan faktor faktor kesehatan kehamilan lainnya, dengan mengetahui bahwa status gizinya baik, ibu hamil yang bersangkutan berpeluang besar untuk melahirkan bayi yang sehat dan normal. Jika kebetulan diketahui status gizi ibu hamil tidak baik dokter atau petugas kesehatan lainnya akan segera melakukan tindakan yang tepat untuk menanganinya.

Pengukuran LILA juga menurutnya dapat digunakan untuk deteksi dini dan mencegah resiko bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Berdasarkan standar di Indonesia standar yang digunakan diantaranya jika LILA ibu hamil kurang dari 23,5 centimeter status gizi ibu hamil dianggap kurang dengan kemungkinan mengalami KEK(Kurang Energi Kronis) atau anemia kronis dan beresiko tinggi melahirkan bayi BBLR. Sementara itu jika LILA sama atau lebih dari 23,5 centimeter berarti status gizi ibu hamil baik dan resiko melahirkan bayi BBLR lebih rendah.

Sampel dari hasil penilaian status gizi tersebut selanjutnya akan dikumpulkan di tingkat kabupaten hingga provinsi untuk mengetahui tingkat status gizi balita dan bumil di Lampung. Selain itu kegiatan tersebut menurut Ani semakin menyadarkan kepada masyarakat terutama yang memiliki anak bakita dan ibu hamil untuk lebih memperhatikan kesehatan semasa masa kehamilan dan memilih asupan gizi yang baik dari sumber sumber bahan makanan yang dianjurkan oleh bidan atau tenaga kesehatan.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: