SELASA, 15 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Perihal kebijakan impor cangkul yang beberapa bulan lalu menimbulkan polemik sehingga dihentikan, ternyata hingga kini masih meninggalkan luka yang teramat dalam bagi para pedagang alat pertanian dan bangunan seperti cangkul, betel, pisau bajak dan sejenisnya di Sleman.


Meski sudah dihentikan, kebijakan impor cangkul dari China yang sempat dilakukan oleh Pemerintah RI hingga kini masih dirasa menyakitkan bagi para pedagang alat pertanian di wilayah Sleman. Salah satunya, Wajiono alias Wajek (46), pedagang alat tani dan bangunan di Jalan Kaliurang Kilometer 8, Dusun Prujakan, Sinduadi, Ngaglik, Sleman.

Ditemui di tokonya, Selasa (15/11/2016), Wajek dengan nada tinggi mengaku masih sangat kecewa dan marah dengan kebijakan impor cangkul itu. Meski sudah dihentikan, namun menurut Wajek hal itu menunjukkan Pemerintah tidak memikirkan nasib rakyatnya.


"Kita ini mau dijajah pakai apa lagi? Apa-apa impor, dan cangkul saja yang kita bisa bikin dan bahannya banyak tersedia kok malah impor", ujarnya.

Wajek juga mengaku tak mengerti dengan alasan impor cangkul yang disebutnya karena kebutuhan banyak dan sifatnya mendadak. Pasalnya, kata Wajek, dari pengalamannya berdagang cangkul sejak sebelum tahun 1960-an, para pengrajin atau pande besi tidak pernah berhenti berproduksi. 

Kendati memang tidak ada pabrik besar, namun produksi cangkul dalam negeri selama ini mampu mencukupi kebutuhan para petani di Indonesia. Dikatakan Wajek, pada zaman Presiden Soeharto, kebutuhan cangkul dan alat pertanian lainnya sangat besar karena adanya program transmigrasi dan swasembada pangan.


"Tapi dari jumlah kebutuhan cangkul yang diperlukan di zaman Pak Harto itu, tidak pernah ada impor cangkul. Sekarang dengan jumlah pertanian yang menyusut kok malah impor cangkul", tegas Wajek.

Tak berlebihan, jika sekiranya pedagang alat tani seperti Wajek sangat terluka dan marah dengan kebijakan impor cangkul. Pasalnya, sebagai pedagang cangkul yang sudah turun-temurun hingga tiga generasi, Wajek mengaku sangat mengetahui kemampuan para pande besi.
Namun demikian, kata Wajek, kebijakan impor cangkul yang sempat dilakukan itu memang belum berdampak kepada menurunnya omset penjualan cangkulnya. Menurutnya, omset penjualan alat pertaniannya memang sudah menurun sejak Presiden Soeharto lengser.


"Makanya, saya selalu bilang lebih enak zaman Pak Harto. Bukan apa-apa, tapi karena rakyat pada di zaman Pak Harto itu bisa ikut merasakan pembangunan", pungkasnya.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: