SABTU, 26 NOVEMBER 2016
LAMPUNG---Harga ikan di sejumlah pasar tradisional dan para penjual ikan di sepanjang Jalan Lama Rawi serta pedagang keliling mengalami kenaikan secara perlahan, lantaran pasokan jenis ikan bandeng, tongkol dan bawal. Salah satu penjual ikan di seputaran pasar Belambangan, Nurlela (26) mengungkapkan kenaikan harga ikan tersebut disebabkan pasokan yang terlambat dari agen sehingga mengakibatkan berkurangnya jumlah stok ikan yang dijualnya. Harga ikan bandeng menurutnya saat ini mencapai Rp 30 ribu per kilogram (kg) dari harga biasanya yang hanya Rp25 ribu per kg. Sementara harga ikan tongkol Rp 25 ribu per kg dari sebelumnya Rp 20 ribu per kg.

Nurlela dan Yuni di lapak penjualan ikan.
Nurlela mengungkapkan, jenis-jenis ikan laut lainnya juga mengalami kenaikan di antaranya ikan tengkurungan semula seharga Rp 13 ribu naik menjadi Rp 17 ribu, ikan Simba dari semula Rp 32 ribu menjadi Rp 34 ribu, ikan Selar dari semula Rp 17 ribu menjadi Rp 21 ribu. Selain beberapa jenis ikan laut, beberapa jenis ikan air tawar juga mengalami kenaikan di antaranya harga ikan bawal semula Rp 13 ribu naik menjadi Rp 17 ribu. Ikan lele dari semula harga Rp 15 ribu naik menjadi Rp 18 ribu.

"Selain faktor pasokan berkurang, pengaruh angin yang dialami para nelayan dalam mencari ikan di laut juga mempengaruhi sehingga kami menerima harga dari agen sudah naik untuk mengantisipasi kerugian maka kami terpaksa ikut menaikkan harga," ujar Nurlela saat ditemui Cendana News di lapak yang dimilikinya, Sabtu pagi (26/1/2016).

Penjual ikan menimba ikan Simba sebelum dibeli.
Ia juga menerangkan kenaikan harga ikan juga dipengaruhi faktor terang bulan yang berakibat berkurangnya hasil tangkapan ikan. Nurlela yang bersama sang suami mengambil ikan dari tengkulak atau agen di tempat pelelangan ikan (TPI) Bom Kalianda dan TPI Ketapang bahkan mengungkapkan, jika pada hari normal dirinya bisa menyiapkan ikan sebanyak 1 kuintal. Dalam 1 fiber bisa dijual selama tiga hari namun saat ini ia sulit mendapat pasokan ikan. Dalam beberapa pekan ini ia bahkan hanya bisa menyiapkan sekitar setengah kuintal ikan berbagai jenis untuk dijual kepada konsumen.

Sementara, khusus untuk ikan air tawar jenis lele, gurame dan ikan bawal yang didatangkan dari Cianjur Jawa Barat, Nurlela mengakui mengalami keterlambatan pasokan. Pasokan yang bisa dipenuhi sebanyak setengah fiber dalam jangka tiga hari sekali, kini justru dipenuhi dalam jangka sepekan akibat kekurangan stok ikan air tawar. Meski demikian, ia memilih menjual ikan lokal untuk tetap bisa dijual di lapak yang dimilikinya. Meski jenis ikan yang dijualnya tidak banyak.

Yuni melayani pembeli ikan sebelum berkeliling menjajakannya ke lain tempat.
Kurangnya pasokan ikan berbagai jenis, baik ikan air laut dan ikan air tawar, berpengaruh terhadap semua jenis ikan yang mengalami kenaikan. Apalagi harga dari tengkulak juga naik otomatis. Harga di pasaran pun ikut naik dan ia mencatat berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, kenaikan harga ikan ini akan bertahan hingga menjelang akhir tahun sebab permintaan akan ikan semakin tinggi.

"Kalau melihat pengalaman jelang tahun baru, pasti mengalami kenaikan apalagi tradisi masyarakat di sini ada kegiatan bancakan atau bakar ikan bersama. Otomatis permintaan akan ikan tinggi dan harga akan kembali turun setelah tahun baru," terang Nurlela yang sudah berjualan ikan selama hampir empat tahun.

Ia mengakui, naik turunnya harga ikan tersebut mengikuti kondisi pasar, sebab ia mengakui keuntungan menjual ikan yang dilakukannya hanya kisaran Rp 3 ribu per kilogramnya. Karena dari tengkulak diberi harga dasar yang sudah tinggi.

Meski harga ikan cukup tinggi, namun permintaan masyarakat akan ikan air tawar dan ikan air laut diakui Nurlela cukup tinggi. Sebagian masyarakat bahkan lebih memilih membeli ikan air laut dan ikan air tawar dibandingkan membeli daging untuk lauk pauk karena harga yang lebih murah dibandingkan daging.

Permintaan yang masih tinggi tersebut membuat sang adik, Yuni (23), juga memilih berjualan ikan dengan cara berkeliling menggunakan keranjang dan ember. Ikan yang dijual dengan cara berkeliling dijual dengan harga sama dengan di lapak namun dengan penjualan sistem keliling dirinya bisa menjangkau rumah-rumah warga yang ada di pelosok.

"Sebagian warga lain kan ada yang malas ke pasar maka kita lakukan penjualan dengan sistem keliling di perumahan, bawa satu ember dan satu keranjang sebanyak 50 bungkus plastik, selalu habis," ungkap Yuni.

Faktor kenaikan harga ikan di Lampung Selatan menurut salah satu pengepul ikan di TPI Ketapang, Sobri (45), karena sebagian besar ikan dengan kualitas bagus sengaja dikirim ke luar Pulau Sumatera. Ia menyebut sekitar 5 ton ikan berbagai jenis terutama jenis tongkol dan cumi dari nelayan di wilayah tersebut banyak dikirim ke Jakarta, Tangerang, dan Serang. Sementara ikan-ikan jenis lain yang ukurannya lebih kecil dijual di pasaran lokal sehingga pasokan ikan di sejumlah pasar lokal sebagian justru dipenuhi dari wilayah lain.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: