SABTU, 5 NOVEMBER 2016

SOLO --- Pasar murah pupuk non subsidi yang digelar salah satu anggota DPR RI, di Klaten, Jawa Tengah, langsung diserbu ratusan petani. Pasar murah pupuk dengan mendatangkan langsung PT. Pusri Palembang, wilayah Jawa Tengah, menjadi upaya untuk meringankan beban petani sekaligus memberikan dorongan untuk terus menggalakkan profesi tani.


“Setidaknya dalam pasar murah ini kami sediakan seribu sak pupuk Pusri langsung dari produsennya. Pasar murah ini untuk meringankan petani yang bersamaan dengan musim tanam yang ketiga bagi lahan yang tersedia airnya,”  ucap Endang Srikarti kepada awak media disela-sela pelaksaaan Pasar Murah Pupuk, Sabtu siang (5/11/16).

Pasar murah pupuk  yang digelar di Kantor Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, sejak pagi sudah didatangi  ratusan petani dari wilayah sekitar. Dengan menyetorkan uang Rp 40 ribu, petani mendapatkan satu sak pupuk Pusri, seberat 50 kilogram. “Pupuk yang dijual di pasar murah ini adalah pupuk non subsidi.  Harga non subsidi di pasaran per saknya mencapai Rp 300 ribu, jadi sangat meringankan beban petani,” lanjut anggota Komisi VI DPR RI.


Lebih lanjut Ending menjelaskan, hasil penjualan pupuk non subsidi itu juga akan digunakan untuk kepentingan masyarakat. Sebab, program  pasar murah pupuk untuk petani ini merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Pusri Sriwijaya Palembang. “Hasil penjualan pupuk ini akan dikembalikan di tengah-tengah masyarakat. Yakni akan diwujudkan untuk membangun tempat peribadatan,” imbuhnya.

Digelarnya pasar murah pupuk tersebut selain meringankan beban petani, juga memberikan support kepada petani agar mencintai profesinya yang sangat penting bagi kelangsungan ketersediaan pangan nasional. Sebab, menurut Politisi Partai Golkar itu, saat ini profesi petani  sudah ditinggalkan, terutama kalangan anak muda.


“Nah, kita terus beri semangat agar anak muda mencintai tani, kembali lagi ke pertanian. Tidak hanya pasar  murah pupuk, bantuan benih hingga jaminan penghasilan petani yang menjanjikan terus kita upayakan agar profesi tani dapat digemari generasi muda,” tandasnya.

Bagi petani, pasar murah pupuk yang digelar tersebut sangat membantu meringankan beban yang harus ditanggung. Sebab,  petani yang biasa membeli pupuk bersubsi dengan jenis yang sama harus mengeluarkan uang hingga Rp 100 ribu. “Ini murah sekali. Harapannya pemerintah  lebih sering turun ke patani agar tau kondisi petani sebenarnya,” kata Sujdadi  salah satu petani asal Desa Ponggok.


Melalui pasar murah pupuk tersebut, petani berusia 80 tahun itu sangat berharap peran serta pemerintah dan wakil rakyat untuk terus memperhatikan sector pertanian. Sebab, petani saat ini kondisinya sangat sulit, disamping dihimpit persoalan ekonomi, lahan petani juga terancam dengan para pemilik modal.

Jurnalis : Harun Alrosid / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Harun Alrosid
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: