SENIN 21 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Sejumlah pedagang di Kota Bandarlampung mulai merasakan kelesuan penjualan makanan tradisional sebagai oleh-oleh khas wilayah Lampung saat berkunjung dan melintasi wilayah tersebut. Sejumlah pedagang yang memiliki toko permanen, toko semi permanen yang melakukan penjualan di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Kota Panjang Bandarlampung bahkan mengakui volume penjualan berbagai macam oleh oleh asal Lampung mengalami kelesuan sejak bulan Agustus lalu.

Salah satu lokasi tempat penjualan oleh-oleh di Jalinsum, Lampung.


Kondisi tersebut menurut salah satu pedagang di toko oleh oleh Keripik Lampung, Yati (34) terjadi akibat aktivitas masyarakat dari luar Pulau Sumatera yang menuju Lampung sedikit menurun dibanding bulan bulan sebelumnya. Jika ada sebagian besar merupakan wisatawan yang selesai berkunjung ke sejumlah tempat wisata pantai di Lampung di Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Tanggamus dan mampir membeli oleh-oleh di toko yang berada di jalan nasional tersebut.

Yati bahkan membandingkan volume penjualan dibandingkan bulan Juli tahun ini bisa tercapai selama dua bulan karena berkurangnya pembeli oleh-oleh yang mampir di toko miliknya. Perbandingan tersebut menurut penjual berbagai jenis oleh-oleh makanan tradisional khas Lampung di antaranya keripik pisang, kerupuk kemplang,keripik ketela, keripik nangka serta berbagai kerajinan tradisional karena pada Juli volume pemudik yang pulang ke Pulau Sumatera cukup tinggi dan saat kembali ke Pulau Jawa sebagian besar membeli oleh oleh.

Sepanjang bulan Juli Yati menjual sekitar 1000 bungkus ukuran kecil untuk jenis kerupuk kemplang, kerupuk ikan, keripik berbagai jenis. Sementara penjualan dengan volume sebanyak tersebut bisa diperoleh selama sebulan pada masa masa normal akibat berkurangnya jumlah pembeli.

"Kita selalu memantau kalender diantaranya tanggal merah atau liburan panjang yang imbasnya banyak masyarakat pekerja di Pulau Jawa di sektor industri di Banten, Jakarta warga Lampung pulang kampung apalagi lebaran dan saat pulang selalu membeli oleh oleh, tapi saat hari biasa jumlahnya menurun,"ungkap Yati saat ditemui Cendana News di pusat penjualan oleh oleh khas Lampung di Jalan Lintas Sumatera, Panjang Bandarlampung, Senin (21/11/2016).

Penurunan tersebut menurut Yati juga merupakan hal yang wajar karena bisnis penjualan oleh oleh memiliki masanya sendiri dan tergantung oleh strategi pemasaran yang dilakukan oleh pemilik toko. Yati yang sudah menekuni bisnis penjualan oleh oleh tersebut mengaku tidak sepenuhnya memproduksi makanan tradisional tersebut melainkan sebagian merupakan "titipan" produsen oleh oleh yang ada di sekitar wilayah Lampung yang sebagian merupakan pengrajin usaha mikro kecil menengah (UMKM). Sistem titip dengan pembayaran dilakukan berdasarkan jumlah barang yang terjual merupakan mata rantai ekonomi kerakyatan yang dipertahankan oleh para penjual untuk bisa menghidupkan perekonomian di wilayah tersebut.

Strategi lain yang dilakukan oleh Yati dan sebagian pedagang oleh oleh lain, yaitu  bekerjasama dengan sejumlah pemilik jasa travel kendaraan jurusan berbagai kota di Lampung tujuan Pelabuhan Bakauheni. Kerjasama yang dimaksud diantaranya menjadikan toko oleh oleh yang mereka kelola sebagai tempat perhentian sekaligus istirahat yang akan menarik penumpang untuk membeli oleh oleh untuk kerabat, keluarga serta kenalan saat akan kembali dari Lampung menuju Pulau Jawa. Sistem komisi berdasarkan penjualan akan diberikan bagi pengemudi yang telah bekerjasama tersebut yang imbasnya akan meningkatkan volume penjualan meski pada hari biasa.

Strategi lain yang digunakan oleh Yati di antaranya melakukan promosi dengan sistem blogwalking, sistem tersebut ungkapnya dengan meninggalkan jejak alamat pada blog-blog perjalanan di wilayah Lampung terutama destinasi wisata yang ada di Lampung terutama blog yang sering dishare ke jejaring sosial lain. Promosi tersebut ungkap Yati terbukti efektif karena selain meninggalkan alamat, nomor telepon serta itenari perjalanan untuk menuju lokasi toko miliknya akan semakin memperkenalkan toko yang dikelolanya melalui media sosial. Hal tersebut ditambah dan diperkuat oleh peran sang anak yang masih kuliah dengan menggunakan jejaring sosial Twitter, Facebook, Instagram untuk memperkenalkan toko yang dimilikinya.

"Kalau strategi pemasaran konvensional dengan hanya duduk di depan toko menawarkan kepada pengendara yang lewat mungkin sudah ketinggalan zaman maka perlu strategi jitu untuk meningkatkan volume penjualan ya dengan cara cara seperti penggunaan media sosial,"ungkap Yati.

