MINGGU, 13 NOVEMBER 2016

BANDUNG --- Dewasa ini cukup banyak jenis pisau, sebut saja pisau tempur, pisau bertahan hidup alias survival, pisau berburu hingga pisau dapur. Di Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ada pengrajin pisau rumahan yang produknya mampu bersaing di pasar luar negeri. 


Sudah tiga tahun ini Iim Suhendi (43) mendirikan bengkel pisau bernama Knozh-The Turtle di Jalan Cihanjuang, Desa Cihanjuang Rahayu, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Walaupun hanya mengandalkan alat seadanya dan pengerjaan manual, produk Iim boleh diadu dengan pisau dari pabrikan besar.

"Sebelumnya saya pernah bekerja di pabrik pisau selama belasan tahun di Kota Bandung. Untuk pisau saya ini dibuat dengan cara manual," ujar Iim.

Dari pengalamannya bekerja di pabrik pisau itu Iim jadi mengetahui cara membuat pisau yang berkualitas. Termasuk pula dalam pemilihan material, dimana memilih baja jenis D2 untuk bahan setiap produknya. Sebab memiliki kekerasan tinggi sehingga mudah tajam dan susah tumpul.

Tak hanya itu, pisau karya Iim pun sudah melewati pemanasan yang baik dalam proses Heat treatmen (HT). Yaitu dioven dalam suhu 250 derajat selama satu jam.

"Awal memasarkan saya coba mendesain sendiri lalu fotonya saya simpan di media sosial facebook, ternyata tanggapan dari orang-orang bagus, jadi keterusan produksi," ungkapnya.

Untuk pasar dalam negeri, pisau garapan Iim sudah merambah dari mulai Pulau Sumatera hingga Papua. Sementara pemesan dari luar Indonesia pun cukup banyak, seperti dari Malaysia, Singapura, Jepang, Jerman, Kanada dan Austria.

Soal harga, pisaunya diberikan banderol Rp.450 ribu hingga Rp 4,5 juta. Dikatakan, pembelinya mayoritas dari komunitas dan kolektor pisau.

"Pengerjaan untuk satu pisau antara dua hari sampai satu pekan, tergantung tingkat kesulitan," ucapnya.


Sejauh ini penjualan pisaunya mengandalkan media sosial Facebook di akun Kang Iim. Atau bisa langsung mendatangi bengkel pisaunya di Jalan Cihanjuang, Gang Perumahan Artabahana No 1 Cibaligo, Kabupaten Bandung Barat (KBB). 
Jurnalis : Rianto Nudiansyah / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Rianto Nudiansyah
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: