JUMAT 18 NOVEMBER 2016
 
BALIKPAPAN --- Dinas Kesehatan Kota Balikpapan mencatat penderita gizi buruk di kota minyak ini dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Berdasarkan data DKK tercatat sebanyak 14 kasus sepanjang 2016.

Salah satu penderita gizi buruk di Balikpapan


Menurut Kepala Bidang Bina Kesehatan masyarakat DKK Balikpapan Sri Juliarty, jumlah penderita gizi buruk itu tiga tahun terakhir meningkat. Pada 2014 tercatat sebanyak 8 orang penderita dan  2015 sebanyak 10 orang menderita gizi buruk.

"Dari penderita gizi buruk itu semua sudah tertangani 100%, dan mereka yang terkena adalah mayoritas warga luar Balikpapan atau urban ke Balikpapan," jelasnya Jumat, (18/11/2016).

Sri menjelaskan penderita gizi buruk ini bukan karena kemiskinan, namun karena banyak faktor yang menyebabkan balita kena penyakit gizi buruk seperti, kesalahan pola asuh, kondisi lingkungan tidak sehat dan lain sebagainya.

"Kalau sering sakit, misalnya batuk flu sampai panas tinggi, secara otomatis berat tubuh anak akan menyusut. Nah, itu sebabnya gizi buruk serta ada juga disebabkan faktor keturunan (gen)," sambungnya.

Adapun penanganannya tentu tidak mudah karena sangat berpengaruh pada pemahaman orangtua, tingkat sosial ekonomi keluarga itu sendiri. Namun  di Balikpapan lanjut Sri, kasus penderita gizi buruk di Balikpapan  tidak ada gizi buruk murni. Artinya, tidak disebabkan kelaparan berkepanjangan atau karena faktor kemiskinan. Melainkan kebanyakan disebabkan kesalahan dari orang tua yang tidak memberi makan anak secara teratur.

"Asupan gizi terhadap anak tidak diperhatikan dan ada kesalahan pola asuh sehingga berat badan berkurang," ucapnya.

Selain itu, DKK melalui kadernya termasuk peran puskesmas, posyadu terus menerus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengatasi gizi buruk.

"Pada dasarnya masyarakat masih banyak yang kurang paham pentingnya kekebalan tubuh bagi anak. Misalnya memberi makan pada anak tidak teratur. Nah, dengan begitu kekebalan anak akan berkurang, penyakit akan mudah datang," tukasnya.

Sri menambahkan pada penderita gizi buruk setiap tiga bulan sekali dipantau asupan gizinya dan akan terus terpantau oleh pemerintah termasuk pemberian makanan tambahan.

Jurnalis: Ferry Cahyanti/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Ferry Cahyanti
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: