Pasukan Adat Kawasaran, Semangat Kekuatan dan Persahabatan

45
SELASA, 22 NOVEMBER 2016

JAKARTA — Peluncuran Kalender Wisata Manado 2017 di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata RI, Jakarta dihisasi dengan penyambutan oleh Pasukan adat khas Minahasa (Sulawesi Utara) berjuluk Pasukan Kawasaran. Mereka menyambut kedatangan Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya beserta Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey dan Walikota Manado, Vicky Lumentut.
Teriakan sebagai sambutan hangat khas Pasukan Adat Kawasaran dalam Tari Perang
Bagi masyarakat Sulawesi Utara, ada simbolisasi kebersamaan melalui sebuah patung tinggi bernama Siow Waliana. Berbentuk tumpukan manusia yang saling mendukung satu sama lain di atas pundak, diakhiri replika burung manguni (unggas khas Sulawesi Utara) berdiri tegak di puncaknya.
Patung tersebut juga memaparkan arti mengenai sikap hidup masyarakat Minahasa yang suka tolong menolong. Sesuai dengan motto yang berbunyi: ” Si Tou Timou Tumou Tou ” yang berarti: Manusia hidup untuk menghidupi, mendidik serta menjadi berkat (saluran pertolongan) bagi orang lain.
Semangat inilah yang melekat pada Pasukan Adat Kawasaran. Pasukan adat ini pula yang kerap muncul untuk melakukan Tari Perang khas Minahasa atau Sulawesi Utara. Menggunakan pakaian adat Kawasaran serba merah dengan tutup kepala berupa paruh dan bulu burung manguni menambah kental nuansa kearifan lokal Pasukan Adat Kawasaran.
Pada zaman dahulu kala, sebelum masuknya kolonial Belanda ke Indonesia, Pasukan Adat Kawasaran merupakan pelindung dari masing-masing kumpulan masyarakat adat yang menyebar di Minahasa. Pusat komando mereka langsung dari ketua adat yang juga memimpin kumpulan pemuka adat (Waliana) setempat.
Unsur magis juga ikut menyertai kehadiran Pasukan Adat Kawasara, karena dalam setiap gerakan mereka kerap dipimpin oleh seorang pemuka atau tetua adat yang terus membacakan doa atau mantra sambil membakar wewangian khas rempah-rempah yang ada di Sulawesi Utara seperti cengkeh dan buah pala.
” Kami di Minahasa sejak dahulu tidak diperintah raja, sehingga tetua adat merupakan pimpinan tertinggi. Dan untuk pergerakan kami di berperang atau mengawal pemuka adat maka kami dipimpin oleh seorang Panglima yang disebut Tonaas,” jelas Yopie Lumanau salah satu pemeran Pasukan Adat Kawasaran kepada Cendana News.
Kiri: Brury Nangoy memegang Santi (kiri – Panglima Pasukan Kawasaran) dan Yopie Lumanau memegang Bengkou (kanan – Pasukan Kawasaran).; Kanan: Keluarga PNS Kemenpar RI berpose dengan Anggota Pasukan Adat Kawasaran
Untuk melengkapi seni budaya khas Minahasa berupa Tari Perang, Pasukan Adat Kawasaran diiringi dengan alat musik pukul khas Sulawesi Utara bernama Tambur.
” Lalu untuk senjata kami dilengkapi dengan senjata asli khas Minahasa seperti Bengkou (sejenis tombak) dan Santi (sejenis golok panjang atau orang Manado menyebutnya; Peda),” tambah Brury Nangoy yang memerankan Panglima Pasukan Adat Kawasaran.
Untuk penampilan Tari Perang dilakukan oleh 20 orang Pasukan Adat Kawasaran (sudah termasuk panglimanya). Namun jika memang tarian membutuhkan prosesi adat berupa kearifan lokal (unsur magis) maka akan ikut serta seorang Walian atau tetua adat. Tari Perang ini biasa dilakukan untuk menyambut tamu agung atau tamu penting yang berkunjung ke Sulawesi Utara.
Ciri khas dari Pasukan Adat Kawasaran maupun Tari Perang adalah teriakan-teriakan penyambutan sambil menghunus Santi dan Bengkou dengan tatapan atau sorot mata tajam ke depan.
Kiri atas: Prosesi pengawalan tamu agung; Kanan atas/Kiri bawah: Tari Perang dihadapan tamu; Kanan bawah: Meletakkan senjata sebagai tanda persahabatan dan persaudaraan
Begitu kaya bangsa Indonesia akan seni budaya serta kearifan lokal masyarakatnya. Dan walau sudah melewati beberapa abad namun Pasukan Adat Kawasaran tetap lestari sebagai perekat sekaligus pelindung tegaknya adat-budaya atau kearifan lokal masyarakat Sulawesi Utara.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Komentar