Selain itu ia juga tak segan memberikan potongan harga (diskon) bagi pembeli yang pertama kali berkunjung ke toko yang dikelolanya karena baginya pengunjung harus diberi kesan terbaik saat berkunjung perdana. Kesan yang nyaman, sapaan personal, senyum dan bahkan dengan memberikan kartu nama sekaligus memberikan diskon khusus meurupakan trik untuk mengatasi menurunnya volume penjualan dan lesunya bisnis oleh oleh yang sedang dikeluhkan oleh para penjual. Ia mengaku langkah langkah tersebut setidaknya bisa mempertahankan angka volume penjualan dikisaran 500-700 bungkus perbulan untuk oleh oleh. Sementara penjualan lain dalam bentuk makanan ringan, makanan ringan pun tetap berjalan seperti biasa.

Oleh-oleh khas Lampung diantaranya kemplang, keripik pisang dan berbagai makanan tradisional lain dibanderol dengan harga sekitar Rp5.000 hingga Rp40.000 perbungkus tergantung jumlah,rasa serta kemasan. Kemasan yang menarik dengan rasa yang nikmat bahkan bisa dihargai Rp40.000 perbungkus dan dengan sistem kiloan. Strategi memberi diskon dan menambah jumlah bungkus oleh oleh diterapkan dengan tujuan saat kembali ke Lampung maka pembeli akan kembali membeli di toko tersebut.

Selain strategi personal branding oleh setiap toko, selain Yati, pedagang oleh-oleh lain di wilayah Panjang, Sonia (40) juga mengaku peran pemerintah kota Bandarlampung dalam menyokong para pedagang kecil tersebut sekaligus tanggung jawab sosial perusahaan di sekitar lokasi dengan cara membuatkan loss, toko lebih pantas membuat toko toko oleh-oleh yang semula terkesan semrawut kini lebih tertata. Penataan lokasi penjualan bahkan dibantu oleh beberapa perusahaan tertentu dengan sistem menitipkan iklan produk tertentu untuk semakin mempercantik tampilan toko dan menarik pengunjung untuk mampir. Sonia mengaku dirinya memiliki kekhasan dalam menjual produk kopi kemasan khas Lampung diantaranya kopi Lampung dan kopi WC.

"Kopi bubuk umumnya dibeli oleh pengendara yang akan pulang ke Jawa sebagai oleh oleh khas dari Lampung dan itu yang selalu ditanyakan kerabat di Jawa sehingga kami menyiapkan stok baik kopi kemasan maupun kopi yang dibeli dengan sistem kiloan,"ungkap Sonia.

Tutur Sonia selain menjual kopi bubuk hasil olahan sendiri juga memasok ke sejumlah toko kopi yang ada di Lampung. Toko toko lain yang sering mendapat pesanan menerapkan sistem subsidi silang diantaranya dengan meminta kepadanya stok lebih banyak dan akan terjadi hubungan timbal balik yang menguntungkan karena ia mengakui sejumlah toko lain telah memiliki branding yang lebih dikenal meskipun sebetulnya produk yang dijual sama sehingga sistem menjual kopi akan semakin menguntungkan.

Salah satu toko yang menjual oleh-oleh makanan di Lampung Selatan.


Ia mengakui volume penjualan oleh oleh berupa kopi bubuk pada masa normal ini mengalami penurunan sebesar 20 persen dibandingkan bulan Juli tahun ini. Ia bahkan mengaku dalam sebulan bisa menjual sekitar 100 kilogram kopi berbagai ukuran dengan harga Rp40.000 perkilogram sementara pada masa ramai dirinya bisa menjual sekitar 300 kilogram kopi bubuk berikut dengan oleh oleh lainnya. Harga yang diterapkan juga menurut Sonia khusus untuk oleh oleh kopi tergantung faktor cuaca dan keancaran pasokan biji kopi di wilayah Lampung. Sebab pada musim tertentu jumlah biji kopi hasil dari petani cukup melimpah dan terkadang kekurangan stok.

Volume penjualan kopi bubuk, oleh oleh jenis lain mengalami kelesuan dengan volume penjualan mengalami penurunan sekitar 20 persen namun Sonia optimis penjualan akan menggeliat di akhir tahun dan awal tahun 2017. Ia bahkan melihat kalender diantaranya momen liburan Natal, akhir tahun dan awal tahun 2017 merupakan saat yang ditunggu dengan harapan volume penjualan oleh oleh akan semakin meningkat. Selain menunggu dan menerapkan strategi penjualan yang kerap diterapkan penjual diantaranya memberi diskon, bonus serta strategi lain, Sonia juga mengaku kerap mengikuti pameran pembanguan untuk menjual oleh oleh kopi khas Lampung.

"Keberadaan toko kopi menjadi eksistensi fisik kami namun di dunia maya kami juga melakukan penjualan juga dengan tetap menjual kopi bubuk tradisional dan terkadang ikut pameran pembangunan,"terang Sonia.

Sonia  berharap pameran pembangunan yang dilakukan oleh beberapa pemerintah daerah diantaranya yang akan digelar di Kabupaten Lampung Selatan mulai 23 November mendatang juga bisa menggandeng pengrajin dan penjual kopi. Selain menjadi produk unggulan di Lampung kopi Lampung juga sudah cukup dikenal luas sehingga akan memberi keuntungan bagi penjual oleh oleh seperti dirinya dan penjual lain.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: