SENIN 7 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Budidaya padi organik yang dikembangkan petani di wilayah Kabupaten Lampung Selatan khususnya di Kecamatan Penengahan memiliki potensi cukup menjanjikan. Dengan dukungan infrastruktur penunjang  seperti sarana irigasi dari Gunung Rajabasa yang cukup lancar. 

Ilustrasi petani di Desa Pasuruan.
Salah satu petani pembudidaya padi organik selama beberapa tahun terakhir di antaranya Wagiyo (56) yang memiliki luas tanam padi organik jenis Ciherang seluas satu hektar di Desa Pasuruan. Produktifitas padi organik petani yang tergabung dalam kelompok tani Minang Jaya menurutnya cukup menjanjikan. Hasilnya  sebanyak 2 ton per hektar meski pemeliharaaan padi jenis organik miliknya tanpa menggunakan penanganan pupuk kimia dan obat obatan kimia.

Selama hampir beberapa tahun melakukan penanaman padi organik, Wagiyo mengaku masih melakukan sistem pemasaran berdasarkan pesanan dari beberapa pembeli di Jakarta meski belum memasok ke sejumlah toko waralaba atau sejumlah pasar. Selain sistem pemasaran masih berdasarkan pesanan padi organik yang telah diolah menjadi beras organik yang dihasilkan oleh kelompok tani Minang Jaya, dirinya mengaku belum ada upaya pemerintah untuk pengembangan lebih lanjut terkait beras organik yang dihasilkan terutama dalam hal pemasaran.

“Proses penanaman padi organik yang kami lakukan mendapat pelatihan dari penyuluh pertanian namun terkait pemasaran masih cukup bingung karena harga beras organik berbeda dengan beras biasa,”ungkap pembudidaya padi organik kelompok tani Minang Jaya Wagiyo saat ditemui Cendana News di lahan sawah miliknya yang sedang panen Senin (7/11/2016).

Pada masa panen sebelumnya Wagiyo mengaku mendapat hasil sebanyak dua ton gabah kering dan saat digiling menjadi beras organik menghasilkan sekitar 1,9 ton. Hasil beras tersebut selanjutnya dibeli oleh pengepul beras dari Jakarta dengan harga Rp13.900. Beras itu selanjutnya dipacking di Jakarta untuk dipasarkan di sejumlah pasar yang menjual
beras organik. 

Meski menghasilkan padi organik sebanyak dua ton sebelumnya namun pada masa panen bulan November ia mengaku mengalami penurunan produksi akibat kondisi alam serangan hama burung sehingga diperkirakan pada masa musim panen hanya  mendapatkan panen sebesar 1,5 ton.

Perhitungan tersebut ungkapnya belum dipotong dengan upah tenaga kerja yang dilakukan dengan sistem bagi hasil melalui cara ceblok. Cara ceblok dilakukan dengan membagi hasil panen 1:4 dimana pemanen memperoleh sebanyak satu karung untuk lima karung yang diperoleh.

Sulitnya pemasaran beras organik menurut Wagiyo dipengaruhi faktor daya saing beras organik masih memiliki harga relatif tinggi sementara beras di pasaran lebih murah. Beras kualitas biasa hingga kualitas super dijual dengan kisaran harga Rp8.000-Rp10.000 perkilogram sementara harga beras organik bisa mencapai Rp15.000 perkilogram di pasaran.

Upaya yang belum maksimal dalam pemasaran beras organik dan belum adanya bantuan dari pemerintah daerah membuat Wagiyo berniat membudidayakan beras merah. Selain sudah mendapat investor dari luat daerah dan pangsa pasar menjanjikan ia mengaku kepastian pemasok untuk menerima distribusi beras merah sudah dijajaki.

"Kalau soal harga tentunya bersaing namun sebagai petani kami butuh kepastian dalam pemasaran produksi padi kami,"ungkap Wagiyo.

Selain dikonsumsi untuk berbagai keperluan ia mengaku beras merah banyak dicari para penderita penyakit tertentu yang tidak mengkonsumsi beras putih. Pangsa pasar juga sudah dijajaki dengan bekerjasama melalui sejumlah rumah sakit dan balai pengobatan yang menggunakan beras merah untuk pangan alternatif. Meski demikian ia mengaku masih terus menanam beras organik di lahan miliknya bersama beberapa kelompok tani yang ada di Desa Kelau.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: